Episode 03.“Hotel
Sun”: Rumah dan Suasana baru di Jogyakarta
Kini,
tahapan berikutnya sudah menanti. Pada tahun kedua, pendidikan di fokuskan pada
kompetensi pedagogik. Pendidikannya bukan lagi di Politani Kupang. Kami harus berangkat
ke Jogyakarta, sebab di sanalah LPTK nya. Lingkungan dan suasana baru, itulah
yang akan kami alami di negeri Keraton itu.
Tanggal
28 Oktober 2012 menjadi hari bersejarah bagi kami. Itulah hari di mana kami tiba
di Jogyakarta dan menjadi awal kisah kami dalam setahun pendidikan di sana. Kira-kira
pukul 17.00 WIB, roda pesawat Batavia Air mendarat mulus di atas landasan pacu bandara
Adisumarno. Legah rasanya, kami dapat tiba dengan selamat setelah sebelumnya
transit di Juanda.
Tidak
ada lagi kelelahan yang tampak dari raut wajah para calon guru ini. Sumringah
senyuman tak henti-hentinya terpancar dari wajah kami. Sesekali senyuman itu
dialamatkan pada beberapa orang yang ada dalam ruang kedatangan. Sambil
menunggu tas dan koper dari bagasi, troli bandara pun disiagakan untuk bawaan
kami. Satu per satu mulai menggiring bawaan masing-masing. Menelusuri lorong demi
lorong dariruang kedatangan menuju parkiran.
Bus
biru jumbo telah menunggu di parkiran. Kami terbagi menjadi dua rombongan. Bus
pun siap mengantarkankami.Dua bus biru bertuliskan “bus kampus UNY”, berlahan
meninggalkan area parkir bandara. Berhenti sebentar di ujung portal pos jaga
keluar bandara, menyelesaikan asministrasi retribusi parkir tahap akhir.
Layanan di portal bandara itu menyebabkan antrean kendaraan yang ingin keluar dari
bandara.
Iringan
musik dangdut gema membahana dalam bus kampus itu. Meski bukan musik favorit
kami, tidak ada yang komplain. Semua menuruti selera musik sang sopir. Inilah
suasana baru yang kami alami, dimana musik dangdut menjadi irama musik yang
merakyat di tanah jawa ini.
Bus
terus melaju. Menyusuri jalan solo yang padat dan ramai. Jalananan ini sebagai
jalur utama menuju dan keluar kota jogja. Lalu lintas kendaraan yang padat
terus bernyanyi dengan suara mesin yang bervariasi. Dinding-dinding gedung
bertingkat nan indah tertata dengan rapi. Design lampu jalan dalam kota yang
unik memanjakan mata yang sayup. Seakan memberikan kenyamanan tersendiri bagi
kami di sepanjang jalan yang dilalui. Jogja seakan telah mempersiapkan layanan
yang terbaik demi mimpi kami, dengan nuansa keramahan dan keunikan kotanya.
Kurang
lebih setengah jam perjalanan, bus yang membawa rombongan calon tenaga pendidik
ini sampai ditujuan. Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 malam. Semua rombongan
pun turun di halaman gedung fakultas. Suasana kampus sudah sepi. Hanya ada
beberapa teknisi dan security yang sedang siaga. Kami dituntun beberapa teknisi
menuju ruangan lantai dua gedung fakultas. Breafing sejenak di ruang sidang
fakultas bersama koordinator penyelenggara PPGT, Dr.Soenaryo Soenarto.
Tidak
banyak agenda yang dibahas saat itu. Pemilihan ketua kelas, ketua asrama,
pembagian kamar dan pembahasan mengenai penginapan, mengenai jadwal serah
terima peserta PPGT SMK Kolaboratif serta pembahasan mengenai jadwal kuliah
menjadi agenda utama saat itu. Hasil pertemuan ditetapkan bahwa Nikson Tamlil
sebagai ketua umum kami. Ketua asrama putra ditunjuk Theodorus Manek. Sebagai
ketua asrama putri di tunjuk Theresia Afridayati.
Ruangan
itu menjadi saksi bisu kehadiran perdana kami di Fakultas Teknik UNY. Pertemuan
singkat itu berdurasi kurang lebih satu jam. Semuanya kembali bergegas menuju
asrama yang sudah disiapkan. Mini bus kampus dan black kijang telah siap mengantar kami. Lewati jalan cempaka dan
berakhir di gang Bakung.
Kesunyian
malam di gang Bakung terpecah oleh riuh suara kami. Bukan karena ada
pertengkaran yang terjadi. Ketidaksanggupan mengontrol volume suara menjadi
penyebabnya. Bisa di maklumi. Sebenarnya itulah ciri khas OTI (Orang Timur) bila sedang berbicara.
Terdengar
suara nyaring menembus remang-remang cahaya lampu di gang itu. “ Dari mana
mas”?. Suara itu berasal dari pemilik burjo yang ada di situ. “Dari NTT”, salah
satu diantara kami membalasnya. Bersama tas dan koper masing-masing, kami
bergegas ke penginapan yang kami sebut sebagai kontrakan dan juga sebagai
kos-kosan itu. Bayangan asrama kampus yang awalnya dibilang gratis itu, sangat
jauh dari harapan kami. Sehingga dalam perkembangannya, kontrakan itu kami sebut
sebagai “hotel sun”. Sebuah nama yang
identik dengan sebutan asrama yang berbayar.
Sungguh,
kami sudah tak sabar lagi untuk menikmati malam pertama di kota jogja ini. Meski
tampak lelah, belum semua di antara kami yang langsung tidur. Beberapa
di antaranya langsung memburu makanan di Burjo depan penginapan. Ada juga yang
langsung belanja perlengkapan mandi. Perjalanan
panjang hari itu memang sangat melelahkan. Istrahat dan tidur menjadi solusi
terbaik melepas lelah sepanjang hari. Siapkan raga menyonsong hari demi hari
yang masih panjang.
Hotel
sun, kini menjadi bagian dalam hari-hari kami. Bangunan megah berlantai dua itu
khusus disiapkan untuk kami. Diapiti bagunan kos-kosan lain yang juga di
sewakan, menandakan bahwa kami tidak sendirian dilingkungan itu. Lingkungan
dengan tingkat ketenangan dan kesunyian yang tinggi. Kebisingan suara sangat
jarang terdengar. Dan memang disini adalah pusat kos-kosan mahasiswa dari
berbagai daerah terutama dari wilayah Indonesia barat. Keadaan seperti itu,
mengharuskan kami mampu beradaptasi.Terlebih khusus mengontrol volume suara
yang menggelegar.
Hotel
sun menjadi rumah kami, menjadi hati kami, menjadi jantung dan empedu kami.
Suka dan duka hadir disana.Tegak dan kokoh berdiri bersama tiang dan dinding
gedung nan megah. Banyak cerita telah dikemas dalam versi kami masing-masing.
Cerita yang terlahir dari panggilan profesi kami dan tetap membekas di setiap
sudut bangunan hotel sun itu.