Menjadi Aku Apa adanya

Jadilah dirimu sendiri karena engkau berharga, tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu dan engkau selalu dikasihi-Nya dengan cinta yang sama!” - Sr. M Fransita, FCh .

Menatap Senja yang Akan Pergi

Jadilah benih yang baik, yang siap mendengarkan, mengerti dan berbuah di dalam Sabda Tuhan. Peliharalah iman selalu, teguh dan peka akan Kristus.

Menikmati CiptaanNya yang selalu jujur

Alam selalu memberikan kejujuran akan keindahannya yang tak mampu kita bantah.

Menyatu Bersama Alam Kepunyaan-Nya

Semangat Kerendahan Hati lebih manis daripada madu, dan mereka yang menyuburkan dirinya dengan madu akan menghasilkan buah yang manis” - St. Antonius dari Padua -

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Selalu Siaga dalam keadaan apapun

Akal budi membuat orang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran

Mencintaimu Tanpa Batas

Kekuatan Sesungguhnya adalah cinta kita yang dipersatukan Oleh-Nya.

Selasa, 08 Juli 2025

Curahan Hati Isteriku (Apapun caranya akan aku lakukan meskipun itu mengorbankan diriku)

 Harapan di Setiap Pagi

 

Pagi ini, aku membuka mata dengan hati yang penuh harap. Ada secercah cahaya di ujung hari, dan aku menyambutnya dengan syukur yang dalam kepada Sang Pemberi Hidup. Meski tubuh terasa lelah karena rutinitas yang tak pernah usai, ada semangat yang terus menyala di dadaku. Aku menjalani pagi ini seperti biasanya—mencuci, memasak, menyapu, dan merapikan rumah yang kembali berantakan. Namun, tak ada keluhan yang keluar dari mulutku. Justru ada sukacita yang mengalir dalam tiap langkahku.

 

Hari ini lebih istimewa dari biasanya. Suamiku, yang dua hari terakhir terbaring lemah karena sakit, akhirnya kembali masuk kerja. Tubuhnya belum sepenuhnya pulih, tapi tekad dan tanggung jawabnya sebagai seorang guru tak pernah padam. Aku tahu betapa besar rasa sakit yang ia tahan, betapa keras ia berusaha tetap berdiri demi menjalankan tugas yang ia cintai.

Setiap hari, aku selalu berusaha menjadi penguatnya. Kata-kata dukungan, pelukan, doa—semua kuhadirkan agar ia tahu, ia tidak sendiri. Tapi aku pun hanya manusia. Ada kalanya aku lelah, dan amarah itu muncul ketika keluhannya datang bertubi-tubi. Ketika ia memintaku mencarikan cara lain agar sakitnya hilang, aku sempat merasa jenuh. Tapi kemudian aku sadar—seharusnya aku lebih sabar. Seharusnya aku menjadi tenang, bukannya terbawa emosi.

Aku telah mencoba segalanya demi kesembuhannya. Membawanya ke dokter, ke rumah sakit, menemui pendoa, tukang urut, bahkan aku tuntun dia bermeditasi. Tak ada jalan yang terlalu berat jika itu bisa membawanya kembali sehat. Meski ragaku letih, meski kadang air mataku menetes diam-diam di sudut dapur, aku tetap berjalan. Karena untukku, kesembuhannya adalah segalanya.

 

Aku tak ingin ia membantu mengurus rumah, meski hanya sekadar mencuci gelas. Biarlah aku yang mengerjakan semuanya. Yang terpenting adalah ia bisa istirahat, bisa kembali tersenyum, bisa kembali mengajar dengan penuh semangat seperti biasanya. Aku ingin melihat binar matanya yang dulu. Mendengar tawa ringannya. Merasakan genggaman tangannya yang hangat tanpa dibalut rasa sakit.

 

Itulah sebabnya, setiap pagi aku selalu memulai dengan semangat baru. Aku belajar bersyukur, meski hari-hari tak selalu mudah. Aku percaya, hari ini akan selalu lebih baik dari hari kemarin. Harapan itu tak pernah padam dalam doaku—semoga Tuhan memulihkan tubuhnya, menguatkan jiwanya, dan memeluk kami dengan kasih yang tak berkesudahan.



Hari Ini, Demi Dia

 


Pagi ini, dengan penuh kasih aku siapkan bekal untuk suamiku tercinta. Bukan sekadar makanan, tapi wujud cintaku dalam bentuk sederhana: sepiring menu sehat tanpa minyak, tanpa bumbu yang tajam, tanpa pedas yang bisa mengusik lambungnya. Hanya rasa garam yang secukupnya—itulah yang dia butuhkan, dan entah bagaimana, itu yang paling cocok di lidahnya. Ia tak pernah mengeluh. Tak pernah minta lebih. Dan aku pun merasa tenang karena tahu, masakanku bisa sedikit meringankan rasa sakitnya.

Bagiku, mencintai berarti melakukan segala yang terbaik untuknya—bukan karena diminta, tapi karena hati ini tak bisa diam saat melihatnya berjuang.

 

Hari ini, tubuhnya belum cukup kuat untuk mengendarai motor ke sekolah. Otot-ototnya masih terasa sakit, langkahnya belum sepenuhnya mantap. Tapi ia tetap memilih untuk pergi. Dengan senyum yang dipaksakan kuat, ia berusaha menyembunyikan rasa nyeri, seolah tak ingin aku khawatir. Tapi aku tahu... aku bisa membaca matanya. Mungkin ia tidak ingin membuatku sedih, jadi ia lawan sakitnya demi melihatku tetap tersenyum.

Dalam hati kecilku, aku terus berdoa, “Tuhan, sembuhkanlah dia… Beri dia kekuatan hari ini. Jadikan hari ini lebih baik dari kemarin.”

 

Suamiku berangkat dengan dibonceng oleh Pak Antonius—sahabat kami yang tak pernah lelah menjadi penolong di saat sulit. Tak terhitung sudah berapa kali beliau datang menolong tanpa mengeluh, selalu hadir ketika kami tak berdaya. Aku sering berpikir, kebaikan seperti milik Pak Antonius tak bisa dibalas dengan apa pun. Maka, satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah berdoa… memohon Tuhan memberkatinya dengan kesehatan, rezeki, dan kasih berlimpah dalam hidupnya.

 

Setelah suamiku pergi, aku kembali pada rutinitas rumah tangga. Satu per satu pekerjaan rumah kuselesaikan, meski badan lelah, hati ini tetap terisi semangat. Di sela waktu, kuambil jeda sejenak. Kusandarkan punggung, kubuka YouTube di ponselku, dan biarkan alunan musik rohani memenuhi ruangan. Lagu-lagu itu seperti doa yang tak terucap, mengalun lembut menenangkan batin yang lelah.

 

Mereka bilang, jika kamu penat, stres, atau banyak beban pikiran, kembalilah pada hobimu. Maka aku menyanyi. Aku mendengar musik. Dalam suara-suara itu, aku merasa pulih. Aku merasa hidup kembali. Musik menjadi sahabat yang memelukku, menyeka air mata yang tak terlihat.

 

Sore menjelang, aku berdiri di depan pintu rumah. Menanti. Menyambut suamiku pulang. Saat kulihat senyum itu—meski tak sepenuhnya tulus karena menahan nyeri—aku tersenyum lebih lebar lagi. Aku sambut dia dengan hangat, bertanya seperti biasa: “Bagaimana harimu? Apa yang kamu rasakan di sekolah? Apa yang kamu lakukan dengan murid-muridmu? Siapa yang kamu temui hari ini?”

Aku ingin menjadi tempatnya bercerita. Tempat dia berlabuh. Aku ingin, di balik kelelahan dan sakit yang ia rasa, hatinya tetap merasa tenang karena tahu ada aku, yang akan selalu mendengarkan.

 

Dia berkata hari ini menyenangkan. Teman-teman guru memberinya semangat. Bahkan ada yang menyarankan obat herbal untuk lambungnya. Ia tampak antusias. Dan aku, seperti biasa, siap mendukung semua ikhtiarnya. Selama itu bisa membuatnya pulih, apa pun akan kulakukan. Hari ini kami tutup dengan syukur. Bukan karena semuanya sudah baik-baik saja, tapi karena kami masih punya harapan. Kami masih punya cinta. Dan di balik semua perjuangan, kami tahu... Tuhan tak pernah jauh.

 

Di Balik Doa Pagi dan Sinar Mentari

 

Hari itu seperti pagi-pagi lainnya yang selalu kami awali dengan doa bersama. Dalam keheningan pagi, kami bersyukur untuk nafas kehidupan yang masih Tuhan percayakan, untuk malam yang telah berlalu dengan penyertaan kasih-Nya yang tak pernah lekang. Kami berserah penuh—memohon kekuatan dan perlindungan-Nya atas hari yang baru dimulai.


Setelah doa itu, aku menjalankan rutinitas yang sudah begitu akrab dengan tubuh dan hatiku: merapikan tempat tidur, menyapu lantai, menjemur pot-pot stroberi kecil kami di bawah cahaya matahari agar tumbuh dengan segar. Aktivitas sederhana yang justru membuatku merasa hidup, membuatku bersemangat menjalani peran ini sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.

Memasak dan menyiapkan sarapan untuk suamiku menjadi bagian paling istimewa setiap pagi. Dengan penuh kasih, aku menyiapkan bekal agar ia tetap kuat, agar sakitnya tidak kambuh ketika berada di sekolah. Di dalam doaku, selalu kuselipkan satu harapan: semoga Tuhan segera menyembuhkan suamiku dan memberikan kesehatan untuk kami berdua setiap hari.

 

Tuhan belum mengabulkan kerinduan terdalam kami untuk memiliki buah hati. Tapi kami tidak menyerah. Kami tetap bersyukur. Kami percaya bahwa Tuhan mendengar setiap keluh kesah dan permohonan kami. Kami percaya bahwa waktu Tuhan selalu tepat—indah meski kadang harus melalui penantian panjang.

 

Setiap hari, kami temukan tawa dan penghiburan lewat Zean, si kecil dari ibu kos. Anak itu seperti sinar kecil yang menerangi hari-hari kami. Tertawanya, celotehnya, tingkah lakunya—semua itu membawa keceriaan tersendiri di tengah perjuangan kami. Kadang kami tertawa begitu lepas hingga lupa akan sakit dan letih.

 

Selain Zean, musik menjadi pelipur lara kami. Musik rohani, pop barat, lagu daerah—semuanya menjadi teman setia kami di rumah kecil ini. Salah satu hiburan kami adalah karaoke dengan speaker bluetooth sederhana yang kami beli secara online. Hal-hal kecil itu mungkin tak berarti banyak bagi orang lain, tapi bagi kami, itu adalah bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dan stres, apalagi di tengah keterbatasan karena pandemi. Kami menjaga diri, membatasi aktivitas di luar rumah, selalu bermasker, dan setia menjaga kebersihan. Itu bentuk tanggung jawab kami—bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk sesama.

 

Tuhan menunjukkan kasih-Nya lewat orang-orang luar biasa. Saat suamiku sakit dan dalam proses pemulihan, selalu ada tangan-tangan penuh kasih yang hadir. Pak Humala dan Pak Anton, dua sosok yang bukan sekadar teman, tapi sudah seperti saudara bagi kami. Mereka yang membantu membeli obat, mengantar ke dokter, menemani belanja, bahkan siaga di rumah sakit saat suami dirawat. Aku tak bisa membalas semua itu, selain mengangkat doa yang dalam agar Tuhan membalas kebaikan mereka dengan berkat yang melimpah.

 

Lalu ada Ibu Haji Erna, dengan hatinya yang tulus. Tak hanya peduli, beliau juga hadir dengan kasih nyata—mengirim makanan, buah, hingga menawarkan pengobatan herbal. Dan aku ingin menceritakan satu hari yang begitu membekas, Minggu, 19 September 2021.

Pagi itu, kami berangkat ke tempat ibadat di Tontoyon. Mengikuti misa bersama Pastor Jufri dan umat Katolik Buol yang jumlahnya tak seberapa, tapi hatinya besar. Selesai misa, kami sempat bercanda, berfoto bersama Pastor, Ci Jenifer, Ko Steven, dan Keiza kecil. Setelah itu, seperti ibu rumah tangga pada umumnya, aku dan suami ke pasar. Hari Minggu adalah hari pasar—sayuran segar, harga terjangkau.

 

Kami berbelanja. Tapi saat perjalanan pulang, baru beberapa menit dari pasar, suami mendadak menghentikan motor. Ia merasa kelelahan. Kami berhenti, makan bekal nasi dan telur dari rumah. Tapi cuaca begitu panas, matahari menyengat, dan tubuh kami benar-benar kelelahan. Aku tak mengizinkannya membawa barang belanjaan, aku ingin ia fokus pada pemulihannya. Setelah makan, kami lanjut pulang, namun tak lama, ia kembali menghentikan motor. Kali ini ia lemas, sangat lemas. Kami harus meminta tolong pada seseorang yang lewat untuk mencarikan bentor.

Tuhan mengirim penolong itu. Ia kembali dengan bentor dan membawa kami pulang. Di tengah jalan, tepat di depan toko Bunda dan Bapak—rumah Ibu Haji Erna—suamiku meminta dibelikan biskuit dan air. Aku masuk ke toko, dan saat Bunda melihatku, ia langsung tahu aku sedang dalam situasi genting. Tanpa ragu, ia meminta kami untuk tidak langsung pulang. Kami diminta istirahat di rumahnya.

 

Saat aku masuk, suamiku sudah duduk lemas di sofa. Bunda memberinya air hangat dan nasi putih. Tidak ada lauk pun tak masalah, yang penting lambungnya bisa menerima makanan. Ia langsung menelepon Pak Anton, dan bersama Bapak, mereka mengambil motor kami yang tertinggal. Setelah suami agak kuat, kami pulang dengan mobil milik Bapak. Motor sementara dititip di rumah Bunda.

 

Saat itu aku hanya bisa menunduk dalam hati, menangis dalam diam karena begitu banyak tangan kasih yang Tuhan kirimkan. Ada juga Ibu Meli, yang dengan hati mulia memberi kami propolis dan madu pahit. Kami minum itu pagi dan sore meskipun rasanya menyiksa. Tapi, seperti yang sering kupikir, pahitnya obat belum seberapa dibanding pahitnya hidup yang harus kami jalani dengan kekuatan yang kami minta setiap hari dari Tuhan.

 

Dan malam itu, sebelum mata ini terpejam, suamiku pulang membawa salad buah—hasil kreasi Ibu Elis dan murid-muridnya di sekolah. Dengan penuh cinta, ia menyuapiku potongan kecil salad itu. Rasanya manis. Tapi bukan karena buahnya. Karena di dalamnya ada rasa syukur, ada harapan, dan ada cinta yang tetap tumbuh… bahkan dalam hari-hari yang berat. (Bersambung)