Menjadi Aku Apa adanya

Jadilah dirimu sendiri karena engkau berharga, tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu dan engkau selalu dikasihi-Nya dengan cinta yang sama!” - Sr. M Fransita, FCh .

Menatap Senja yang Akan Pergi

Jadilah benih yang baik, yang siap mendengarkan, mengerti dan berbuah di dalam Sabda Tuhan. Peliharalah iman selalu, teguh dan peka akan Kristus.

Menikmati CiptaanNya yang selalu jujur

Alam selalu memberikan kejujuran akan keindahannya yang tak mampu kita bantah.

Menyatu Bersama Alam Kepunyaan-Nya

Semangat Kerendahan Hati lebih manis daripada madu, dan mereka yang menyuburkan dirinya dengan madu akan menghasilkan buah yang manis” - St. Antonius dari Padua -

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Selalu Siaga dalam keadaan apapun

Akal budi membuat orang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran

Mencintaimu Tanpa Batas

Kekuatan Sesungguhnya adalah cinta kita yang dipersatukan Oleh-Nya.

Jumat, 30 Agustus 2013

PENGENDALIAN HAMA TANAMAN (KTSP)

    
Dalam kegiatan pengendalian hama, pengenalan terhadap jenis hama yang umum dijumpai di lingkungan pertanian (nama umum, siklus hidup dan karakteristik) sangat diperlukan bagi petugas lapangan.  Dengan pengenalan hama tersebut maka fungsi dan berbagai hal yang menyangkut masing-masing hama dapat diketahui. Pengenalan terhadap gejala kerusakan tanaman juga menjadi sangat penting agar tidak melakukan kesalahan dalam mengambil langkah/tindakan pengendalian. Kesalahan dalam mengambil langkah/tindakan pengendalian hama dapat membuang banyak biaya, waktu juga tenaga.
        Tanda-tanda atau gejala serangan hama yang biasa muncul di lapangan berkaitan dengan tipe alat mulut hama. Tipe-tipe alat mulut hama beserta gejala kerusakan yang ditimbulkannya, antara lain:
1).   menggigit-mengunyah: pada kumbang, belalang, ulat, dll
a).    tanda serangan pada daun tampak sobekan, gerekan, berlubang-lubang, daun hanya tinggal tulang daunnya saja, daun merekat/menggulung menjadi satu, atau daun habis dimakan sama sekali
b).   tanda serangan pada akar menyebabkan tanaman layu, akhirnya mati
c).    pada polong atau buah tampak berlubang, atau ada bekas gerekan
2).   menusuk-menghisap: pada berbagai macam kepik
a).    tanda serangan pada polong atau biji tampak noda hitam bekas tusukan
b).   daun yang terserang menjadi layu dan kering
c).    buah padi matang susu yang diserang menjadi hampa dan perkembangannya kurang baik
3).   mengisap: biasanya pada kutu-kutu tanaman
a).    tanda serangan pada daun munculnya cendawan jelaga
b).   daun yang terserang berbentuk tidak normal, kerdil, menggulung/keriting ke dalam
c).    terdapat bercak-bercak klorosis (kuning) pada daun
4).   meraut-mengisap: pada thrips
a).    tanda serangan pada daun terdapat bercak warna putih keperakan
b).   pertumbuhan tanaman menjadi kerdil
c).    jika menyerang bunga, mahkota bunga akan gugur
Sikap profesionalisme sangat diharapkan dalam mengambil langkah pengendalian hama yang tepat, tanpa menghilangkan populasi hama di suatu lahan sehingga keseimbangan ekosistem di lahan tersebut dapat terus terjaga. Baca Selengkapnya pada slide berikut ini...

Dari Bumi Borneo Kami Memulai

Cerita Dari Tanah Wahau Kutai
(Sebuah perjalanan Mahasiswa PPGT SMK Kolaboratif UNY menuju Muara Wahau saat PPL di Daerah 3T)

Setelah selesai melaksanakan PPL 1, peserta PPGT SMK Kolaboratif kembali mengikuti pertemuan bersama koordinator PPL (Dr. Soenaryo Sutarto) serta Dekan FT UNY Dr. Bruri. Pertemuan kali ini dimaksudkan untuk memberi pembekalan pada pelaksanaan PPL 2 atau dikenal dengan sebutan PPL 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). “Selamat siang, kelihatannya semuanya pada segar meski sudah siang begini” sapa pak Naryo membuka pembicaraannya yang disambut senyuman hangat seluruh mahasiswa.

Senyuman hangat siang ini benar-benar terlihat di setiap wajah mahasiswa dalam ruangan ber AC nan sejuk ini. Kesejukan udara dalam ruangan mengantar mahasiswa bersemangat mendengarkan arahan Dekan. “Pembekalan PPL 3T dimaksudkan meningkatkan jiwa nasionalisme para calon guru”, demikian pemaparan pembuka dekan berambut putih ini. Lebih lanjut Ia katakan bahwa tantangan guru kedepan adalah harus menguasai Information Computer Teknology (ICT). Guru juga harus mampu menguasai media pembelajaran e-learning. Ini merupakan tuntutan global pendidikan, tutupnya.

Banyak nasihat yang diberikan kepada ke 30 mahasiswa PPL. Pesannya, adaptasi secara baik dengan lingkungan baru dan pendekatan dengan masyarakat merupakan kunci keberhasilan kalian di lokasi PPL. Siap menghadapi segala kekurangan yang penuh keterbatasan disekolah serta jadilah pembaharu di lingkungan sekolah masing-masing. Begitulah kurang lebih inti dari pertemuan PPL kali ini.

Kalimantan menjadi lokasi PPL 2 kami. Ada 5 lokasi di mana kami akan di kirim. Mempawa dan singkawang di Kalimantan Barat, Malinau di Kalimantan Utara, dan Muara Wahau serta Grogot di Kalimantan Timur. Berdasarkan hasil pembagian lokasi PPL oleh Koordinator PPL, Saya bersama 4 orang lainnya berlokasi di daerah Muara Wahau. Jadwal keberangkatan untuk masing-masing kelompok sudah dikoordinasikan dengan masing-masing pembimbing. Range waktu keberangkatan untuk semua kelompok dari tanggal 1 Juli sampai 4 Juli. Syukurlah kelompok ku mendapat jadwal keberangkatan lebih awal.

Detik-detik perpisahan itu terasa berdetak makin cepat. Saat-saat kebersamaan itu mulai pergi bersama perputaran sang waktu. Tak ada yang mampu menahan sang waktu. Hari pun mulai malam. Semuanya makin sibuk dengan persiapannya sendiri-sendiri. Saya pun tak luput untuk tetap memeriksa kembali barang-barang yang telah dikemas. Semuanya sudah beres tinggal menanti hari esok untuk berangkat.

Sungguh, nuansa penuh haru sangat terasa di malam itu. Final piala confederasi Brazil kontra Spanyol jadi puncak kebersamaan kami di kota gudeg ini. Semuanya larut dalam euforia pertandingan yang menegangkan tersebut. Canda dan tawa menghiasi wajah kamisepanjang malam. Tak peduli dengan malam yang semakin larut, beberapa temanku masih melanjutkan cerita mereka. Tak biasanya ini terjadi. Semuanya bertahan meski dinginya malam terus menggigit kulit ini.

Cerita-cerita di malam itu sebagai penutup hari terakhir kami di bulan Juni. Hari sudah siang. Sudah saatnya harus bersiap-siap. Jemputan sudah menunggu di halaman kontrakan. Kelompok pertama menujuMalinau siap berangkat. Ucapan perpisahan dan hujan air mata menandai perpisahan ini. Keadaan yang sama juga terjadi beberapa saat kemudian. Kelompok kami juga akan berangkat. Bersiap-siap sambil menungu jemputan menuju bandara Adisucipto. Sudah jam 11.00 siang. Aku dan teman-temanku sudah siap. Mobil jemputan itu belum juga datang. Temanku Edu dan Theo telah tidur. Aku pun ambil posisi untuk tidur di samping mereka. Sekedar memejamkan kelopak mata untuk sejenak beristirahat dari lelah semalam, ku paksakan agar bisa tidur lelap. Rupanya keadaan tak mendukung. Akupun tak tak bisa tertidur lelap. Demikian juga dengan teman di sampingku ini. Mungkin tidur kami siang itu hanya sekedar untuk mengembalikan stamina setelah sepanjang malam begadang.

Suara gitar nyaring terdengar iringi tidur kami yang tak kunjung lelap itu.Terdengar suara gitar dari luar kamar ku. Petikan gitar nan merdu itu sudah pasti dimainkan oleh temanku Dyson. Ahli memainkan beberapa alat musik Dysonlah orangnya. Lagu Ambon jadi Top song kami di siang itu. Satu per satu kami keluar dari kamar masing-masing. Ikut berpartisipasi menyayikan lagu pembuka “Cinta Semata Wayang” ala Dodi Latuharhary. Meski dengan suara yang pas-pasan, cukup menghibur kami yang sebentar lagi akan berangkat.Semuanya makin larut dalam irama yang kami lantunkan sendiri. Semakin asyik, ditambah lagi dengan semakin banyak list lagu yang dinyayikan. Semuanya semakin berantusias ketika menyanyikan lagu “Cintaku kandas direrumputan”. Entah mengapa. Mungkin karena semuanya sudah hafal dengan lirik lagu ini.

Seperti sedang merayakan pesta, lagu ini seolah seperti genderang perang yang membakar api semangat untuk bergoyang. Ada yang bangkit berdiri untuk berdansa dan ada yang cuma bergoyang di kursinya. Lagu yang dipopulerkan oleh Ebit G Ade itu, menjadi list lagu terkhir yang kami nyanyikan. Spontan, semua aktivitas terhenti ketika terdengar suara teriakan oto jemputan sudah datang. Tidak jelas terdengar suara siapa itu. Yang pasti mobil jemputan sudah parkir di teras kos kami. Dengan segera kami merangsek masuk kedalam mobil bersama barang-barang-barang yang dibawa. Beperlukan dan berpegangan tangan jadi salam perpisahan kami dengan teman-teman yang jadwal berangkatnya belakangan.

Siang yang mengharukan bagi kami. Lantunan lagu itu terus terngiang di telingaku disepanjang jalan menuju bandara. Mereka ku kenang dalam latunan lagu itu. Mobil kijang biru tua milik kampus itu pun melaju kencang menuju Adisucipto.Kurang lebih 2 jam lebih kami harus menunggu setelah cek in. Bagi ku merupakan waktu yang cukup lama untuk menunggu. Ketidaksabaran untuk segera terbang telah pergi, seiring dipanggilnya para penumpang dengan penerbangan tujuan Balikpapan.Yah, itulah rute penerbangan kami. Pemandangan indah jelas terlihat ketika melintas di atas langit Kalimantan. Daerah dengan julukan seribu sungai itu terlihat begitu indah dari ketinggian. Ratusan sungai bagai ular yang sedang tidur ituterlihat sangat jelas.“Kurang lebih 30 menit lagi pesawat akan mendarat di bandara Sempinggan kenakan sabuk pengaman anda dan lepas sampai lampu tanda keamanan telah menyala”, demikian informasi yang disampaikan sang pramugari.Spontan saya gembira dan segera ingin menginjakan kaki yang pertama di tanah Borneo.


Bandara berstandar internasional ini sangat ramai. Hiruk pikuk penumpang di bandara Sepinggan Balikpapan mewarnai perjalanan kami menuju Muara Wahau kabupaten Kutai Timur. Perjalanan masih panjang. Raga yang letih masih harus terkuras untuk beberapa waktu lagi. Kurang lebih 2 jam penerbangan dari bandara Adisucipto Jogjakarta menuju bandara yang langsung berhadapan dengan selat makasar ini. Bandara internasional ini merupakan bandara teramai yang pernah saya lihat setelah Soekarno-Hatta dan Juanda. Kira-kira pukul 16.26 wita Sriwijaya airlines mendarat di bandara Sepinggan Balikpapan. Raga yang letih terlihat dari raut wajah kami termasuk pak Munir dosen pembimbing kami. Meski terlihat sedikit letih, paras yang murah senyum itu tetap menuntun kami menuju ruang tansit menunggu rute penerbangan berikutnya Berau. Pemilihan Berau masuk daftar rute penerbagan selanjutnya sebab lebih dekat menuju lokasi PPL di Muara wahau bila mengikuti jalur transportasi darat.

Di tengah keramaian dalam ruang transit ini, saya beranikan diri bertanya pada seorang ibu yang duduk di samping saya. “Bu berapa jam penerbangan menuju Berau dari Sempingan”, tanya ku. “kurang lebih 45 menit” jawab ibu yang belum sempat ku kenal namanya itu. Terdengar suara memanggil seluruh penumpangmenuju ke pintu 3. Suara ini bertanda kami harus bergegas menuju pesawat dengan menumpang bus yang sudah menunggu. Penerbangan sriwijaya selanjutnya sudah menanti kami menuju Berau.

Suguhan air mineral plus roti dalam kabin sedikit memanjakan perut kami yang sedang lapar. Lumayan untuk ukuran perutku yang kecil cukup tahan untuk beberapa jam kedepan sebelum tiba di Berau. Semakin jauh pesawat meninggalkan Sempingan. Gemerlap cahaya lampu kota balikpapan bagai langit yang bertaburan bintang. Indah dan cantik. Itulah kata yang tepat untuk mengekpresikannya. Semakin tinggi si burung besi ini meninggalkan bumi. Ketinggian terbang mencapi 3000 mdpl. Tak ada lagi obyek yang dapat dilihat di bawah sana. Gemerlap cahayapun hilang satu per satu. Hanya kegelapan yang nampak. Ku putuskan untuk pejamkan mataku sejenak. Menormalkan kembali kelopak mata yang lelah bekerja sepanjang hari.

Ketinggian terbang mulai menurun. Penurunan ketinggian itu sangat terasa pada gerakan dalam perutku. Tak mau melewatkan keindahan gemerlap lampu kota Berau, seketika itu juga kelopak mataku terbuka. Meski hanya bisa melihatnya dari jendela pesawat, itu sudah cukup bagi saya mengobati rasa penasaran saya. Tepat pukul 20.00 wita, si burung besi itu menyentuhkan kakinya di bandara Kalimarau Berau. Sedikit lancang saya mau katakan bahwa pribadi saya agak kecewa sebab tidak dapat melihat keindahan alam kota Berau dari udara. Rasa kecewa itu sedikit terbayarkan oleh udara segar nan alami yang ku hirup dalam-dalam di sepanjang jalan menuju pusat kota. Sungguh jauh berbeda dengan udara yang pernah saya rasakan di Jogjakarta. Kota dimana saya mengikuti pendidikan PPGT SMK Kolaboratif. Udara di sana tidak sesegarudara di Berau.
 
Sungguh malam yang sangat singkat bagi kami untuk beristirahat lebih lama lagi. Tok...tok...tok....bunyi pintu terdengar lembut dari kamar 119 lantai satu hotel Berau Plsaza. Suara nyaring terdengar menyapa. “silahkan sarapan mas di ruang loby”. Milik suara itu ternyata adalah pembimbing kami. Sentak aku dan teman sekamar ku Jhon terbangun. Pertama yang ku lihat adalah jam pada HP ku. Sial, sudah jam 07.00 wita. Aku bangun kesiangan. Tak biasanya aku begini. Meski masih sisakan rasa kantuk yang berat, ku paksakan raga ini untuk bangkit bediri. Menyambut pagi dengan mersakan segarnya air di kota seribu sungai ini. Mandi pagi. Yah...itu yang kami lakukan untuk membersihan raga dari sisa penuh sepanjang hari kemarin.Aroma kopi hangat plus sarang semut (satu jenis kue tar) di ruang loby menjemput seleraku. Sinar mentari pagi dari sela-sela rintik hujan seolah menyapa dan menyambut kami dengan penuh kesejukan di hari pertama kami di kota Berau.

Waktu terus berjalan. Sudah pukul 08.30 pagi. Saatnya kami harus melanjutkan perjalanan menuju Muara Wahau. Kurang lebih 7 jam lamanya. Dua mobil kijang inova sudah menunggu. Semua barang bawaan pun ikut dimasukkan ke bagasi mobil. Perjalanan nan jauh penuh tantangan pun dimulai. Di mulai dengan menyisir sungai Segah sebelum meninggalkan kota yang terletak persis di katulistiwa ini.

Semakin jauh kami meningglkan kota Berau. Jalanan yang beraspal makin tak kelihatan lagi. Goncangan kendaraan mulai tersa didalam mobil. Kerikil lepas, jalan bergelombang dan lumpur di badan jalan semakin menyatu dengan kendaraan yang kami tumpangi. Medan yang dilalui sungguh menantang. Memacu andrenalin bagi siapapun yang melewatinya. Baik sebagai penumpang maupun driver.

Medan yang bergelombang dan berlumpur serta berdebu tebal itu memaksa kami untuk terus mengatur posisi duku kami. Brukk..brukk..brukkseringkali terdengar bunyi bodi mobil saat melintasi jalanan itu. Sang driver terus tancap gas. Seakan tak menghiraukan bunyian itu. Kecepatan rata-rata 35-45 km/jam. Sungguh kecepatan yang tidak normal pada medan jalan seperti ini. Kami pun merasa was-was. Aura ketegangan di wajah kami pun muncul. Tak ada yang tertidur. Semuanya terjaga sambil memperhatikan jalanan yang buruk dan sesekali menikmati pemandangan asri nan alami di sepanjang jalan. Sesekali saya memperhatikan Theo dan Elvi yang duduk di kursi bagian belakang. Mereka pun menatap ku dengan penuh ketegangan. Seribu kata yang tak terucap tampak dari tatapan mereka. Entah apa yang mereka pikirkan. Tak ada lagi cerita di antara kami selepas jalanan yang beraspal tadi.

Tiga jam sudah berlalu. Waktu yag sangat lama dihabiskan di atas kedaraan dengan medan yang rusak. Pegal di badan masih bisa ditahan. Namun perih di lambung sudah tak tertahankan lagi. Sudah pukul dua belas siang. Rumah-rumah warga mulai nampak satu persatu. Akhirnya kami sedikit lega. Medan jalan lumayan baik. Mobil melaju di atas jalanan beraspal licin.Meski hanya sesaat saja, kenyamanan duduk dalam inova keabu-abuan ini sedikit terasa. Sang sopir inova menepikan kendaraannya. Tampak rumah makan ada di hadapan mobil kami. Semuanya turun untuk rehat sejenak.Kali ini kami harus beristrahat. Mengisi kembali ruang kosong dalam perut ini. Menambah tenaga yang hilang bersama jalanan buruk tadi. Pilihan menu nasi campur ala Kelay sudah membayar rasa lapar kami.

Rumah makan yang sepi ini menjadi tempat persinggahan satu-satunya di sepanjang jalan Berau-Sangatta, Kutai Timur. Rumah makan yang rangkap kios ini tidak memiliki nama. Entah mengapa tidak menjadi soal yang penting perut kami sudah terisi. Terletak di KM 106 Berau-Samarinda, rumah makan ini seakan menjadi tempat bertemunya semua jenis transportasi yang melintas. Suatu hal yang menarik bagi kami, dimana jenis kendaraan yang digunakan tergolong mewah. Kijang inova, avansa dan sejenisnya merupakan pilihan kendaraan yang digunakan untuk transportasi darat lintas kabupaten di daerah ini.

Saatnya melanjutkan kembali perjalanan yang terhenti. Kurang lebih tiga jam lagi sampai tujuan. Lantunan musik slow rock manjakan naluri kami. Naluri sebagai insan untuk merasakan dan menikmati keindahan hutan alam yang masih tersisa di tanah Kalimantan. Syukurlah dalam perjalanan ini masih dapat kami nikmati keindahan surga yang masih tersisa itu, walau hanya dalam beberapa kilo meter saja. Sisanya sudah hilang. Lenyap ditelan oleh peradaban manusia masa kini. Manusia yang penuh kuasa dan keserakahan. Menghabiskan semua yang dititipkan untuk anak cucu. Ekploitasi lahan untuk kebun kelapa sawit dan tambang batu bara menjadi ancaman untuk surga itu tetap bertahan. Ya...itulah keadaannya. suatu keadaan yang selalu saya renungkan dalam perjalanan ini. “Akan ada kebun kelapa sawit dan tambang batu bara disepanjang jalan ini”, tutur Roni sang driver mobil kami. Kita akan melewati jalan keriting (istilah lokal untuk jalanan rusak) kurang lebih 30 km jauhnya, tuturnya melanjutkan cerita kami. Semakin jauh kami meninggalkan rumah makan tadi. Belum juga tampak perumahan warga di kiri dan kanan jalan yang dilalui. “Masih jauh bang”, tanyaku pada Roni. “Masih”, jawabnya singkat.

Sudah pukul dua siang. Mentari mulai menyingsing perlahan seiring jalannya waktu. Mobil semakin melaju kencang. Seakan mengejar sesuatu yang sedang menanti. Debu tebal terhempas ganas oleh laju si kuda besi.Kendaraan pun semakin banyak yang dijumpai sepanjang jalan. “Kurang lebih setengah jam lagi sampai” ungkap Roni tenang. “Ahh, lega kita sudah melewati medan yang buruk tadi’ tutur Roni. Kita di ujung jalan yang rusak sambungnya. “Jadi, sekarang aspalnya mulus ya bang?” tanya ku sembari menyapu dada ku sendiri. “Ya, sekarang jalannya mulus sampai ke muara wahau” jawabnya sambil terus memacu mobil yang kujuluki sebagai jet darat ini. Sungguh ironis bagiku. Kecepatannya mencapai 100 km per jam saat memasuki jalan beraspal mulus ini. Jalan lurus maupun tikungan tetap saja melaju dengan kencang. Sesekali aku harus menarik dan menahan napas dalam-dalam. Ini sebagai wujud ketegangan yang lagi-lagi mewarnai saya dan teman-teman.

Tampak sinar mentari tak lagi vertikal, seakan pergi meninggalkan bumi. Menandakankeadaan mulai sore. Gapura bertuliskan selamat datang seakan menyapa kamiketika memasuki kecamatan Muara wahau. Legah rasanya. Akhirnya kami mengakiri perjalanan hari ini. Tepat pukul 14.30 kami tiba di Muara wahau. Perlahan menyusuri jalan kota kecamatan sambil mencari alamat yang dituju. Desa Karya Bakti, jalan Banten itulah alamat tujuan kami. “Bu rumah bapak Lambertus Reda di mana ya?” tanya temanku Edu pada seorang pejalan kaki yang kami temui. Mengikuti petunjuknya kamipun sampai dirumah yang dituju.

Rumah tembok bercat kuning telur itu jadi rumah baru kami. Rumah yang kelak menghadirkan berjuta certa dalam sejarah hidup kami. Tidak ada yang saya kenali wajah-wajah mereka. Semuanya asing bagi kami. Sambutan hangat nan akrab sang pemilik rumah serta warga sekitar, menjadi magnet positif pendongkrak semangat kami untuk belajar 3 bulan didaerah terpencil ini. Salam-salaman ala masyarakat Flores hadirkan keakraban lebih mendalam di antara kami. Suguhan teh hangat awali cerita kami. Diruang tamu berukuran 180 cm x 180 cm itu kisah kami dimulai. Cerita yang akan terus berlanjut dan tiada akhir.

Keadaan di sini jauh berbeda dengan tempat kami sebelumnya. Udara bersih dan segar serta jauh dari kebisingan kendaraan kami sangat kami rasakan di sini. Nuansa pedesaan di sini mengantarkan saya pada memori masa kecil. Keadaan di tanah kelahiran saya tidak jauh berbeda dengan keadaan di sini. Bukan lagi hal baru bagi saya untuk hidup di daerah seperti ini. Saya juga yakin ke empat kawan saya juga pernah mengalami keadaan seperti ini. Maklum, saya juga dilahirkan dari daerah terpencil seperti di sini.

Tak ada yang mampu menahan laju sang waktu yang berputar. Raja siang pun pergi tinggalkan bumi. Sore pun berganti malam. Perjalanan panjang telah berakhir di rumah ini. Ini malam pertama kami di Muara Wahau. Saatnya harus beristirahat dan tidur untuk mengakhiri aktivitas yang melelahkan sepanjang hari. Perlahan suasana menjadi sepi. Bagai Desa mati tak berpenghuni, tak terdengar lagi keramaian orang di luar sana. Hanya terdengar nayian jangkrik dan detak jam yang mengantar tidurku.

Itulah kisah perjalanan kami menuju Muara wahau. Malam pertama ini menjadi awal kisah kami selanjutnya di Muara Wahau. Akan banyak cerita yang akan kami kisahkan. Sebab kisah itu hidup bila ditulis dan diceritakan. Salam dari kami mahasiswa PPGT UNY – Politani Kupang 2013.

Written by

Hence Enge Lionel

Mengendalikan Gulma Tanaman (KTSP)


Pada dasarnya gulma merupakan tumbuhan yang mudah tumbuh pada setiap tempat yang berbeda-beda, mulai dari tempat yang miskin unsur hara sampai tempat yang kaya unsur hara. Sifat inilah yang membedakan gulma dengan tanaman yang dibudidayakan.
Banyak batasan pengertian tentang gulma, tetapi secara umum gulma dapat didefinisikan sebagai kelompok jenis tumbuhan yang hidupnya atau tumbuhnya tidak dikehendaki oleh manusia karena dianggap mengganggu dan bisa merugikan hasil tanaman yang dibudidayakan. Kerugian yang ditimbulkan oleh gulma tersebut dapat bersifat kuantitatif (kerugian dalam bentuk jumlah atau dapat diwujudkan dengan angka) dan bersifat kualitatif (kerugian dalam bentuk kualitas hasil pertanian yang tidak dapat diwujudkan dengan angka).
Pengaruh yang merugikan dengan adanya gulma pada lahan pertanian ada beberapa hal, antara lain :
 ·             Mempunyai pengaruh persaingan/kompetisi yang tinggi dengan tanaman budidaya
Adanya gulma di lahan pertanian mempunyai pengaruh persaingan/ kompetisi yang tinggi sehingga dapat menurunkan hasil panen. Persaingan/ kompetisi ini dapat berupa kompetisisi akan ruang, air, unsur hara maupun sinar matahari.
·              Sebagai rumah inang sementara dari hama dan patogen penyebab penyakit tanaman budidaya
Banyak hama dan patogen penyebab penyakit pada tanaman budidaya yang tidak hanya hidup pada tanaman yang dibudidayakan tetapi juga pada gulma khususnya yang secara taksonomi erat kaitannya dengan tanaman tersebut.
·              Mengurangi mutu hasil panen tanaman budidaya
Beberapa bagian dari gulma yang ikut terpanen akan memberikan pengaruh negatif terhadap hasil panenan. Misalnya dapat meracuni, mengotori, menurunkan kemurnian, ataupun memberikan rasa dan bau yang tidak asli.
·              Menghambat kelancaran aktivitas pertanian
Adanya gulma dalam jumlah populasi yang tinggi akan menyebabkan kesulitan dalam melakukan kegiatan pertanian misalnya pemupukan, pemanenan dengan alat-alat mekanis, pengairan, dan lain-lain. Untuk lebih lengkapnya baca pada tautan debawah ini.....Semoga bermanfaat!!!!

Minggu, 04 Agustus 2013

Panen sawit