Menjadi Aku Apa adanya

Jadilah dirimu sendiri karena engkau berharga, tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu dan engkau selalu dikasihi-Nya dengan cinta yang sama!” - Sr. M Fransita, FCh .

Menatap Senja yang Akan Pergi

Jadilah benih yang baik, yang siap mendengarkan, mengerti dan berbuah di dalam Sabda Tuhan. Peliharalah iman selalu, teguh dan peka akan Kristus.

Menikmati CiptaanNya yang selalu jujur

Alam selalu memberikan kejujuran akan keindahannya yang tak mampu kita bantah.

Menyatu Bersama Alam Kepunyaan-Nya

Semangat Kerendahan Hati lebih manis daripada madu, dan mereka yang menyuburkan dirinya dengan madu akan menghasilkan buah yang manis” - St. Antonius dari Padua -

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Selalu Siaga dalam keadaan apapun

Akal budi membuat orang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran

Mencintaimu Tanpa Batas

Kekuatan Sesungguhnya adalah cinta kita yang dipersatukan Oleh-Nya.

Minggu, 19 Januari 2014

JobSheet Mengidentifikasi hama



KODE.105. DKK 12
Mengendalikan Hama Pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM)
Kompetensi dasar: 
Mengidentifikasi hama
Tujuan:
Siswa diharapkan mampu mengidentifikasi hama berdasarkan bentuknya



Dasar teori:
Dalam kegiatan pengendalian hama, pengenalan terhadap jenis hama yang umum dijumpai di lingkungan pertanian (nama umum, siklus hidup dan karakteristik) sangat diperlukan bagi petugas lapangan. Dengan pengenalan hama tersebut maka fungsi dan berbagai hal yang menyangkut masing-masing hama dapat diketahui. Pengenalan terhadap gejala kerusakan tanaman juga menjadi sangat penting agar tidak melakukan kesalahan dalam mengambil langkah/tindakan pengendalian. Kesalahan dalam mengambil langkah/tindakan pengendalian hama dapat membuang banyak biaya, waktu juga tenaga.
Tanda-tanda atau gejala serangan hama yang biasa muncul di lapangan berkaitan dengan tipe alat mulut hama. Tipe-tipe alat mulut hama beserta gejala kerusakan yang ditimbulkannya, antara lain:
1)      menggigit-mengunyah: pada kumbang, belalang, ulat, dll
a)      tanda serangan pada daun tampak sobekan, gerekan, berlubang-lubang, daun hanya tinggal tulang daunnya saja, daun merekat/menggulung menjadi satu, atau daun habis dimakan sama sekali
b)      tanda serangan pada akar menyebabkan tanaman layu, akhirnya mati
c)      pada polong atau buah tampak berlubang, atau ada bekas gerekan
2)      menusuk-menghisap: pada berbagai macam kepik
a)      tanda serangan pada polong atau biji tampak noda hitam bekas tusukan
b)      daun yang terserang menjadi layu dan kering
c)      buah padi matang susu yang diserang menjadi hampa dan perkembangannya kurang baik
3)      mengisap: biasanya pada kutu-kutu tanaman
a)      tanda serangan pada daun munculnya cendawan jelaga
b)      daun yang terserang berbentuk tidak normal, kerdil, menggulung/keriting ke dalam
c)      terdapat bercak-bercak klorosis (kuning) pada daun
4)      meraut-mengisap: pada thrips
a)      tanda serangan pada daun terdapat bercak warna putih keperakan
b)      pertumbuhan tanaman menjadi kerdil
c)      jika menyerang bunga, mahkota bunga akan gugur
Sikap profesionalisme sangat diharapkan dalam mengambil langkah pengendalian hama yang tepat, tanpa menghilangkan populasi hama di suatu lahan sehingga keseimbangan ekosistem di lahan tersebut dapat terus terjaga.
Mengidentifikasi hama dan gejala kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tersebut membutuhkan keterampilan dan keuletan yang cukup tinggi dari seorang petani atau pelaksana budidaya tanaman.
      Tahapan proses identifikasi hama, antara lain:
1)      Ambil hama yang ditemukan di lapangan
2)      Identifikasi di laboratorium proteksi dengan menggunakan buku kunci determinasi serangga
      Tahapan proses identifikasi gejala serangan hama, antara lain:
1)      Ambil tanaman rusak yang ditemukan di lapangan
2)      Identifikasi di laboratorium proteksi dengan menggunakan buku referensi yang ada

Bahan dan alat:
a.        Bahan
 Contoh-contoh hama, buku pedoman identifikasi hama
b.      Alat
a.       Alat tulis

Keselamatan kerja (K3LH):
a.       Pakailah pakaian praktek lapangan
b.      Gunakan sepatu boot dan sarung tangan selama praktik
c.       Gunakan peralatan praktik dengan hati-hati agar tidak sampai melukai badan

Prosedur:
1.      Siapkan alat dan bahan praktik masing-masing kelompok yang akan digunakan untuk mengamati dan mengidentifikasikan hama.
2.      Melakukan pencarian hama ke areal pertanian/perkebunan
3.      Mengambil contoh hama yang akan diidentifikasi lengkap dengan bagian-bagiannya.
4.      Lakukan identifikasi hama dan catat hasilnya pada tabel pengamatan (lihat LKS)
5.      Kumpulkan hama yang telah diidentifikasi dan gambarkan hama tersebut (bila perlu hama difoto)
6.      Cocokan sifat umum hama hasil identifikasi anda dengan gambar ilustrasi atau foto yang terdapat dalam buku kunci
Catatan lain:
Kenali hama yang ditemukan dengan teliti agar dapat menentukan langkah-langkah pengendalian hama pada pertemuan berikutnya (Pertemuan pengendalian hama)


Kepala Sekolah                                                             SMK Negeri 1 Muara Wahau


Ir. Harmiyanto, MP
NIP. 196304192007 01 1 005
Muara Wahau,     Agustus 2013

Mahasiswa PPL


Hendrikus Charles Mbelo Enge, SST
NIM. 12521299009





Programa Penyuluhan Pertanian



PROGRAMA PENYULUHAN
BALAI PENYULUHAN KECAMATAN
TAEBENU




OLEH
Hendrikus Charles Mbelo Enge, SST
NIM : 12521299009






PENDIDIKAN PROFESI GURU TERINTEGRASI (PPGT)
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN LAHAN KERING
KERJASAMA POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI KUPANG DAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYKARTA
2013



KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa penyusun panjatkan sebab atas berkat, bantuan dan bimbinganNya penyusun dapat meyelesaikan penyusunan programa penyuluhan ini tepat pada waktunya. Penyusunan programa penyuluhan  ini dilandasi UU No 16 tahun 2006 yang dipertegas kembali dalam peraturan menteri pertanian No 25 tahun 2009. Programa penyuluhan  ini sepenuhnya berdasarkan format yang ada dalam permentan No 25 tahun 2009. Programa penyuluhan ini digunakan sebagai acuan atau pedoman bagi penyuluh dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan di tingkat kecamatan.
Programa penyuluhan ini tersusun berkat kerja sama dengan berbagai pihak yang telah memberikan sumbangan pemikiran-pemikiran rasional guna melengkapi penyusunan programa penyuluhan ini.
Penyusun menyadari programa penyuluhan pertanian ini masih jauh dari kesempuranaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menlengkapi programa ini sehingga dapat digunakan sesuai fungsinya.


Taebenu,            November 2013
Tim penyusun



DAFTAR ISI


Halaman judul..............................................................................................     
Halaman Pengesahan...................................................................................     i
Kata pengantar.............................................................................................     ii
Bab I Pendahuan..........................................................................................     1
Bab II Keadaan wilayah..............................................................................     3
A.    Wilayah administrasi penyuluh........................................................     3
B.     Keadaan sosial ekonomi masyarakat................................................     4
Tujuan..........................................................................................................    12
Masalah........................................................................................................    14
Rencana kegiatan.........................................................................................    16
Penutup........................................................................................................    19
Lampiran......................................................................................................     





BAB I
PENDAHULUAN

Programa penyuluhan pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan menganut prinsip adanya kesirnegian dan keterpaduan dengan program pembangunan pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan yang dicanangkan pemerintah. Program penyuluhan pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan harus sinergis dan terpadu dengan program pembangunan pertanian pemerinah. Kesinegisan program penyuluhan mengandung makna bahwa dalam penyusunannya harus sejalan dengan program pembangunan pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan sedangkan program penyuluhan yang terpadu mengandung makna bahwa penyusunan program penyuluhan perlu memperhatikan program pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota madya, provinsi dan pusat.
Programa penyuluhan yang disusun adalah programa penyuluhan tingkat kecamatan. Program penyuluhan ini di susun sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan pada tahun anggaran berikutnya yaitu pada tahun 2014. Programa penyuluhan ini nantinya akan dijadikan dokumen resmi yang dijadikan panduan oleh penyuluh tingkat kecamatan dalam melakukan penyuluhan dan dimasukan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kecamatan (RPJMK).
Programa penyuluhan ini disusun berdasarkan data dan informasi mengenai potensi wilayah sasaran yang diperoleh dari masing-masing desa dalam wilayah administratif penyuluh. Data dan informasi yang diperoleh tersebut disinergikan dengan program pembagunan kehutanan tingkat kabupaten. Data dan informasi mengenai potensi wilayah diidentifikaasi berdasarkan tingkat prioritas masalah (impact point) yang ditemukan di daerah sasaran.
Wilayah sasaran penyuluhan memiliki areal yang potensial dalam meningkatkan produksi tanaman pertanian. Peningkatan produksi yang dimaksud adalah dalam hal pemanfaatan lahan yang maksimal dalam meningkatakan kuantitas tanaman.
Bidang kehutanan, peningkatan populasi tanaman kehutanan dengan pola sistem mata lima menjadi salah satu alternatif pola tanaman yang baik. Dipandang dari segi ekologis dapat memberikan sumbangsi yang cukup singnifikan terhadap kelestarian kawasan hutan lindung TWA Baumata yang ada di kecamatan Taebenu sesuai fungsinya. Secara ekonomis pendapatan petani dengan sendirinya akan ikut berpengaruh signifikan.
Pola tanam tanaman kehutanan yang ada disekitar kawasan lindung Baumata khususnya dan masyarakat desa pada umumnya belum tertata dengan baik. Hal ini pastinya memberikan dampak, baik dari segi ekologis maupun ekonomis. Pola tanam yang tidak tertata baik menyebabkan kurangnya pemanfaatan lahan dibawah tegakan tanaman muda. Hal ini tentunya akan berimplikasi terhadap efek kaku (fIreeze efect) pada masyarakat sekitar kawasan. Efek kaku yang dimaksud berupa ketidakberanian petani untuk mencoba pola tanam baru karena keterbatasan pengetahuan.
Data dan informasi bidang perkebunan pada daerah sasaran menunjukan adanya kelesuan dalam hal kuantitas dan kualitas produksi. Tanaman Jambu mete yang yang merupakan komoditi perkebunan yang dikembangkan di kebun masyarakat mengalami kelesuan dalam pemasaran produk serta penanganan pasca panen yang belum optimal. Untuk komoditi jenis tanaman pangan cendrung diusahakan untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga saja. Konsep pemasaran terhadap komoditas tanaman pangan masih dalam skala kecil. Hal ini terjadi oleh karena dibatasi oleh berbagai dinamika dalam komunitas masyarakat pada masing-masing desa yang ada di kecamatan Taebenu. 
Bertolak dari keadaan tersebut maka perlunya disusun programa penyuhan pertanian di kecamatan Taebenu. Dengan tersusunnya programa penyuluhan di kecamatan Taebenu ini, diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman kerja bagi penyuluh dalam melaksanakan tugas penyuluh sehingga memberikan hasil yang signifikan dan spesifik mempunyai daya saing yang tinggi terhadap peningkatan produktivitas komoditi unggulan bidang pertanian.   
  

BAB II
KEADAAN WILAYAH

A.    Wilayah administratif penyuluhan
Wilayah kerja penyuluh terletak di wilayah administrasi kecamatan Taebenu kabupaten Kupang. Memiliki luas wilayah luas wilayah kecamatan (102,86 km2). Pembagian wilayah kerja penyuluh pertanian kecamatan Taebenu terdiri dari 8 Desa, untu lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Kecamatan taebenu berada pada ketinggian ±60 mdpl. Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:
Ø  Utara              : Kecamatan Kupang tengah
Ø  Timur              : Kecamatan neka mese
Ø  Selatan           : Kecamatan Amarasi
Ø  Barat              : Kecamatan Kota Kupang



B.     Keadaan sosial ekonomi masyarakat
a)      Penduduk
Ø  Jumlah penduduk, Luas wilayah dan kepadatan penduduk kecamatan Taebenu
Ø  Jumlah penduduk menurut jenis klamin

b)     Mata pencaharian
Masyarakat kecamatan Taebenu pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani. Berikut adalah data jumlah penduduk menurut desa dan jenis pekerjaan di kecamatan Taebenu.

c)      Potensi wilayah
Ø  Iklim
Berdasarkan data analisis curah hujan selama lima tahun terakhir. Kecamatan Taebenu memiliki jumlah bulan basah 27 bulan dan bulan kering 33 bulan. Dengan demikian tipe iklim Kecamatan Taebenu menurut klasifikasi iklim Schmidt–Ferguson, termasuk dalam tipe iklim E (semi arid) dengan nilai Q = 1,22. Kawasan TWA Baumata termasuk dalam tipe ekosistem hutan daratan sedang dengan tipe vegetasi hutan sabana. Rata-rata curah hujan tahunan adalah 136,8 mm/tahun dan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Februari dengan sebanyak 409,4 mm dan terendah berkisar pada bulan Juli (2,4 mm) dengan rata-rata jumlah hari hujan adalah yaitu 10 hari/tahun.

Ø  Tata guna lahan
Jenis tanah di wilayah Kecamatan Taebenu terdiri dari jenis tanah mediteran, rencina, litosol, dan regosol vulkan. Sebagian besar lokasinya berbatu karang. Sedangkan kondisi hidrologi di wilayah ini bervariasi hal ini karena curah hujan yang tidak menentu setiap tahunnya. Berikut adalah data tataguna lahan di kecamatan Taebenu.
Jenis Tanaman
Luas (ha)
Persentasi (%)
Padi sawah
305
19,91
Jagung
907
59,20
Ubi kayu
197
12,86
Kacang tanah
123
8,03
Jumlah
1532
100
            Sumber: Taebenu dalam angka, 2012


Ø  Topografi
Pada umumnya Kecamatan Taebenu bertopografi datar, bergelombang dan berbukit. Kecamatan Taebenu bertopografi datar, berbukit dengan kelerengan yang landai agak curam dan bergelombang ringan dengan kelerengan lahan rata-rata 25 %.

Ø  Tanaman Pangan
Jagung merupakan komoditas unggulan tanaman pangan di kecamatan Taebenu. Selain memiliki luas lahan yang lebih besar tanaman jagung termasuk dalam peringkat tertinggi dalam hal produktivitas hasil. Pada urutan berikut adalah ubi singkong/ubi kayu, kemudian padi sawah dan kacang tanah. Berikut adalah tabel luas panen dan rata-rata produksi tanaman pangan di kecamatan Taebenu.

Ø  Tanaman Hortikultura
Jenis tanaman hortikultura yang dibudidayakan masyarakat bermacam-macam. Produksi tertinggi tanaman hortikultura di kecamatan Taebenu adalah tanaman kacang panjang. Pada urutan berikutnya adalah petsai/sawi dan pucuk labu kuning, kangkung dan mentimun. Berikut adalah data produksi tanaman Hortikultura.
           
Produksi tanaman buah-buahan di kecamatan Taebenu cukup signifikan dilihat dari produktifitasnya. Komoditi jeruk berada pada ranking yang paling tinggi disusul tanaman pepaya, jeruk, sirsak dan mangga. Berikut adalah tabel produksi buah-buahan menurut desa di kecamatan Taebenu.
Tabel 1.9. Produksi buah-buahan menurut desa dan jenis buah di kecamatan Taebenu

Jenis Tanaman
Produksi (kw)
Persentasi (%)
1.
Jeruk
8248
65,92
2.
Pisang
1198
9,57
3.
Mangga
805
6,43
4.
Pepaya
1231
9,84
5.
Siksak
1031
8,24
Sumber: Dinas pertanian dan tanaman pangan kabupaten kupang

Ø  Tanaman Perkebunan
Komoditi perkebunan yang menjadi unggulan di kecamatan Taebenu adalah tanaman kemiri, kelapa, dan jambu mete. Untuk jenis komoditi lainnya juga dikembangkan tetapi belum menjadi prospek utama masyarakat desa seperti tanaman coklat. Untuk lebih jelasnya dapat diilihat pada tabel berikut.

Ø  Tanaman Kehutanan
Komoditi tanaman jenis kehutanan yang bayank diusahakan masyarakat adalah tanaman Jati (Tectona grandis). Selain itu juga terdapat beberapa jenis tanaman lain namun belum menjadi prospek masyarakat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut.




C.    Program penyuluhan dinas terkait

Berdasarkan atas asas sinergisitas dan keterpaduan, maka penyusunan programa penyuluhan pertanian dapat berjalan bila terdapat program pembangunan pertanian oleh pemerintah pada daerah sasaran penyuluhan sehinga programa penyuluhan dapat berjalan secara terpadu dengan program pembangunan pertanian.
Program pembangunan propinsi NTT terutama pada bidang pembangunan pertanian cukup banyak. Hal ini tentunya dilatarbelakangi atas kondisi daerah yang agraris dan mayoritas masyarakatnya adalah petani miskin. Berikut adalah beberapa program pembangunan bidang pertanian pemerintah yang telah diperoleh penyuluh.
A.    program peningkatan ketahan pangan
No
Kegiatan
Anggaran (Rp)
1
Penanganan daerah rawan pangan
625.780.600
2
Kajian rantai pasokan dan pemasaran pangan
208.774800
3
Pengemabangan desa mandiri pangan
200.000.000
4
Pengembangan diversifikasi tanaman
174.023.000
5
Monitoring, evaluasi dan pelaporan
339.532.900

Jumlah
1.547.430.050
Sumber: badan ketahan pangan dan penyuluhan NTT, 2012
B.     Program Peningkatan Pemasaran Hasil Produksi Pertanian/ Perkebunan
No
Kegiatan
Anggaran (Rp)
1
Promosi atas hasil produksi pertanian/perkebunan unggulan
364.823.00

Jumlah
364.823.00
Sumber: badan ketahan pangan dan penyuluhan NTT, 2012



C.     Progaram peningkatan kesejahteraan petani
No
Kegiatan
Anggaran (Rp)
1
Penyuluhan dan pendampingan petani pelaku agribisnis
1.025.068.00
2
Peningkatan kemampuan lembaga petani
124.660.00

Jumlah
1.149.728.000
Sumber: badan ketahan pangan dan penyuluhan NTT, 2012
D.    Program peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian
No
Kegiatan
Anggaran (Rp)
1
Penyuluhan pemasaran produksi pertanian/perkebunan guna menghindari tengkulak dan sistem ijon
89.860.000

Jumlah
1.149.728.000
Sumber: badan ketahan pangan dan penyuluhan NTT, 2012



BAB III
TUJUAN

Tujuan penyusunan program penyuluhan memuat pernyataan mengenai perubahan perilaku dan kondisi pelaku utama dan pelaku usaha yang hendak dicapai. Secara umum tujuan penyusunan program penyuluhan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat desa serta sikap dalam mengembangkan dan meningkatkan potensi-potensi sumber daya yang telah ada. Sedangkan secara khusus tujuan penyusunan program penyuluhan adalah sebagai berikut:
1.      Tanaman pangan dan hortikultura
-          Masyarakat (Poktan) dapat mengoptimalkan sistem irigasi yang telah ada dengan menerapkan teknik konservasi air yang baik dalam mendukung peningkatan produksi tanaman padi dan jagung di akhir tahun 2016.
-          Masyarakat (Poktan) dapat mengetahui sistem jalur dan baris tanam serta teknik pengolahan tanah yang konservatif dalam penerapan pola tanam tanaman pangan dan hortikultura sehingga terbentuk pengelolaan tanaman pangan dan hortikultura yang konservatif di akhir tahun 2016
-          Keterampilan  masyarakat semakin tinggi dalam pengaplikasian pupuk, herbisida dan insektisida sesuai anjuran yang ditetapkan pada tanaman sayur-sayuran di akhir tahun 2016
-          Masyarakat (Poktan dan Gapoktan) dapat mengetahui jenis serangga yang tergolong hama, predator, dan parasit pada tanaman pangan dan hortikultura dalam melakukan pengendalian hama di akhir tahun 2016
2.      Tanaman perkebnunan
-          Pengetahuan masyarakat semakin tinggi terhadap konsep konservasi tanah pada lahan perkebunan di akhir tahun 2016
-          Produksi hasil perkebunan kemiri dan jambu  mete unggulan masyarakat (poktan dan Gapoktan) semakin tinggi di akhir tahun 2016
-          Meningkatnya informasi teknologi benih, pupuk, herbisida dan insektisida dan informasi pasar dalam masyarakat untuk pengembangan kemiri sebagai tanaman unggulan perkebunan masyarakat di akhir tahun 2016
-          Masyarakat memiliki minat yang tinggi dalam mengembangkan pasar terhadap komoditas perkebunan unggulan di akhir tahun 2016
3.      Tanaman kehutanan
-          Masyarakat dapat menerapkan pola tanam Jati dan mahoni sesuai dengan karakteristik tanaman yang diusahakan dengan benar di akhir tahun 2016
-          Masyarakat dapat mengetahui penanganan pemeliharaan tanaman di areal pembibitan  maupun pada areal penanaman di lapangan dengan benar di akhir tahun 2016
-          Masyarakat dapat mengetahui teknik pengolahan tanah pada areal tanaman kehutanan yang diusahakan dengan benar diakhir tahun 2016



BAB IV
MASALAH

Penyusunan programa penyuluhan didasari atas masalah-masalah yang berkaitan dengan faktor yang bersifat prilaku dan faktor-faktor non prilaku. Masalah yang diidentifikasi merupakan masalah riil lingkungan usaha pelaku utama dan pelaku usaha, potensi sumberdaya daerah sasaran, ketersediaan sarana dan prasarana pertanian dan lain sebagainya.
            Teknik penetapan masalah dilakukan dengan cara identifikasi masalah-masalah pokok  sasaran dengan cara melakukan perengkingan (impact point) terhadap masalah-masalah yang ada dari masing-masing desa di kecamatan Taebenu. Beberapa permasalahan hasil identifikasi yang telah dilakukan penyuluh diklasifikasikan berdasarkan bidang kajian masing-masing potensi yaitu, bidang tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan kehutanan dan peternakan. Berikut adalah penyajian masalah-masalah pada bidang kajian yang teridentifikasi.
1.      Masalah pada bidang tanaman pangan dan hortikultura
-          Pemanfaatan irigasi belum optimal dalam pengembangan tanaman padi sawah dan jagung
-          Pengetahuan yang rendah tentang sitem jalur dan baris serta pengolahan tanah dalam penerapan pola tanam tanaman pangan dan hortikultura
-          Aplikasi pemupukan, herbisida dan insektisida yang tidak sesuai anjuran pada tanaman sayur-sayuran masih sangat tinggi
-          Masyarakat belum mampu membedakan jenis serangga yang tergolong hama, predator, dan parasit dalam melakukan pengendalian hama tanaman pangan dan hortikultura.
2.      Masalah pada bidang tanaman perkebunan
-          Rendahnya pemahaman masyarakat terhadap konsep konservasi tanah pada lahan perkebunan
-          Produksi hasil perkebunan kemiri dan jambu mete unggulan masyarakat belum maksimal
-          Kurangnya informasi teknologi benih, pupuk, herbisida dan insektisida dan informasi pasar untuk pengembangan kemiri sebagai tanaman unggulan perkebunan masyarakat
-          Rendahnya minat masyarakat dalam mengembangkan pasar terhadap komoditas perkebunan unggulan
3.      Masalah pada bidang kehutanan
-          Penerapan pola tanam Jati dan mahoni tidak sesuai dengan karakteristik tanaman yang diusahakan
-          Terbatasnya pengetahuan masyarakat dalam penanganan pemeliharaan tanaman di areal pembibitan maupun pada areal penanaman di lapangan
-          Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang teknik pengolahan tanah pada areal tanaman kehutanan yang diusahakan