Menjadi Aku Apa adanya

Jadilah dirimu sendiri karena engkau berharga, tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu dan engkau selalu dikasihi-Nya dengan cinta yang sama!” - Sr. M Fransita, FCh .

Menatap Senja yang Akan Pergi

Jadilah benih yang baik, yang siap mendengarkan, mengerti dan berbuah di dalam Sabda Tuhan. Peliharalah iman selalu, teguh dan peka akan Kristus.

Menikmati CiptaanNya yang selalu jujur

Alam selalu memberikan kejujuran akan keindahannya yang tak mampu kita bantah.

Menyatu Bersama Alam Kepunyaan-Nya

Semangat Kerendahan Hati lebih manis daripada madu, dan mereka yang menyuburkan dirinya dengan madu akan menghasilkan buah yang manis” - St. Antonius dari Padua -

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Selalu Siaga dalam keadaan apapun

Akal budi membuat orang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran

Mencintaimu Tanpa Batas

Kekuatan Sesungguhnya adalah cinta kita yang dipersatukan Oleh-Nya.

Kamis, 25 Oktober 2018

"Lanjutkan saja walau harus bersembunyi"


"Lanjutkan saja walau harus bersembunyi"

                                              
Terpaksa kita harus menuruti kata mereka agar merekapun tenang disana
Biarlah itu hadirkan luka dihati disaat kita sedang bahagia bersama

Aku maklumi keadaanmu di saat itu sehingga mereka perlu mengontrol engkau meski dari jarak yang jauh

Aku pahami bahwa mereka tidak menginginkan hal terburuk dalam hidupmu sebab mereka sangat mengasihimu juga masa depanmu

Akupun sadar mungkin juga aku bukanlah berarti di mata mereka saat itu sehingga mereka memaksamu agar memutuskan hubungan kita

Sungguh berat bagiku menerima kenyataan itu setelah semuanya kau ceritakan padaku saat itu
Air mata ini hanya tertahan disudut kelopak mataku sebab aku berupaya tetap tegar di depan matamu yang mulai dibanjiri air mata kesedihan

Kau peluk erat diriku begitupun aku enggan melepaskan dekapan eratmu itu
Kau pastikan dihadapanku akan cinta tulusmu kepadaku
Dalam dekapanku aku yakinkan dirimu akan cintaku kepadamu

Pikiranku seakan buntu ditengah keremangan malam di sudut rumahmu
Tak terbayangkan lagi solusi apa yang harus kita cari dalam menghadapi cobaan itu.

Cuma satu kata yang terucap dan kita sepakati
Tetap lanjutkan hubungan kita walaupun kita harus bersembunyi untuk sementara
Dan biarlah nanti mereka tahu betapa dasyatnya cinta kita

 by hence
14/2/15

"Yang terburuk Jika terjadi begitu"


"Yang terburuk Jika terjadi begitu"

Sekejap pikiran itu terlintas
Hiasi alur pikiranku yang tak jelas
Mungkin sekedar halusinasi
Bisa juga akan nyata terjadi

Mungkinkah diakhir nanti kamu tak jadi kembali
Penuhi semua janji yang pernah kita rangkai
Mungkinkah diakhir nanti kamu memilih tetap berkarya disana
Tinggalkan semua harapan yang pernah ada

Sering itu jadi sumber pertengkaran kita
Bila sudah aku katakan tentang itu
Bukankah itu yang terburuk tentang hubungan kita
Jika nanti terjadi begitu?

Jujur sayang, aku tak mampu hadapi jika itu terjadi
Mungkin aku akan memilih untuk tetap nenyendiri jika memang begitu adanya nanti

Jujur sayang, Itu hanya sebuah ketakutanku
Kehilangan akan kelembutanmu
Yang sudah tertanam sekian tahun
Mengakar kuat dan takan tergantikan

At bilik inspirasi
11/2/15
By hence

"Belenggu di hati"


"Belenggu di hati"

Sore itu kau terlihat begitu cantik
Membuatku kaku seakan tak mampu berkutik
Tatapan ayu matamu yang lentik
Membuatku tak mau kehilangan indahnya walau hanya sedetik
Terurai lurus rambut halusmu
Terkibas tanganmu dengan lembut
Harum tubuhmu menghampiri kalbu
Terbawa angin sore yang tak berkabut
Wangi tubuhmu menyatu bersama ragaku
Masuk dan menyatu dalam sukmaku
Kau mendekat lalu duduk dibelakangku
Berdua kita di atas SOUL GT merahku
Dan kitapun mulai bergegas ke tempat yang dituju
Hari semakin gelap
Mentari pun mulai terlelap
Engkaupun mulai bercerita
tentang masa kecilmu, penuh ceria
Engkau t'lah membuatku larut dalam tiap kata yang terucap dari bibir tipismu
Dan kita pun kembali lewati jalan itu lagi,
Setelah semua rencana kita tercapai
Pundaku tersentuh tanganmu yang terkatup kaku,
Dan kau mengucapkan "sory" karena itu
Ku hanya bisa terdiam terpaku seakan tak peduli dengan yang terjadi,
Dan ingin ku teriak dalam gelap malam yang tak bertepi
'Tuk mengajak engkau keluar dari jeratan belenggu dihati
Keluar dari aturan yang disepakati
'Tuk buktikan bahwa kita begitu berarti
Written by Hence
11/03/2016

"Derita di ujung Logika"


"Derita di ujung Logika"


Saya sadari semestinya memang kita harus rasional. Apalagi berkaitan dengan rasa dalam hati yang mulai menguasai kita. Memang, kadang kala pilihan itu sulit. Apalagi jika kita dihadapkan dengan pilihan antara melawan atau menuruti suara yang sama-sama bersumber dari hati.

Saya juga menyadari kadangkala perbedaan itu tak selamanya indah. Meski kebanyakan orang mengatakan itu adalah anugerah.
Kita memang tidaklah sama dan memang dilahirkan dari sebuah perbedaan. Tapi, benarkah itu adalah masalah dalam menjalin asmara?
Saya memang bagian terkecil dalam lingkunganmu, karena keyakinan kita berbeda. Tapi, benarkah itu juga sebuah masalah?

Ahhh.,,tidak apalah saya sungguh memahami itu dan mungkin juga kita memiliki konsep yang berbeda dalam hal ini. Biarkan sang Pemilik Jagad ini yang menentukan dengan cara-Nya sendiri yang sulit kita mengerti.

Saya tidaklah sanggup mencari solusi dari masalah itu. Mungkin itu jadi bagian dalam perefleksian saya nanti dan mungkin juga kamu.

Goresan dilema hati yang engkau tunjukan menyadari saya bagaimana seharusnya logika itu harus sejalan dengan rasa. Juga Bagaimana kita perlu mempertimbangkan keluarga dan keyakinan dalam merajut kasih. Dan Saya hanya bisa tertunduk karena itu, dikala rasa sayang ini semakin menggila kepadamu.

Terimakasi, engkau telah tunjukan perasaanmu bahwa apa yang saya rasa bukanlah sekedar halusinasi saja. Jujur, sesungguhnya saya juga senang ternyata kita sama-sama merasa nyaman ketika bersama.

Saya juga tidak bisa pungkiri jika memang saat ini saya sedang berpijak pada derita diujung logika karena cinta dan sayang ini hadir dalam sebuah perbedaan.

...........👀    👀👀    ..........
#by Hence at Messderita
#20-03-2016


GundahKu


"Pulang memang menyenangkan,
Tetapi akan tetap mengukir kesedihan"

Sahabatku...
Dalam kesendirian Aku mulai menyadari kebersaman kita tidak lama lagi akan berakhir. Aku mulai merenungkan lagi semua kisah bersama yang dulu pernah kita ukir. Kisah yang tak akan mungkin pernah aku dan kamu lupakan. Kisah yang terlahir dari tempat dimana awal kita bertemu, dari tempat dimana awal aku belajar semua tentang kamu. Begitu juga kamu. Sehingga kita dapat saling mengerti.

Sahabatku...
Di rumahmu di tanah Karera ini, Kau suguhi banyak arti dalam hidupku. Kau berikan menu kemudahan dalam susah dan malangku saat berada disini. Engkau juga hadirkan orang-orang yang penuh kasih sayang di sampingku. Kini, engkau bukanlah sekedar sahabat, engkau adalah saudaraku. Yang akan selalu terlukis dihati. Kini, esok dan nanti.

Saudaraku...
Tempatmu mendidik dan mengajar juga rumahku. Kita telah berenang bersama dalam lautan suka dan duka dibawah atap rumah berlogo turwurihandayani itu. Canda dan tawa kita selalu menyatu di atas padang berselimutkan semak dan rerumputan disana. Lelah dan peluh kita akan selalu menyatu dalam raga yang tak pernah menyerah. Percayalah, meski kelak kita tak bersama, kita akan selalu menuju satu misi yang sama. Kita akan tetap menuntun mereka menjadi insan yang berguna.

Saudaraku...
Hampir setahun kita bersama bernaung dibawah atap SMKN 6 Karera. Hampir setahun juga aku menemani mereka belajar bersama. Masih banyak yang belum aku berikan pada sekolah maupun siswa siswi kita. Ku sadari bahwa dinding ruang dan waktulah yang membatasi kita.

Saudaraku...
Sebentar lagi ragaku tidak lagi ada bersamamu. Jejak kaki dan tanganku nantinya tidak akan terlihat lagi olehmu. Riuh suaramu dan siswa siswi kita juga tidak terdengar lagi olehku. Gelegar suaramu dikelas tidak lagi aku dengar. Petikan gitar dan nyanyian  "Anggur merah" kita yang lalu tidak lagi kita mainkan bersama. Suguhan gelas setengah sloki saat itu tanpa ada aku lagi disana.

Teman-teman guruku yang hebat juga siswa siswiku..
Di saat-saat tetakhir aku barsamamu, air mata ini selalu bersembunyi di sudut kelopak mata ini. Di saat aku menulis ini, air mataku terus mengalir. Aku tak ingin ini cepat berakhir. Aku masih merindukan kebersamaan ini.

Kusadari saatnya aku harus pulang meski itu mengukir kesedihan. Biarlah kebersamaan ini sampai disini. Tapi yakinlah, goresan ini akan selalu hidup dan tetap terlukis dalam setiap kisah hidupku.

By
Henzen 02/03/2016