Senin, 29 Juni 2015

“Goresan KisahYang Terlahir Dari Panggilan Profesi”



Episode 03.Hotel Sun”: Rumah dan Suasana baru di Jogyakarta

Kini, tahapan berikutnya sudah menanti. Pada tahun kedua, pendidikan di fokuskan pada kompetensi pedagogik. Pendidikannya bukan lagi di Politani Kupang. Kami harus berangkat ke Jogyakarta, sebab di sanalah LPTK nya. Lingkungan dan suasana baru, itulah yang akan kami alami di negeri Keraton itu. 

Tanggal 28 Oktober 2012 menjadi hari bersejarah bagi kami. Itulah hari di mana kami tiba di Jogyakarta dan menjadi awal kisah kami dalam setahun pendidikan di sana. Kira-kira pukul 17.00 WIB, roda pesawat Batavia Air mendarat mulus di atas landasan pacu bandara Adisumarno. Legah rasanya, kami dapat tiba dengan selamat setelah sebelumnya transit di Juanda. 

Tidak ada lagi kelelahan yang tampak dari raut wajah para calon guru ini. Sumringah senyuman tak henti-hentinya terpancar dari wajah kami. Sesekali senyuman itu dialamatkan pada beberapa orang yang ada dalam ruang kedatangan. Sambil menunggu tas dan koper dari bagasi, troli bandara pun disiagakan untuk bawaan kami. Satu per satu mulai menggiring bawaan masing-masing. Menelusuri lorong demi lorong dariruang kedatangan menuju parkiran. 

Bus biru jumbo telah menunggu di parkiran. Kami terbagi menjadi dua rombongan. Bus pun siap mengantarkankami.Dua bus biru bertuliskan “bus kampus UNY”, berlahan meninggalkan area parkir bandara. Berhenti sebentar di ujung portal pos jaga keluar bandara, menyelesaikan asministrasi retribusi parkir tahap akhir. Layanan di portal bandara itu menyebabkan antrean kendaraan yang ingin keluar dari bandara.

Iringan musik dangdut gema membahana dalam bus kampus itu. Meski bukan musik favorit kami, tidak ada yang komplain. Semua menuruti selera musik sang sopir. Inilah suasana baru yang kami alami, dimana musik dangdut menjadi irama musik yang merakyat di tanah jawa ini.
Bus terus melaju. Menyusuri jalan solo yang padat dan ramai. Jalananan ini sebagai jalur utama menuju dan keluar kota jogja. Lalu lintas kendaraan yang padat terus bernyanyi dengan suara mesin yang bervariasi. Dinding-dinding gedung bertingkat nan indah tertata dengan rapi. Design lampu jalan dalam kota yang unik memanjakan mata yang sayup. Seakan memberikan kenyamanan tersendiri bagi kami di sepanjang jalan yang dilalui. Jogja seakan telah mempersiapkan layanan yang terbaik demi mimpi kami, dengan nuansa keramahan dan keunikan kotanya.

Kurang lebih setengah jam perjalanan, bus yang membawa rombongan calon tenaga pendidik ini sampai ditujuan. Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 malam. Semua rombongan pun turun di halaman gedung fakultas. Suasana kampus sudah sepi. Hanya ada beberapa teknisi dan security yang sedang siaga. Kami dituntun beberapa teknisi menuju ruangan lantai dua gedung fakultas. Breafing sejenak di ruang sidang fakultas bersama koordinator penyelenggara PPGT, Dr.Soenaryo Soenarto.

Tidak banyak agenda yang dibahas saat itu. Pemilihan ketua kelas, ketua asrama, pembagian kamar dan pembahasan mengenai penginapan, mengenai jadwal serah terima peserta PPGT SMK Kolaboratif serta pembahasan mengenai jadwal kuliah menjadi agenda utama saat itu. Hasil pertemuan ditetapkan bahwa Nikson Tamlil sebagai ketua umum kami. Ketua asrama putra ditunjuk Theodorus Manek. Sebagai ketua asrama putri di tunjuk Theresia Afridayati.
Ruangan itu menjadi saksi bisu kehadiran perdana kami di Fakultas Teknik UNY. Pertemuan singkat itu berdurasi kurang lebih satu jam. Semuanya kembali bergegas menuju asrama yang sudah disiapkan. Mini bus kampus dan black kijang telah siap mengantar kami. Lewati jalan cempaka dan berakhir di gang Bakung. 

Kesunyian malam di gang Bakung terpecah oleh riuh suara kami. Bukan karena ada pertengkaran yang terjadi. Ketidaksanggupan mengontrol volume suara menjadi penyebabnya. Bisa di maklumi. Sebenarnya itulah ciri khas OTI (Orang Timur) bila sedang berbicara.
Terdengar suara nyaring menembus remang-remang cahaya lampu di gang itu. “ Dari mana mas”?. Suara itu berasal dari pemilik burjo yang ada di situ. “Dari NTT”, salah satu diantara kami membalasnya. Bersama tas dan koper masing-masing, kami bergegas ke penginapan yang kami sebut sebagai kontrakan dan juga sebagai kos-kosan itu. Bayangan asrama kampus yang awalnya dibilang gratis itu, sangat jauh dari harapan kami. Sehingga dalam perkembangannya, kontrakan itu kami sebut sebagai “hotel sun”. Sebuah nama yang identik dengan sebutan asrama yang berbayar. 

Sungguh, kami sudah tak sabar lagi untuk menikmati malam pertama di kota jogja ini. Meski tampak lelah, belum semua di antara kami yang langsung tidur. Beberapa di antaranya langsung memburu makanan di Burjo depan penginapan. Ada juga yang langsung belanja perlengkapan mandi. Perjalanan panjang hari itu memang sangat melelahkan. Istrahat dan tidur menjadi solusi terbaik melepas lelah sepanjang hari. Siapkan raga menyonsong hari demi hari yang masih panjang. 

Hotel sun, kini menjadi bagian dalam hari-hari kami. Bangunan megah berlantai dua itu khusus disiapkan untuk kami. Diapiti bagunan kos-kosan lain yang juga di sewakan, menandakan bahwa kami tidak sendirian dilingkungan itu. Lingkungan dengan tingkat ketenangan dan kesunyian yang tinggi. Kebisingan suara sangat jarang terdengar. Dan memang disini adalah pusat kos-kosan mahasiswa dari berbagai daerah terutama dari wilayah Indonesia barat. Keadaan seperti itu, mengharuskan kami mampu beradaptasi.Terlebih khusus mengontrol volume suara yang menggelegar.

Hotel sun menjadi rumah kami, menjadi hati kami, menjadi jantung dan empedu kami. Suka dan duka hadir disana.Tegak dan kokoh berdiri bersama tiang dan dinding gedung nan megah. Banyak cerita telah dikemas dalam versi kami masing-masing. Cerita yang terlahir dari panggilan profesi kami dan tetap membekas di setiap sudut bangunan hotel sun itu.

0 komentar:

Posting Komentar