|
KODE.105. DKK
12
|
Mengendalikan Hama Pada Tanaman Belum Menghasilkan
(TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM)
|
|||
|
Kompetensi
dasar:
|
Mengidentifikasi
metode pengendalian hama
|
|||
|
Tujuan:
|
Setelah mengikuti
pembelajaran ini siswa diharapkan mampu mmembuat alat perangkap hama
sederhana sesuai metode/cara pengendalian hama berdasarkan potensi yang ada
|
|||
Dasar teori:
Metode pengendalian hama menurut konsep PHT adalah
memadukan semua metode pengendalian hama sedemikian rupa, termasuk didalamnya
pengendalian secara fisik, pengendalian mekanik, pengendalian secara bercocok
tanam (kultur teknis), pengendalian secara biologi atau hayati dan
pengendalian kimiawi sebagai alternatif terakhir, untuk menurunkan dan
mempertahankan populasi organisme pengganggu di bawah batas Ambang Ekonomi,
menstabilkan produksi dan menjaga keseimbangan ekosistem. Secara umum, berbagai metode pengendalian hama dapat diuraikan
sebagai berikut:
1) Pengendalian secara
bercocok tanam (kultur teknis)
2) Pengendalian secara
Fisik dan Mekanik
3) Pengendalian Hayati
atau Biologi
4) Pengendalian Kimiawi
Ada berbagai faktor yang harus dipertimbangkan dulu
sebelum memilih dan menentukan metode pengendalian hama yang tepat. Adapun proses pemilihan
dan penentuan metode pengendalian hama,
yaitu:
1) Identifikasi hama
yaitu meneliti dengan
seksama spesies hama dan gejala kerusakannya yang terlihat di lapangan.
2) Gunakan teknik
pengambilan sampel untuk menghitung populasi hama dan tingkat kerusakannya, apakah masih
di bawah Ambang Ekonomi atau sudah melebihi batas Ambang Ekonomi.
3) Sebelum menggunakan
pestisida, pertimbangkan cara pengendalian lain. Lakukan pengendalian dengan
cara non kimia dulu, bisa dengan cara fisik atau mekanik/ dengan cara
bercocok tanam/dengan menggunakan musuh alami selama dapat menurunkan
populasi hama
di bawah batas Ambang Ekonomi. Pestisida digunakan sebagai alternatif
terakhir terakhir, yaitu hanya bila cara pengendalian lainnya tidak dapat
menurunkan atau mempertahankan populasi hama
di bawah batas Ambang Ekonomi.
4) Jika harus menggunakan
pestisida, pilihlah pestisida yang efektif terhadap sasaran hama, tidak
mengakibatkan kerusakan pada tanaman, tidak mengakibatkan kematian terhadap
musuh alami, tidak membahayakan manusia, ternak dan ikan, selain itu
formulasinya harus tepat untuk peralatan yang akan digunakan.
Bahan
dan alat:
a. Bahan
a) Minyak kelapa
b) Botol plastik bekas air mineral yang bersih ukuran 1 liter
c) Metil eugenol (atraktan/penarik) dapat dibeli toko saprotan (sarana
produksi pertanian)
d) Kapas
e) Benang kasur
b. Alat
a) Pisau atau cutter
b) Mistar ukur
c) Lakban hitam/isolasi
Keselamatan kerja (K3LH):
a.
Pakailah pakaian praktek lapangan
b.
Gunakan sepatu boot dan sarung tangan selama
praktik
c.
Gunakan peralatan praktik dengan hati-hati agar
tidak sampai melukai badan
Prosedur:
1.
Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan alat
perangkap.
2.
Lakukan pengecekan apakah alat-alat dan bahan yang tersedia sudah
sesuai (jenis, ukuran dan jumlahnya), kalau belum pilihlah alat dan bahan
yang sesuai.
3.
Simpan alat yang sudah digunakan pada tempatnya.
4.
Lakukan hal-hal yang berkaitan dengan pembuatan alat perangkap, yaitu:
1.
Potong botol kira-kira 8 cm dari bagian mulutnya
2.
Ambil kapas secukupnya, lalu diikat dengan benang kasur sepanjang 3 cm
3.
Teteskan 1 cc metil eugenol pada kapas
4.
Keluarkan tali dari botol sehingga kapas dalam keadaan tergantung di
dalam
5.
Masukan potongan botol pendek ke dalam potongan botol panjang dengan
bagian mulut di sebelah dalam. Pertemuan kedua potongan botol di sebelah luar
dapat diberi lakban/isolasi.
6.
Gantung botol perangkap pada pohon atau diikat pada tiang kayu
Catatan
lain:
Baca dengan teliti
prosedur kerja diatas agar pelaksanaannya dapat dilakukan dengan benar.
|
||||







0 komentar:
Posting Komentar