Menjadi Aku Apa adanya

Jadilah dirimu sendiri karena engkau berharga, tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu dan engkau selalu dikasihi-Nya dengan cinta yang sama!” - Sr. M Fransita, FCh .

Menatap Senja yang Akan Pergi

Jadilah benih yang baik, yang siap mendengarkan, mengerti dan berbuah di dalam Sabda Tuhan. Peliharalah iman selalu, teguh dan peka akan Kristus.

Menikmati CiptaanNya yang selalu jujur

Alam selalu memberikan kejujuran akan keindahannya yang tak mampu kita bantah.

Menyatu Bersama Alam Kepunyaan-Nya

Semangat Kerendahan Hati lebih manis daripada madu, dan mereka yang menyuburkan dirinya dengan madu akan menghasilkan buah yang manis” - St. Antonius dari Padua -

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Selalu Siaga dalam keadaan apapun

Akal budi membuat orang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran

Mencintaimu Tanpa Batas

Kekuatan Sesungguhnya adalah cinta kita yang dipersatukan Oleh-Nya.

Rabu, 13 Oktober 2010

Edukasi



HIV/AIDS DALAM KONTEKS IMAN KRISTIANI
OLEH : HENDRIKUS CH. MB. ENGE


PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Setiap 1 Desember masyarakat dunia bersama-sama memaknai persoalan HIV dan AIDS dengan menetapkannya sebagai Hari AIDS Se-Dunia. Epidemi HIV dan AIDS serta penyalahgunaan Napza telah menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan umat manusia termasuk kehidupan warga gereja. Persoalan HIV dan AIDS selain berpengaruh terhadap kesehatan, juga berpengaruh terhadap perkembangan sosio-ekonomi, sosio-budaya, politik, dan pertahanan keamanan bangsa. Epidemi HIV dan AIDS serta penyalahgunaan Napza di Indonesia menunjukkan ancaman yang serius. Ancaman ini terkait erat dengan faktor resiko terutama pada perilaku seksual dan penggunaan narkoba jenis jarum suntik yang semakin meningkat tahun-tahun terakhir ini. Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia sangat variatif sesuai dengan karakteristik negara kita sendiri yang terdiri dari beragam sosio-budaya termasuk perilaku sehingga tidak mungkin menggambarkan hanya dengan satu gambaran saja serta memaksakan keadaan di seluruh negara ke dalam satu kategori epidemi saja. Saat ini diperkirakan terdapat 160.000-216.000 orang yang hidup dengan HIV dan AIDS di Indonesia. Penularan utama adalah melalui hubungan seksual beresiko dan penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik.
Pada kesempatan Hari AIDS Se-Dunia tahun ini ada baiknya gereja melakukan sosialisasi mengenai bahaya HIV dan AIDS serta ikut dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS.  Dengan demikian maksud dan tujuan diselenggarakannya perayaan Hari AIDS Se-Dunia adalah mengingatkan gereja dalam panggilan-Nya untuk merangkul semua orang menderita dan ditantang untuk memberikan cinta kasih. Gereja adalah tubuh Kristus yang mati bagi semua dan masuk ke dalam penderitaan semua orang. Dengan demikian Gereja tidak semestinya menyisihkan orang yang membutuhkan pertolongan, termasuk mereka yang menderita karena HIV dan AIDS.
Kepemimpinan gereja ditantang untuk membuka diri kepada mereka yang menderita, mengenal penderitaan mereka dan bersama-sama menanggungnya dengan cara mendampingi mereka menghadapi penolakan dan keputusasaan. Hanya dengan demikian gereja dapat mengekspresikan arti tubuh Kristus yang sebenarnya. Cinta kasih dan keteladanan-Nya menjawab segala persoalan HIV dan AIDS di tengah-tengah penderitaan dunia.
TUJUAN
Kita selalu diingatkan agar mampu berbuat sesuatu dalam menyelamatkan generasi bangsa dari HIV dan AIDS.
Agar pemahaman mengenai masalah HIV/AIDS pada generasi muda terutama dalam konteks iman kristiani lebih ditingkatkan.

PENGEERTIAN
APAKAH HIV ITU?
HIV, yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah Virus penyebab AIDS.
HIV terdapat di dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti di dalam darah, air mani atau cairan vagina
Sebelum HIV berubah menjadi AIDS, penderitanya akan tampak sehat dalam waktu kira-kira 5 sampai 10 tahun.
Walaupun tampak sehat, mereka dapat menularkan HIV pada orang lain melalui hubungan seks yang tidak aman, tranfusi darah atau pemakaian jarum suntik secara bergantian. 

APAKAH AIDS ITU ?
AIDS yang merupakan kependekan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sindroma menurunkan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.
Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit, karena sistem kekebalan di dalam tubuhnya telah menurun.
Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS.
Agar dapat terhindar dari HIV/AIDS, anda harus tahu bagaimana cara penularan dan pencegahannya.

POKOK PERSOALAN
BAGAIMANA PERMASALAHANNYA?
Peran kaum agamawan tentunya lebih menonjol di bidang preventif, akhlak, moral, dan etik dari generasi muda kita. Makin besar dan tingginya intensitas keluarga atau rumah tangga yang mengalami disfungsi, akan memperlebar gap antargenerasi yang setiap hari melihat broken homes di tengah rumah tangga.
Disfungsional rumah tangga di Indonesia belum sebesar rumah tangga Barat, tetapi televisi dan media massa cetak lebih banyak memperluas tersebarnya suatu berita negatif dalam waktu yang relatif singkat.
Kalangan agamawan Islam dan Kristen sama-sama menyatakan bahwa penderita HIV dan AIDS terkena perbuatan dosanya. Namun setelah mendengar dan melihat secara langsung kehidupan dari para ODHA sangat sungguh memprihatinkan. Mereka harus berjuang dalam keluarganya, dikucilkan, diberhentikan dari pekerjaannya serta dianggap “sampah” dalai masyarakat.
Dikucilkan, diberhentikan, dan dianggap sampah masyarakat adalah stigma yang dialami ODHA pada masyarakat (Islam maupun Kristen). Kalau Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang menjadikan penyakit sebagai penggugur dosa manusia maka akan terjadi dengan apa yang disebut sebagai krisis kemanusiaan.
Dalam era globalisasi dan global village ini, manusia menghadapi keadaan dilematis, yaitu kebangkitan kembali nilai agama (revival of religions) dan sekaligus manusia saling membunuh atas nama agama. Sebenarnya, agama tidak salah, tetapi yang bersalah adalah manusia yang begitu berani membawa "nama Tuhan" untuk membunuh orang (teroris).
Kita harus berpikir lebih dalam, yaitu modernisasi yang diharapkan membawa manusia hidup lebih bahagia ternyata hanya membawa kita hidup lebih enak atau lebih comfort (nyaman), namun tak banyak bahagia. UNAIDS telah melihat potensi agama untuk melawan HIV dan AIDS dan peranan tokoh dalam masyarakat dan budaya masing-masing. Kira-kira dua dekade dunia telah bergelut menghadapi narkoba, HIV, dan AIDS, namun belum sukses melawan HIV dan AIDS.
Bukankah agama ujung- ujungnya harus mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan? Siapa yang membuat agama menjadi begitu kejam? Bukankah kekejaman itu terjadi akibat ulah manusia sendiri? Hanya Dia yang tahu. Mari kita ambil hikmah atas semakin banyaknya wabah penyakit yang menyerang umat manusia. Dan, diperlukan kerja sama antara tokoh agama dalam menghadapi penyakit-penyakit itu, terutama HIV dan AIDS.

HIV/AIDS DALAM KONTERKS IMAN KRISTIANI
Setiap tanggal 1 desember, kita memperingati hari AIDS sedunia. Apa sebenarnya yang sedang kita peringati? Apakah kita sedang memperingati sebuah wabah mematikan yang hingga sekarang terus eksis di tengah-tengah kehidupan kita? Ataukah peringatan itu merupakan wujud kepedulian kita terhadap saudara-saudara kita yang menderita penyakit ini? Atau, jangan-jangan kita sedang memperingati sebuah penyakit yang kita anggap sebagai sebuah kutukan atau hukuman Tuhan? Tentu saja, cara pandang kita terhadap penyakit ini sangat menentukan jawaban yang akan kita berikan.
Selaku orang Kristen, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, mau tidak mau, mewakili pertanggung-jawaban iman kita. Aspek iman inilah yang kemudian membuat pertanyaan-pertanyaan tadi semakin menusuk, “ Apa wujud tanggung jawab iman kita terhadap saudara-saudara kita yang hidup dengan HIV/AIDS?
Alkitab sama sekali tidak membicarakan persoalan HIV/AIDS. Namun, itu bukan berarti bahwa Alkitab sama sekali tidak membantu kita dalam mengambil sikap terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Pada zaman Yesus, penyakit “kusta” dapat di sejajarkan dengan HIV/AIDS di zaman sekarang ini. Dikisahkan seorang yang menderita kusta datang kepada Yesus untuk disembuhkan. Apa yang dilakukan Yesus? Pembacaan kita mengatakan, “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu …” Apa yang dilakukan Yesus kepada orang kusta tadi adalah suatu tindakan yang sangat luar biasa. Mengapa? Di mata sebagian besar orang Israel, penyakit kusta adalah sebuah kejijikan dan kenajisan. Penderita kusta pastilah akan diasingkan dari kehidupan bermasyarakat. Dalam keadaan seperti ini, mereka benar-benar terpuruk. Secara fisik mereka tentu saja sangat menderita dengan penyakit yang mereka alami, penderitaan ini ditambah dengan stigma masyarakat bahwa mereka adalah orang berdosa.
Dalam hal spriritual, mereka juga terpuruk.
Pandangan religius yang menegaskan bahwa Allah adalah adil, membuat setiap orang yang menderita, termasuk penderita kusta, harus menerima kenyataan bahwa masyarakat menuduh mereka sebagai pendosa yang tengah dihukum oleh Tuhan. Implikasinya, mereka dijauhkan dari lingkaran sosial dan ibadah-ibadah komunal. Dengan demikian, uluran tangan dan jamahan Yesus adalah “obat” mujarab yang mendatangkan “kesembuhan” bagi si kusta. Uluran tangan itu mengindikasikan sikap penerimaan total terhadap orang-orang yang tertolak di dalam masyarakat.
Apa yang dialami si kusta tadi juga terjadi terhadap sebagian besar orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Secara fisik, mereka harus berjuang melawan virus yang terus menggerogoti kekebalan tubuh mereka. Kenyataan ini ditambah dengan stigma dari masyarakat bahwa penyakit itu adalah hukuman atas aktivitas seksual yang mereka lakukan, sehingga mereka digolongkan sebagai pendosa yang memang pantas mendapat hukuman.
Di mana posisi kita? Apakah kita mau mengikuti pandangan umum dan menjauhi mereka? Ataukah, kita mau berdiri di posisi Yesus, yang mengulurkan tangan dan menjamah mereka? Dengan kata lain, maukah kita melupakan segala stigma yang ada dan merima mereka sebagai seorang manusia utuh yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita?

PENUTUP
Bagi manusia yang selalu berpikir, tak ada suatu musibah yang tak dapat ditarik hikmahnya, tak terkecuali musibah kemanusiaan seperti penyakit HIV dan AIDS.
Permasalahan HIV dan AIDS bukan saja menjadi masalah nasional akan tetapi sudah menjadi masalah global karena lebih dari 40 juta jiwa manusia di dunia hidup dengan HIV. Dengan demikian HIV dan AIDS adalah juga masalah gereja yang harus dicegah dan ditangani bersama. Diharapkan di kemudian hari semua gereja di Indonesia memiliki pelayanan HIV dan AIDS.
Tokoh agama jangan mengisolasi dan mengambil garis hitam terhadap pengidap HIV/AIDS. Agama, melalui para tokoh agama, bertanggung jawab mempersiapkan umatnya menghadapi HIV/AIDS. Untuk itu, mereka perlu membuka dan menambah wawasan tentang HIV/AIDS.
Agama harus memberi alternatif (solusi) dalam mengatasi HIV/AIDS. Karena itu, agama harus mengetahui dengan benar sejarah munculnya HIV/AIDS menjadi penyakit yang berbahaya.