Menjadi Aku Apa adanya

Jadilah dirimu sendiri karena engkau berharga, tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu dan engkau selalu dikasihi-Nya dengan cinta yang sama!” - Sr. M Fransita, FCh .

Menatap Senja yang Akan Pergi

Jadilah benih yang baik, yang siap mendengarkan, mengerti dan berbuah di dalam Sabda Tuhan. Peliharalah iman selalu, teguh dan peka akan Kristus.

Menikmati CiptaanNya yang selalu jujur

Alam selalu memberikan kejujuran akan keindahannya yang tak mampu kita bantah.

Menyatu Bersama Alam Kepunyaan-Nya

Semangat Kerendahan Hati lebih manis daripada madu, dan mereka yang menyuburkan dirinya dengan madu akan menghasilkan buah yang manis” - St. Antonius dari Padua -

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Selalu Siaga dalam keadaan apapun

Akal budi membuat orang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran

Mencintaimu Tanpa Batas

Kekuatan Sesungguhnya adalah cinta kita yang dipersatukan Oleh-Nya.

Rabu, 18 Februari 2026

Mengukur Kandungan Air Tanah

 Pengukuran kandungan air tanah bertujuan menjaga air tersedia berada pada kisaran optimal antara kapasitas lapang dan titik layu permanen. Melalui metode gravimetrik, tensiometer, atau sensor elektronik, status air tanah dapat dipantau sehingga kebutuhan air tanaman buah semusim terpenuhi secara tepat waktu dan tepat jumlah.

Kandungan air tanah adalah jumlah air yang tersimpan di dalam pori-pori tanah dan tersedia bagi tanaman. Air tanah berfungsi sebagai:

  • Pelarut unsur hara

  • Media transportasi nutrisi ke akar

  • Penentu aktivitas fisiologis tanaman (transpirasi, fotosintesis)

Pada tanaman buah semusim, kandungan air tanah sangat krusial karena:

  • Siklus hidup pendek

  • Sensitif terhadap cekaman air, terutama fase berbunga dan pembentukan buah

  • Kekurangan air → buah kecil, pecah, rasa kurang optimal

  • Kelebihan air → akar busuk, serangan penyakit

berikut adalah LKPD nya: Baca dan Dowload disini

Selasa, 08 Juli 2025

Curahan Hati Isteriku (Apapun caranya akan aku lakukan meskipun itu mengorbankan diriku)

 Harapan di Setiap Pagi

 

Pagi ini, aku membuka mata dengan hati yang penuh harap. Ada secercah cahaya di ujung hari, dan aku menyambutnya dengan syukur yang dalam kepada Sang Pemberi Hidup. Meski tubuh terasa lelah karena rutinitas yang tak pernah usai, ada semangat yang terus menyala di dadaku. Aku menjalani pagi ini seperti biasanya—mencuci, memasak, menyapu, dan merapikan rumah yang kembali berantakan. Namun, tak ada keluhan yang keluar dari mulutku. Justru ada sukacita yang mengalir dalam tiap langkahku.

 

Hari ini lebih istimewa dari biasanya. Suamiku, yang dua hari terakhir terbaring lemah karena sakit, akhirnya kembali masuk kerja. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi tekad dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru tak pernah padam. Aku tahu betapa besar rasa sakit yang ia tahan, betapa keras ia berusaha tetap berdiri demi menjalankan tugas yang ia cintai.

Setiap hari, aku selalu berusaha menjadi penguatnya. Kata-kata dukungan, pelukan, doa—semua kuhadirkan agar ia tahu, ia tidak sendiri. Tapi aku pun hanya manusia. Ada kalanya aku lelah, dan amarah itu muncul ketika keluhannya datang bertubi-tubi. Ketika ia memintaku mencarikan cara lain agar sakitnya hilang, aku sempat merasa jenuh. Tapi kemudian aku sadar—seharusnya aku lebih sabar. Seharusnya aku menjadi tenang, bukannya terbawa emosi.

Aku telah mencoba segalanya demi kesembuhannya. Membawanya ke dokter, ke rumah sakit, menemui pendoa, tukang urut, bahkan aku tuntun dia bermeditasi. Tak ada jalan yang terlalu berat jika itu bisa membawanya kembali sehat. Meski ragaku letih, meski kadang air mataku menetes diam-diam di sudut dapur, aku tetap berjalan. Karena untukku, kesembuhannya adalah segalanya.

 

Aku tak ingin ia membantu mengurus rumah, meski hanya sekadar mencuci gelas. Biarlah aku yang mengerjakan semuanya. Yang terpenting adalah ia bisa istirahat, bisa kembali tersenyum, bisa kembali mengajar dengan penuh semangat seperti biasanya. Aku ingin melihat binar matanya yang dulu. Mendengar tawa ringannya. Merasakan genggaman tangannya yang hangat tanpa dibalut rasa sakit.

 

Itulah sebabnya, setiap pagi aku selalu memulai dengan semangat baru. Aku belajar bersyukur, meski hari-hari tak selalu mudah. Aku percaya, hari ini akan selalu lebih baik dari hari kemarin. Harapan itu tak pernah padam dalam doaku—semoga Tuhan memulihkan tubuhnya, menguatkan jiwanya, dan memeluk kami dengan kasih yang tak berkesudahan.



Hari Ini, Demi Dia

 


Pagi ini, dengan penuh kasih aku siapkan bekal untuk suamiku tercinta. Bukan sekadar makanan, tapi wujud cintaku dalam bentuk sederhana: sepiring menu sehat tanpa minyak, tanpa bumbu yang tajam, tanpa pedas yang bisa mengusik lambungnya. Hanya rasa garam yang secukupnya—itulah yang dia butuhkan, dan entah bagaimana, itu yang paling cocok di lidahnya. Ia tak pernah mengeluh. Tak pernah minta lebih. Dan aku pun merasa tenang karena tahu, masakanku bisa sedikit meringankan rasa sakitnya.

Bagiku, mencintai berarti melakukan segala yang terbaik untuknya—bukan karena diminta, tapi karena hati ini tak bisa diam saat melihatnya berjuang.

 

Hari ini, tubuhnya belum cukup kuat untuk mengendarai motor ke sekolah. Otot-ototnya masih terasa sakit, langkahnya belum sepenuhnya mantap. Tapi ia tetap memilih untuk pergi. Dengan senyum yang dipaksakan kuat, ia berusaha menyembunyikan rasa nyeri, seolah tak ingin aku khawatir. Tapi aku tahu... aku bisa membaca matanya. Mungkin ia tidak ingin membuatku sedih, jadi ia lawan sakitnya demi melihatku tetap tersenyum.

Dalam hati kecilku, aku terus berdoa, “Tuhan, sembuhkanlah dia… Beri dia kekuatan hari ini. Jadikan hari ini lebih baik dari kemarin.”

 

Suamiku berangkat dengan dibonceng oleh Pak Antonius—sahabat kami yang tak pernah lelah menjadi penolong di saat sulit. Tak terhitung sudah berapa kali beliau datang menolong tanpa mengeluh, selalu hadir ketika kami tak berdaya. Aku sering berpikir, kebaikan seperti milik Pak Antonius tak bisa dibalas dengan apa pun. Maka, satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berdoa… memohon Tuhan memberkatinya dengan kesehatan, rezeki, dan kasih berlimpah dalam hidupnya.

 

Setelah suamiku pergi, aku kembali pada rutinitas rumah tangga. Satu per satu pekerjaan rumah kuselesaikan, meski badan lelah, hati ini tetap terisi semangat. Di sela waktu, kuambil jeda sejenak. Kusandarkan punggung, kubuka YouTube di ponselku, dan biarkan alunan musik rohani memenuhi ruangan. Lagu-lagu itu seperti doa yang tak terucap, mengalun lembut menenangkan batin yang lelah.

 

Mereka bilang, jika kamu penat, stres, atau banyak beban pikiran, kembalilah pada hobimu. Maka aku menyanyi. Aku mendengar musik. Dalam suara-suara itu, aku merasa pulih. Aku merasa hidup kembali. Musik menjadi sahabat yang memelukku, menyeka air mata yang tak terlihat.

 

Sore menjelang, aku berdiri di depan pintu rumah. Menanti. Menyambut suamiku pulang. Saat kulihat senyum itu—meski tak sepenuhnya tulus karena menahan nyeri—aku tersenyum lebih lebar lagi. Aku sambut dia dengan hangat, bertanya seperti biasa: “Bagaimana harimu? Apa yang kamu rasakan di sekolah? Apa yang kamu lakukan dengan murid-muridmu? Siapa yang kamu temui hari ini?”

Aku ingin menjadi tempatnya bercerita. Tempat dia berlabuh. Aku ingin, di balik kelelahan dan sakit yang ia rasa, hatinya tetap merasa tenang karena tahu ada aku, yang akan selalu mendengarkan.

 

Dia berkata hari ini menyenangkan. Teman-teman guru memberinya semangat. Bahkan ada yang menyarankan obat herbal untuk lambungnya. Ia tampak antusias. Dan aku, seperti biasa, siap mendukung semua ikhtiarnya. Selama itu bisa membuatnya pulih, apa pun akan kulakukan. Hari ini kami tutup dengan syukur. Bukan karena semuanya sudah baik-baik saja, tapi karena kami masih punya harapan. Kami masih punya cinta. Dan di balik semua perjuangan, kami tahu... Tuhan tak pernah jauh.

 

Di Balik Doa Pagi dan Sinar Mentari

 

Hari itu seperti pagi-pagi lainnya yang selalu kami awali dengan doa bersama. Dalam keheningan pagi, kami bersyukur untuk nafas kehidupan yang masih Tuhan percayakan, untuk malam yang telah berlalu dengan penyertaan kasih-Nya yang tak pernah lekang. Kami berserah penuh—memohon kekuatan dan perlindungan-Nya atas hari yang baru dimulai.


Setelah doa itu, aku menjalankan rutinitas yang sudah begitu akrab dengan tubuh dan hatiku: merapikan tempat tidur, menyapu lantai, menjemur pot-pot stroberi kecil kami di bawah cahaya matahari agar tumbuh dengan segar. Aktivitas sederhana yang justru membuatku merasa hidup, membuatku bersemangat menjalani peran ini sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.

Memasak dan menyiapkan sarapan untuk suamiku menjadi bagian paling istimewa setiap pagi. Dengan penuh kasih, aku menyiapkan bekal agar ia tetap kuat, agar sakitnya tidak kambuh ketika berada di sekolah. Di dalam doaku, selalu kuselipkan satu harapan: semoga Tuhan segera menyembuhkan suamiku dan memberikan kesehatan untuk kami berdua setiap hari.

 

Tuhan belum mengabulkan kerinduan terdalam kami untuk memiliki buah hati. Tapi kami tidak menyerah. Kami tetap bersyukur. Kami percaya bahwa Tuhan mendengar setiap keluh kesah dan permohonan kami. Kami percaya bahwa waktu Tuhan selalu tepat—indah meski kadang harus melalui penantian panjang.

 

Setiap hari, kami temukan tawa dan penghiburan lewat Zean, si kecil dari ibu kos. Anak itu seperti sinar kecil yang menerangi hari-hari kami. Tertawanya, celotehnya, tingkah lakunya—semua itu membawa keceriaan tersendiri di tengah perjuangan kami. Kadang kami tertawa begitu lepas hingga lupa akan sakit dan letih.

 

Selain Zean, musik menjadi pelipur lara kami. Musik rohani, pop barat, lagu daerah—semuanya menjadi teman setia kami di rumah kecil ini. Salah satu hiburan kami adalah karaoke dengan speaker bluetooth sederhana yang kami beli secara online. Hal-hal kecil itu mungkin tak berarti banyak bagi orang lain, tapi bagi kami, itu adalah bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dan stres, apalagi di tengah keterbatasan karena pandemi. Kami menjaga diri, membatasi aktivitas di luar rumah, selalu bermasker, dan setia menjaga kebersihan. Itu bentuk tanggung jawab kami—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk sesama.

 

Tuhan menunjukkan kasih-Nya lewat orang-orang luar biasa. Saat suamiku sakit dan dalam proses pemulihan, selalu ada tangan-tangan penuh kasih yang hadir. Pak Humala dan Pak Anton, dua sosok yang bukan sekadar teman, tapi sudah seperti saudara bagi kami. Mereka yang membantu membeli obat, mengantar ke dokter, menemani belanja, bahkan siaga di rumah sakit saat suami dirawat. Aku tak bisa membalas semua itu, selain mengangkat doa yang dalam agar Tuhan membalas kebaikan mereka dengan berkat yang melimpah.

 

Lalu ada Ibu Haji Erna, dengan hatinya yang tulus. Tak hanya peduli, beliau juga hadir dengan kasih nyata—mengirim makanan, buah, hingga menawarkan pengobatan herbal. Dan aku ingin menceritakan satu hari yang begitu membekas, Minggu, 19 September 2021.

Pagi itu, kami berangkat ke tempat ibadat di Tontoyon. Mengikuti misa bersama Pastor Jufri dan umat Katolik Buol yang jumlahnya tak seberapa, tapi hatinya besar. Selesai misa, kami sempat bercanda, berfoto bersama Pastor, Ci Jenifer, Ko Steven, dan Keiza kecil. Setelah itu, seperti ibu rumah tangga pada umumnya, aku dan suami ke pasar. Hari Minggu adalah hari pasar—sayuran segar, harga terjangkau.

 

Kami berbelanja. Tapi saat perjalanan pulang, baru beberapa menit dari pasar, suami mendadak menghentikan motor. Ia merasa kelelahan. Kami berhenti, makan bekal nasi dan telur dari rumah. Tapi cuaca begitu panas, matahari menyengat, dan tubuh kami benar-benar kelelahan. Aku tak mengizinkannya membawa barang belanjaan, aku ingin ia fokus pada pemulihannya. Setelah makan, kami lanjut pulang, namun tak lama, ia kembali menghentikan motor. Kali ini ia lemas, sangat lemas. Kami harus meminta tolong pada seseorang yang lewat untuk mencarikan bentor.

Tuhan mengirim penolong itu. Ia kembali dengan bentor dan membawa kami pulang. Di tengah jalan, tepat di depan toko Bunda dan Bapak—rumah Ibu Haji Erna—suamiku meminta dibelikan biskuit dan air. Aku masuk ke toko, dan saat Bunda melihatku, ia langsung tahu aku sedang dalam situasi genting. Tanpa ragu, ia meminta kami untuk tidak langsung pulang. Kami diminta istirahat di rumahnya.

 

Saat aku masuk, suamiku sudah duduk lemas di sofa. Bunda memberinya air hangat dan nasi putih. Tidak ada lauk pun tak masalah, yang penting lambungnya bisa menerima makanan. Ia langsung menelepon Pak Anton, dan bersama Bapak, mereka mengambil motor kami yang tertinggal. Setelah suami agak kuat, kami pulang dengan mobil milik Bapak. Motor sementara dititip di rumah Bunda.

 

Saat itu aku hanya bisa menunduk dalam hati, menangis dalam diam karena begitu banyak tangan kasih yang Tuhan kirimkan. Ada juga Ibu Meli, yang dengan hati mulia memberi kami propolis dan madu pahit. Kami minum itu pagi dan sore meskipun rasanya menyiksa. Tapi, seperti yang sering kupikir, pahitnya obat belum seberapa dibanding pahitnya hidup yang harus kami jalani dengan kekuatan yang kami minta setiap hari dari Tuhan.

 

Dan malam itu, sebelum mata ini terpejam, suamiku pulang membawa salad buah—hasil kreasi Ibu Elis dan murid-muridnya di sekolah. Dengan penuh cinta, ia menyuapiku potongan kecil salad itu. Rasanya manis. Tapi bukan karena buahnya. Karena di dalamnya ada rasa syukur, ada harapan, dan ada cinta yang tetap tumbuh… bahkan dalam hari-hari yang berat. (Bersambung)

Jumat, 19 Februari 2021

Modul Belajar 5: AgriTan Buah Semusim Kls XI smtr 4

 


Kegiatan Pembelajaran 5. Melaksanakan Pembibitan Tanaman Buah Melon 



SETELAH MEMPELAJARI MATERI INI, SILAHKAN KLIK ALAMAT INI:


KEMUDIAN KERJAKAN SOAL ULANGAN 1 PADA FORM TERSEBUT LALU KIRIMKAN DENGAN CARA KLIK PADA TOMBOL SUBMIT PADA LAYER PALING BAWAH!

  1. Deskripsi 


Kompetensi Dasar (KD) Melaksanakan Pembibitan Tanaman Buah Semusim Melon berisikan uraian pokok materi; pemilihan lokasi pembibitan, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembibitan, rumah pembibitan, penyiapan media semai, memberi perlakuan, benih yang akan disemai, penyemaian benih, dan pemeliharaan pembibitan



  1. Kegiatan Belajar


  1. Tujuan Pemeblajaran


Setelah mempelajari mata pelajaran ini dan disediakan alat dan bahan pembibitan tanaman semusim melon , peserta didik mampu melaksanakan pembibitan tanaman semusim melon sesuai standar. 


2.  Uraian Materi


  1. Pendahuluan


Berkat kekuasaan Tuhan YME bentuknya benih kecil tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa karena dia diberi kekuatan oleh Tuhan YME untuk mengamalkan agar hidupnya bermanfaat pada umat dibumi ini, untuk itu  kita juga harus menjaganya juga agar tumbuhnya dapat baik dan menghasilkan. Khususnya benih melon yang akan kita tanam.

Biji atau benih melon sebaiknya disemai dulu sebelum ditanam di kebun. Ada petani yang tidak melakukan penyemaian, tetapi hal ini lebih banyak merugikan dibanding menguntungkan. Kerusakan biji ketika ditanam di lapangan bisa menyebabkan tanaman tidak tumbuh atau tumbuh kerdil. Apalagi, harga bibit melon termasuk mahal dibandingkan jenis tanaman buah lainnya. Oleh karena itu, lebih baik benih melon dikecambahkan kemudian di pelihara dalam pembibitan dulu untuk mengurangi resiko kerugian. Pembibitan dapat dilakukan di kantong plastik, polibag, atau petakan khusus pembibitan,  selama ini petani lebih suka melakukan di polibag.


  1. Pemilihan Lokasi Pembibitan


Dalam pemilihan lokasi pembibitan hal yang perlu diperhatikan antara lain: aspek teknis, ekonomis dan sosial


  1. Teknis 

Aspek teknis yang perlu diperhatikan adalah:

  1.  Kedekatan sumber air: penyelenggaraan pembibitan tanaman banyak memperlukan air untuk tumbuhnya bibit,  untuk itu perlu diusahakan tempat pembibitan didekatkan dengan sumber air agar bibit dapat disiram setiap saat.

  2. kedekatan dengan kebun yang akan ditanami: pembibitan juga diusahakan tidak boleh jauh dari kebun penanaman, karena akan memberikan resiko kerusakan pada saat pengangkutan, selain itu kegiatan dapat terpusat atau berdekatan antara kegiatan pembibitan dan persiapan lahan sehingga pengawasannya lebih mudah.

  3. Penyinaran matahari yang penuh: mengingat sinar matahari penuh dibutuhkan untuk pertumbuhan bibit maka tempat bibit dihindarkan dari naungan oleh pohon yang besar atau bangunan sehingga sinar matahari tidak sepenuhnya diterima oleh bibit. Apabila sinar yang penuh tidah terpenuhi sering terjadi etiolasi sehingga bibit tumbuhnya tidak sehat.

  4. Tanah: Tanah pada lokasi pengisian polybag harus berkualitas baik.  Sifat-sifat tanah untuk pembibitan adalah tidak kedap air, gembur dengan kadar pasir tidak lebih 60%, dan bebas kontaminasi.  Tanah untuk pengisian polybag harus disaring untuk menghilangkan kotoran, batu, ranting tanaman dan gumpalan besar.

  5. Drainese:Lokasi sebaiknya tidak terkena banjir karena akan merusak pembibitan dan bangunan, atau adanya air yang tergenang merupakan awal stres pada bibit dan ketidak seimbangan nutrisi.  Pilih lokasi yang agak tinggi dari aliran air utama, atau pastikan bahwa ada saluran air keluar yang membantu sistem drainase.


  1. Aspek Ekonomis

Pemilihan tempat pembibitan merupakan hal yang yang penting untuk menyediakan kondisi optimal sehingga menghasilkan bibit berkualitas tinggi. Tempat pembibitan sebaiknya diletakkan di tengah lokasi  dengan maksud  untuk meminimalkan jarak dan waktu transportasi.  tempat yang berada di tengah juga akan membantu kemudahan pengawasan dan pengamanan. 


  1. Aspek sosial 

Tempat pembibitan diusahakan yang berdekatan dengan perkampungan sehingga selain mudah untuk mendapatkan tenaga kerja juga membantu memberikan peluang pekerjaan dalam segala kegiatan agribisnis. Kegiatan pembibitan membutuhkan tenaga yang teliti dan rajin melihat perkembangan bibit, jangan sampai misalnya media pembibitan terjadi kekeringan maka segera dilakukan penyiraman untuk itu diperlukan tenaga penyiraman/pemeliharaan baik pada waktu pagi muapun siang hari,  sebaiknya tenaga kerja diambil kan dari perkampungan yang dekat selain juga untuk pengawasan. 

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pembibitan


Beberapa faktor yang menentukan keberhasilan pembibitan, yaitu : 


  1. Faktor Internal 

Faktor internal adalah faktor yang disebabakan oleh kondisi benih itu sendiri. Yang tergolong faktor internal adalah : 


  1. Kesehatan benih 

Benih yang kurang sehat memungkinkan tumbuhnya relatif rendah atau akan menyebabkan kematian bibit dalam pesemaian, maka benih yang berwarna dan bentuknya menyimpang sebaiknya dibuang karena benih tersebut kemungkinan besar tidak sehat.


  1. Daya kecambah 

Benih yang disimpan terlalu lama akan menurunkan daya kecambah benih, terutama benih yang dijual di toko harus lebih teliti melihat waktu kedaluwarsonya benih tersebut karena benih yang sudah kedaluwarso akan berpengaruh pada penurunan daya tumbuh benih. Benih yang baik memiliki daya kecambah lebih dari 80%. 


  1. Faktor Eksternal

Yang termasuk faktor eksternal adalah : 


  1. Air 

Benih yang tumbuh dalam pesemaian memerlukan air yang cukup. Kekurangan air dapat mengakibatkan proses perkecambahan lambat dan akhirnya kegiatan pesemaian menjadi gagal. Terdapat beberapa cara yang dilakukan untuk memberikan air yang cukup selama perkecambahan seperti benih melon memperlukan perendaman air sebelum disemaikan.


  1. Udara 

Dalam perkecambahan benih memerlukan udara yang cukup, kekurangan udara akan mengakibatkan benih tidak berkecambah. Kondisi pesemaian yang menyediakan cukup udara dan air merupakan kondisi yang ideal bagi proses perkecambahan benih.


  1. Temperatur

Benih dapat berkecambah dengan baik dan normal menghendaki kondisi temperatur yang cukup hangat ± 25⁰ C. Beberapa tanaman memerlukan temperatur yang tinggi dalam perkecambahannya. Pada daerah yang relatif dingin untuk menciptakan kondisi yang cukup hangat dan tidak terjadi fluktuasi temperatur, bedengan diberi sungkup plastik.


  1. Cahaya 

Beberapa jenih tanaman berkecambah dengan baik, apabila tidak ada cahaya. Sehingga dalam penyemaian selalu ditutup dengan media semai. Tetapi ada beberapa benih tanaman yang tidak dipengaruhi oleh cahaya termasuk benih melon membutuhkan cahaya dalam mengecambahkan benihnya,  dalam pemeraman benih melon lebih baik hasil kecambahnya  kalau diberi cahaya lampu pijar 15-25 Watt.



  1. Cara Peletakan Benih

Beberapa tanaman yang ukuran benihnya besar, keberhasilan pesemaian ditentukan oleh cara meletakan benih. Meletakan benih melon terbalik dengan bagian tempat tumbuh akar diatas akan mengurangi keberhasilan pesemaian.


  1. Rumah pembibitan


Rumah pembibitan dibuat untuk melindungi  bibit tanaman yang masih muda dari terik sinar matahari, air hujan, dan serangan hama dan penyakit. Luasan pembibitan tergantung dari luasan penanaman yang akan dilakukan, semakin luas penanaman semakin luas pula kebutuhan tempat/rumah pembibitan. Model rumah pembibitan disesuaikan dengan luas penanaman. Untuk rumah pembibitan melon yang digunakan adalah model I atau bentuk sungkup mempunyai ukuran panjang 10-15m  atau disesuaikan dengan kondisi lahan, lebar 100-120 Cm, dan tinggi ± 75 Cm sebaiknya dibuat setengah lingkaran (Gambar 4.3). Model I biasa digunakan untuk penanaman skala kecil. Polibag yang telah diisi dilapisi  media semai ditata secara berjajar, terlebih dahulu di bagian bawah dilapisi kertas koran agar perakaran bibit nantinya tidak menembus ke dalam tanah. 

Kelemahan dari model ini harus memindahkan bibit-bibit ke nampan/kotak khusus, baru diangkut ke lokasi penanaman sehingga memerlukan waktu dan tenaga lebih banyak.

Seperti halnya dalam pembibitan semangka kerangka naungan dapat terbuat dari besi, bambu, kayu atau bahan lain yang ada berbentuk setengah lingkaran. Atap sungkup dapat terbuat dari  plastik bening transparan, kain strimin atau gabungan keduanya. Apabila hanya menggunakan plastik bening transparan  maka harus sering dibuka dan ditutup. Sungkup dibuka mulai pagi hari sampai pukul 12.00 siang, kemudian ditutup. Sore hari sungkup dibuka lagi dan ditutup pada malam hari.



Gambar 5.2 Rumah/saung pembibitan melon



Apabila menggunakan kain strimin dapat digunakan berbagai macam warna. Berdasarkan pengalaman, kain kasa/strimin warna hijau memberikan pertumbuhan bibit tanaman yang lebih sehat dan cepat dibandingkan dengan warna lain. Penggunaan kain kasa/strimin mempunyai beberapa keuntungan , antara lain tidak perlu membuka dan menutup berulang-ulang karena sinar matahari yang masuk tidak 100%, selain itu pemeliharaan seperti penyiraman dan penyemprotan fungisida dapat dilakukan tanpa membuka kain kasaa/strimin. Keuntungan lainnya mencegah hama masuk ke pembibitan sehingga mengurangi penyemprotan insektisida. Pada penggunaan plastik transparan sebagai sungkup, hama seperti belalang, ulat tanah, dan anjing tanah (orong-orong) dapat dengan mudah masuk ke pembibitan. Kerugian penggunaan kain strimin sebagai penutup sungkup yaitu memerlukan biaya yang lebih tinggi dibandingkan plastik transparan bening. Pada saat musim hujan, sebaiknya digunakan rangkap antara plastik bening dengan kain kasa/strimin untuk melindungi bibit tanman dari terpaan air hujan.



  1. Penyiapan media 


Pesemaian adalah tempat menanam benih/bibit yang bersifat sementara, dimana tanaman muda/bibit ini dipelihara sampai saat dipindahkan ke lapangan. Media semai hendaknya dapat menjamin pertumbuhan perakaran setelah biji berkecambah. Oleh sebab itu media pesemaian hendaknya terdiri dari komposisi media yang dipersyaratkan oleh pertumbuhan bibit  sehingga bibit dapat tumbuh sehat dan baik.  

Komposisi media semai yang digunakan dalam pembibitan melon sangat bervariasi antara lain: anjuran Oisca Sukabumi campuran dari tanah gunung/sub soil 1 bagian, kompos yang sudah jadi 2 bagian, pasir/arang sekam 1 bagian, kapur secukupnya, insektisida karbofuran/furadan 25 g dan pupuk SP-36 50 g, anjuran Badan Pengajian dan penerapan teknologi (BPPT) terdiri dari tanah, pasir dan pupuk kandang atau kompos, dengan perbandingan 1:1:1.


Tanah media semai harus kering dan diusahakan dari kebun bambu. Tanah dari kebun bambu biasanya tidak terlalu liat dan berwarna hitam karena banyak mengandung bahan organik. Setelah ditampung, tanah yang telah dibersihkan dari serabut-serabut akar disaring dengan menggunakan penyaring pasir. Tanah lembut hasil saringan ini akan memudahkan akar bibit melon berkembang dengan baik.


  1. Beberapa hal yang harus diperhatikan yang berhubungan dengan media yaitu:

  1. Diusahakan kondisinya cukup lembab (kurang lebih 85%)

  2. Berfungsi menyediakan makanan bagi benih setelah belahan biji (cotyledon) tidak berfungsi lagi dan selama benih tersebut belum dipindahkan ke lapangan atau tempat lain.

  3. Sirkulasi udara cukup baik

Media pesemaian  sebaiknya disterilkan terlebih dahulu untuk mencegah adanya bibit-bibit penyakit yang dapat membahayakan bagi kesehatan biji atau benih. 


  1. Sterilisasi media pesemaian dapat dilakukan dengan:

  1. Autoclaf atau mengukus media pembibitan tersebut sampai 60-70° C  selama 30 menit.

  2. Menyiram dengan larutan formalin 4% sebanyak 1 liter larutan per 1 m2 luas pembibitan kemudian ditutup selama 24 jam.

  3. Menggunakan Basamid G dengan dosis 150-200 g, untuk 1 m3 media semai, aduk sampai rata ditutup dan dibiarkan selama ± 2 minggu agar gas basamid Gnya menguap. Pencampuran dan pengadukan harus menggunakan sarung tangan karena Basamid G bersifat iritasi terhadap kulit. 


Media semai yang telah disiapkan dengan komposisi yang teripilih dicampur secara homogen kemudian dimasukkan dalam wadah semai atau polybag yag sudah diberi lubang aerasi, polybag terisi media sampai 90 %, selanjutnya polybag ditata dirumah pembibitan.


  1. Perlakuan Benih 


Benih yang akan digunakan sebaiknya diberi perlakuan (seed treatment), tujuannya adalah agar benih dapat dan cepat berkecambah serta daya kecambahnya tinggi, selain itu bibit yang tumbuh nantinya akan terbebas dari penyakit.

Benih melon memerlukan perlakuan yang lebih sederhana dibandingkan dengan benih melon non-biji. Hal ini karena kulit melon cukup tipis sehingga tidak memerlukan perlakuan ekstra. Perlakuan benih melon antara lain: pencucian, perendaman, dan pemeraman. Benih direndam dengan air hangat kuku (suhu ± 40 ⁰C) dicampur pestisida (nabati, agen hayati, kimia) sesuai kondisi lapangan dan dosis anjuran selama 4- 6 jam sebelum disemai, untuk benih yang sudah di beri perlakuan pestisida maka perlakuan pestisida tidak diperlukan lagi. 

Benih ditiriskan dan diletakkan diatas kertas Koran/kertas buram yang dibasahi setebal 3-4 lapis bagian bawah bagian atas 2-3 lapis, selama 1 hari 1- 2 malam ( ± 36 jam) pada suhu 25 – 30 ⁰C. Hasil pemeraman benih akan keluar calon akar dengan panjang ± 0,5 cm ( gambar 4.1)


  1. Penyemaian Benih


Umur pembibitan melon hampir sama dengan semangka berkisar antara 10-14hari. Oleh karena itu, penyemaian benih dilakukan bila bedengan penanaman telah selesai dikerjakan. Jangan sampai terjadi bibit telah siap ditanam, sedangkan bedengan penanaman belum seleai dikerjakan. Akibatnya, bibit terlalu tua untuk ditanam. Bibit yang terlalu tua memiliki pertumbuhan yang terlambat sehingga produksi yang dihasilkan juga berkurang.  Sebelum penanaman benih perlu dipersiapkan alat pembuat lubang tanam, alat pelubang tanam ini posisi kedalamannya dapat diatur sedimikian rupa sesuai panjang kecambah (gambar 5.3) Benih dimasukkan ke dalam media polibag sedalam ± 2 cm dengan posisi calon akar menghadap ke bawah. Satu polibag diisi dengan satu benih (gambar 5.4). Kemudian tutuplah benih  dengan campuran abu sekam dengan tanah dengan perbandingan 2 : 1 yang telah disiapkan. Siramlah secukupnya. Penyemaian benih ini sebaiknya ditangani oleh 1-2 orang saja agar kedalaman penanaman benihnya seragam sehingga pertumbuhan bibitnya pun seragam.

Gambar 5.3 Alat Pelubang Tanam  di Media Polibag


Gambar 5.4 Penanaman Benih Berkecambar Dalam Polibag



Untuk menciptakan suasana hangat yang merangsang perkecambahan benih, tutuplah permukaan pesemaian dengan karung goni basah. Apabila pada hari ke-2 atau ke-3 kecambah telah muncul di permukaan media semai maka karung goni dibuka.

Untuk penanaman melon Skala besar di musim hujan, penyemaian benih sebaiknya dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama penyemaian untuk penanaman, empat hari kemudian penyemaian untuk persiapan penyulaman. penyemaian secara dua tahap ini akan memberikan pertumbuhan bibit di lapangan yang seragam antara penanaman pertama dengan penyulaman. Cadangan bibit melon untuk sulaman pada musim kemarau disiapkan 10% dari kebutuhan benih pokok, sedangkan pada musim hujan diperlukan cadangan sebesar 15-20% dari kebutuhan benih pokok.


  1. Pemeliharaan Pembibitan


Pemeliharaan dalam pembibitan meliputi  pengaturan mikroklimat, penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta sortasi bibit.


  1. Pengaturan mikroklimat

Bibit yang baru tumbuh memerlukan penyinaran matahari yang minimal. Sungkup plastik pada rumah pembibitan model I harus ditutup pada  saat hari mulai panas, kira-kira pukul 10.00 – 16.00. Pada pagi hari sampai pukul 10.00 bibit perlu mendapatkan sinar matahari  pagi yang banyak mengandung vitamin D. Pada malam hari, sungkup plastik ditutup rapat kembali untuk mencegah masuknya serangga. Pada saat muncul daun sejati, bibit mulai dilatih untuk mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak sehingga sungkup plastik harus lebih lama dibuka. Semakin lama bibit mendapatkan sinar matahari secara penuh, terutama 3-5 hari menjelang pindah ke lapangan agar bibit dapat segera beradaptasi.

  1. Penyiraman

Setiap pagi hari, bibit harus disiram air secukupnya karena pada siang hari bibit akan kehilangan air cukup banyak akibat penguapan. Pada waktu panas terlalu terik, tanah media  kering sehingga penyiraman perlu diulangi pada sore hari. Hindarilah penyiraman pada siang hari karena air yang diberikan akan segera menguap. Penguapan ini menimbulkan panas sehingga menyebabkan bibit stress dan layu terkulai , bahkan tidak jarang bibit ada yang mati.

Bibit yang terlambat  disiram akan mengalami kalayuan karana zat-zat makanan yang dibutuhkan bibit tidak dapat terserap oleh akar. Akibat lebih parah, pertumbuhan bibit menjadi kerdil. Penyiraman yang terlalu banyak akan menyebabkan terkikisnya tanah di polibag sehingga akar bibit muncul keluar. Apabila tidak segera ditutup kembali maka bibit dapat rebah dan pertumbuhanselanjutnya terganggu. (Gambar.5.5)

Gambar 5.5 Penyiraman Bibit Melon


  1. Penyiangan

Selama  pembibitan, perlu dilakukan penyiangan secara manual. Pencabutan gulma ini harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai akar bibit ikut terangkat. Setelah gulma dibersihkan, pertumbuhan bibit akan optimal karena semua zat makanan akan terserap. (gambar 5.6)

Picture 075

Gambar 5.6 Bibit Melon Sehat dan Bebas Gulma


  1. Pemupukan

Pupuk dasar yang diberikan pada media semai sudah cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan bibit sehingga penambahan pupuk kimia lewat akar tidak diperlukan. Pupuk daun majemuk yang dilengkapi unsur mikro dapat diberikan untuk memacu pertumbuhan vegetatif tanaman. Pemberian pupuk daun ini (misalnya Complesal Special Tonic atau Kemira Green) cukup sekali, yaitu pada umur 7-8 hari setelah semai.

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

Penyemprotan insektisida dilakukan bersamaan dengan penyemprotan fungisida, masing-masing setengah dari konsentrasi yang digunakan untuk tanaman dewasa. Hal ini karena kondisi tanaman yang masih muda. 

Penyemprotan insektisida dan fungisida dengan konsentrasi penuh menyebabkan daun tanaman terbakar (plasmolisis). Penyemprotan tersebut dilakukan 1-3 hari menjelang bibit ditanam dilapangan. Bila dilakukan setelah di lapangan pada tanaman yang baru dipindah akan berbahaya karena tanaman masih dalam masa kritis, yaitu masa beradaptasi . Untuk mengendalikan hama di pembibitan digunakan pestisida dengan dosis sesuai anjuran pada label kemasan.

Bibit siap tanam pada umur berkisar 10-14 hari yang mempunyai 2-3  daun sejati. (G

Gambar 5.7 Bibit Melon  Siap Tanam

Modul Belajar 4: AgriTan Buah Semusim Kls XI smtr 4

Kegiatan Pembelajaran 4.  Melaksanakan Pengajiran/ Penopang Tanaman Buah Melon 


SETELAH MEMPELAJARI MATERI INI, SILAHKAN KLIK ALAMAT INI:


KEMUDIAN KERJAKAN SOAL ULANGAN 1 PADA FORM TERSEBUT LALU KIRIMKAN DENGAN CARA KLIK PADA TOMBOL SUBMIT PADA LAYER PALING BAWAH!

  1. Deskripsi 


Kompetensi Dasar (KD) Melaksanakan Pengajiran/penopang  Tanaman Buah Melon Berisikan Uraian Pokok Materi; Jenis dan bahan ajir, Bentuk dan teknik pengajiran, tujuan pengajiran, faktor-faktor yang mempengaruhi pengajiran, pemasangan ajir, pengikatan tanaman dan buah pada ajir 


  1. Kegiatan Belajar


  1. Tujuan Pembelajaran


Setelah mempelajari mata pelajaran ini dan disediakan alat dan bahan pengajiran/penopang tanaman peserta didik mampu melaksanakan teknik pengajiran/penopang tanaman buah melon sesuai standar industri buah


Apa keuntungan dan kerugian dari kedua bentuk pengajiran diatas apabila diterapkan di tanaman melon? 

2. Uraian Materi


Ajir adalah suatu alat yang digunakan dalam budidaya tanaman melon yang berfungsi sebagai alat untuk menopang batang dan cabang  tanaman agar tanaman tersebut berdiri tegak lurus. Suatu bahan yang terbuat dari bahan yang berupa bilahan, bambu, bambu kecil, , kayu yang sudah dibentuk, besi/ pipa kecil, tali atau rafia,  pohon/cabang kayu kecil atau pohon kaso yang tumbuh di pinggir jalan atau diladang belantara. Inilah kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas yang perlu kita agungkan dengan kemurahanya kita disediakan banyak plihan untuk menopang tanaman melon agar tanamannya dapat tumbuh subur dan buahnya berkualitas.

Pengajiran pada tanaman melon dilakukan agar tanaman bisa tumbuh tegak, tidak roboh apabila ada angin besar dan cabangnya tidak patah, buah melon tidak busuk apabila terjadi pada musim hujan juga warna buah merata, bentuk buah bulat dan tidak benjol-benjul dan gepeng,  sehingga menghasilkan buah yang lebat  berkualitas  dan mempermudah pemanenan 

  1. Jenis dan bahan ajir

Jenis-Jenis bahan ajir yang bisa  digunakan diantaranya :

  1. Bahan yang berasal dari cabang-cabang  kayu yang lurus 

  2. Bahan yang berasal dari bambu

  3. Bahan yang berasal dari benang dan kawat

Kelebihan dan kekurang jenis-jenis bahan ajir:

  1. Bahan Yang berasal dari   cabang kayu :

Bahan ini bisa didapat dari cabang-cabang tanaman penghasil kayu sebagai hasil samping dari pemangkasan cabang yang tidak berguna atau berfungsi atau tidak produktif.  Kelemahan dari bahan ini selain mudah diserang rayap juga persediaannya terbatas. Kecuali kalau bahannya dari jenis kayu gelam (dari daerah luar jawa) bisa digunakan berkali-kali. (gambar 4.2)


Gambar 4.2  Cabang Cabang Pohon yang Bisa Digunakan Ajir


  1. Bahan yang berasal dari Tanaman kaso/Glagah  

Bahan ini berasah dari tanaman kaso dan biasanya tumbuh di pinggir-pinggir batangnya berbuku mirip tanaman tebu tetapi diameter batangnya relatif kecil-kecil.  Biasanya  ajir ini sering dilakukan oleh petani untuk berbagai macam tanaman termasuk melon. Harganya relatif mudah dibanding bambu.  Kelemahan dari bahan kaso ini mudah patah dan tidak kuat menanggung bahan yang agak berat sehingga mudah  rusak dan hanya bisa dipergunakan satu musim saja. dan tanaman yang berumur tidak lebih dari tiga bulan (gambar 4.3)


Kaso

                       Gambar 4.3 Tanaman Kaso/Glagah


  1. Bahan yang berasal dari bambu

Beberapa jenis bambu yang yang semuanya bisa dipergunaka sebagai bahan ajir, di antaranya : 

  1. Bambu petung yang biasanya dipergunakan untuk material bangunan rumah.  Relatif paling kokoh, keras, dengan serat besar. Berdiameter 10-15 cm, tebal 50 mm, jarak antar ruas 40-60 cm, dan panjang batang mencapai 20-25 m, bahkan lebih. Karena relatif paling besar, bambu petung/betung biasa dipakai sebagai elemen struktur bangunan.   Dua jenis yang paling sering dipakai, yakni petung hijau dan petung hitam, bambu ini sangat cocok  digunakan sebagai bahan ajir. (gambar 4.4)


image                             

Gambar 4.4 Bambu Petung yang Siap Dijadikan Ajir

 

  1. Bambu kuning biasanya banyak orang dipelihara di pekarangan-pekarangan rumah atau di taman-taman sebagai tanaman hias, karena warna kuning sehingga indah di pandang.  Untuk bahan ajar lebih bagus yang masih muda karena bentuk bambunya utuh tidak dibelah dan lebih kuat, apalagi yang sudah tua bisa dibelah-belah dan dipotong sesuai kebutuhan ukuran ajir. (gambar 4.5)

http://rahmanilmu.files.wordpress.com/2011/11/rebung-bambu-kuning.jpg

                                 Gambar 4.5 Bambu Kuning 


  1. Bambu gombong: jenis bambu ini selain diameternya lebih besar dan dagingnya lebih tebal tanamannya lebih tinggi/panjang sehingga banyak dipergunakan orang untuk bahan bangunan dan sangat cocok untuk bahan pembuatan ajir. Bahan ajir dari jenis bambu gombong ini relatif kuat asal pembagianya tidak terlalu kecil. Pembelahannya mudah dan  bisa merata.  Dan bisa dipergunakan sampai beberapa musim asal penyimpanannya tidak terkena air hujan dan percikan tanah yang akan menimbulkan tumbuhnya rayap.  Lebih baik lagi sebelum dipergunakan atau disemprot anti rayap.  ( Lihat gambar 4.6)


Gigantochloa pseudoarundinacea var. Gombong Batu

Gambar 4.6. Bambu Gombong Batu


 Masih banyak jenis bambu yang lainnya seperti bambu apus,  wulung, tutul dll yang semuanya bisa digunakan untuk bahan ajir


  1.  Bahan ajir dari benang atau kawat biasanya digunakan di lingkungan agribisnis hidroponik karena ruangannya tertutup jadi bahan yang relatif rentan rusak bisa dihindari karena bahan ajir tersebut tidak kena langsung mataharian  dan terpaan  hujan  sehingga agak tahan pemakaiannya. (Gambar 4.7)


http://jirifarm.files.wordpress.com/2011/09/hidroponik-jirifarm-1-melon-mulai-berbunga.jpg

Gambar  4.7 Ajir dari Benang

       

  1. Bentuk dan Teknik Pengajiran

Pengajiran bertujuan agar tanaman melon dapat menjalar secara vertikal/tegak,  sinar matahari secara maksimal menyebar keseluruh area tanaman, proses potosintesis berjalan maksimal sehingga pertumbuhan tanaman baik vegetatif dan generatif  menjadi lebih baik.


Bentuk pengajiran di tanaman melon yang biasa dilakukan ada 2 macam

  1. Sistem ajir miring 

Sistem ajir miring sesuai dengan namanya, pada sistem ini tanaman ditopang  ajir yang ditancapkan miring.  Ajir miring ini dipasang satu ajir untuk 1 tanaman. Dalam bentuk ini ada yang ajir sebagai vertikar/miring ada ajir yang dipasang mendatar,  Ajir yang dipasang vertikal/miring membentuk sudut 45 dengan batang tanaman.  Ukuran ajir vertikal  panjang 1,8-2,0 m lebar  ± 4 cm, dan tebal 2,5 cm.  Untuk ajir yang horisontal bagian bawah dipasang pada ketinggian ± 50 cm dari permukaan bedengan menempel ajir vertikal/miring mempunyai fungsi untuk tumpuan buah. Ajir horisontal kedua dipasang pada ketinggian ± 130 cm dari permukaan bedengan. 

Gambar 4.8 Ajir Miring


  1. Sistem ajir tegak 

Sistem ajir tegak prinsip pembuatannya sama dengan ajir miring hanya pisisi ajir vertikalnya berdiri tegak, ukuran, posisi kedekatan dengan tanaman, tingginya 2 ajir horisontal, kedalaman masuk kebedengan, hampir sama kecuali tegakan ajir vertikal dalam baris  dihubungkan dengan vertikal dalam baris lainnya menggunakan bantuan belahan bambu, sehingga posisinya kokoh. Didalam ajir tegak ini agak boros biayanya karena adanya tambahan belahan bambu penghubung (lihat gambar 4.9). 


Gambar 4.9  Ajir Tegak


Faktor-faktor  yang mempengaruhi pengajiran, diantaranya adalah:

  • Jenis tanaman, semua tanaman yang hidupnya merambat hampir dapat dilakukan pengajiran agar pertumbuhan vegetative dan generatifnya dapat hidup optimal.

  • Jenis bahan ajir, makin keras bahan ajir semakin kuat menopang tanaman

  • Cara pengajiran, cara pengajiran yang tepat akan mengurangi kerusakan tanaman.

                

  1. Pemasangan Ajir


Pemasangan ajir dengan maksud untuk mencegah tanaman yang masih muda roboh. Pemasangan ajir  harus dipasang sedini mungkin yaitu dilakukan 3 hari setelah tanam agar tidak mengganggu perkembangan akar, pemasangan ajir yang terlambat akan mengakibatkan akar tanaman rusak,  lebih baik kalau pemasangan ajir dilakukan sebelum tanam. 

Penempatan ajir dekat batang tanaman dengan jarak ± 10 cm apabila dikenhadaki satu tanaman satu batang tetapi kalau satu tanaman menjadi 2 cabang berarti ajir dengan batang utama berjarak ± 30 cm  karena posisi tanaman tempatnya ditengah-tengah antara 2 ajir  vertikal. Ajir vertikal pada bagian pangkalnya dimasukkan kepermukaan bedengan sedalam 25 cm, bagian atas ajir dipertemukan dan  di silangkan dengan ajir yang lainnya sehingga membentuk segitiga (ajir miring)  pertemuan ke dua ajir bagian bawah sampai ke permukaan bedengan tingginya  ± 130 cm semu. Fungsi ajir horisontal bagian atas adalah tempat tumpuan cabang tanaman terakhir.  Untuk ajir horisontal bagian bawah ditempatkan pada ketinggian 50 cm dari permukaan bedengan menempel setiap  ajir horisonal sepanjang bedengan,  fungsi ajir ini adalah untuk tempat bantuan menggantungnya buah. Setiap pertemuan ajir miring dan horisontal diikat dengan tali rafia atau kawat. Untuk pemasangan bentuk Ajir tegak hampir sama dengan bentuk ajir  miring.

Keunggulan Ajir miring adalah lebih kokoh dibanding ajir tegak karena ajir  satu dengan yang lainnya saling berhubungan erat. Untuk ajir tegak agar dapat kokoh posisinya maka perlu bantuan bambu/kayu penghubung sehingga setiap tegakan ajir dalam baris dihubungkan dengan ajir dalam baris lainnya. Sehingga dalam ajir tegak untuk memperkokoh posisi perlu tambahan  material yaitu bambu/kayu penghubung. Keuntungannya dibanding dengan ajir miring adalah semua permukaan daun sedikit sekali ternaungi antar daun, sirkulasi CO2, O2 sinar matahari lebih optimal, sehingga hasil potosintesis lebih optimal. Mengurangi kelembaban didalam kanopi sehingga hama penyakit relatif berkurang. 


  1. Pengikatan tanaman dan buah dengan ajir


Pengikatan batang tanaman ke ajir dimulai tanaman bercabang 6-7. dilakukan pada setiap 1-2 ruas tanaman sampai mencapai ujung ajir  dengan sistem tali wangsul  atau tali mati  sehingga posisi nya kokoh/kuat tidak berubah (Gambar 4.10.1),  Untuk buah diikatkan  pada ajir horisontal setelah buah hasil seleksi sebesar telur, tanaman berumur 32-35 setelah tanam dengan cara mengikat  antara tangkai buah dan cabang tanaman (gambar 4. 10.2). 


Gambar 4. 10 Pengikatan Batang (1), Pengikatan Buah (2)


Dengan dilakukan pengikatan pada ajir maka;

  • Pertumbuhan tanaman lebih teratur karena jarak tanaman menjadi lebar, sinar matahari dapat masuk ke sela-sela tanaman, dan sirkulasi udara berjalan lancar; 

  • lebih mudah melakukan perawatan dan seleksi bunga/buah; 

  • tanaman tidak mudah roboh oleh terpaan angin atau air hujan.