Kamis, 25 Oktober 2018

Pengalaman Mengabdi di Karera Sumba Timur NTT


“Perjalanan Sarjana Mengajar
MENUJU DAERAH 3T



Sebuah catatan pengalaman dari lokasi pengabdian di Sumba Timur (25/7/2015)

 
Part 01.
Ketahanmalangan dalam sebuah perjalanan menuju selatan Sumba


Gbr.Menuju Sumba Timur bersama NAM Air
Akhirnya saya bersama keempat kawanku bisa menapakan kaki di tanah sumba setelah selama setegah jam penerbangan Kupang menuju Waingapu. Beruntung kami dijemput langsung oleh kepala sekolah dari dua sekolah tempat kami bertugas. Mereka adalah kepala sekolah SMK Tabundung dan Karera. Sayangnya, kepala sekolah SMK Lewa tidak sempat hadir, saat itu. Hari sudah sore. Kira-kira sudah jam setangah lima. Pembicaraan tetang penginapan mulai muncul diantara kami. Saya langsung ditawari Pak Petrus Happumbay unt uk bermalam di rumahnya. Ke empat temaku nginap di salah satu keluarga mereka. Akhirnya saya harus berpisah dengan teman-temanku saat itu selepas makan bersama disalah satu warung di Waingapu.
Matahari mulai tenggelam semakin jauh. Tak kelihatan lagi secercah cahaya yang muncul darinya. Lampu mobil Xenia milik pak petrus mulai menerangi jalan menuju kediamannya. Kurang lebih setengah jam lamanya kami tiba dikediamannya di Walakiri.

Dan saya pun bermalam di Walakiri rumah bpk petrus. Beliau adalah kepla sekolah SMKN 6 KARERA. Sosok yang sangat bersahabt ini jadikan aku tidak merasa segan denganya. Bercerita dengannya meski baru sesaat saja, aku seakan telah mngenalnya sudah lama. Semga kondisi ini adalah awal yang baik bagiku selama setahun berada di tanah sumba timur. 
Awalnya saya direncanakan nginap cuma sehari saja dirumahnya. Ada beberapa hal yang tidak terduga, sehingga akhirnya saya harus menambah semalam lagi dirumahnya. Besoknya saya putuskan untuk bermalam di rumah keluarga sahabat saya di Poha, Waingapu.  Ama Panu yang mengantar saya ke sana. Depan pertamina kilometer 2 Poha kami berhenti. Ama panu hanya bisa mengantar saya sampai disitu. Beliau juga tidak terlalu tahu persis alamat rumah keluarga temanku itu meski dia sudah lama tinggal di Waingapu. Kami berpisah disitu setelah lebih dari setengah jam menunggu teman yang menjemputku.

Hari sudah malam. Kira-kira pukul 20.00 Wita saya sudah berada di rumah keluarga temanku. Berkumpul bersama mereka dengan keharmonisan yang indah.
Malam ini akan menjadi malam yang sngat singkat bagiku untuk beristrahat sebab besok subuh kami harus sudah siap berngkat pada pukul empat. Bis Kayu sudah aku pesan sejak sore tadi bersama Ama Panu saat mengantar saya ke Poha. "Tepat jam 4 kami akan dijmput dan jam lima akan berngkat menuju Karera". Itu adalah amanat Ama Eva, sang sopir bis kayu yang akan Kami tumpangi. Bis kayu adalah sebutan lokal untuk Truk yang dimodifikasi agar bisa ditumpangi. Bahan dasarnya dari kayu mulai dari krangka atap maupun tempat duduknya. Jumlah bangku sebanyak enam baris. Bangku dengan panjang kurang lebih 2 meter itu mmpu menumpang 5-6 orang dewasa. 
Malam itu tidurku tidak terlu mmuaskan. Sesekali aku terjaga memperhtikan jam digital di hp ku. Saat itu baru jam 01.00. Aku pun mulai menyetel jam alarm di HP ku. Meskipun demikian aku tetap terjaga dari tidur sebelum alarm berbuyi. Mungkin ini terjadi karena kegelisahanku yang berlebh jika nti aku dan temanku ketinggalan bis kayu. Sebagai orag baru tentu saja merasa demikian Apa lagi faktanya hari itu hanya dua bis saja yang beroperasi menuju Karera.
Alarm di hpku berbunyi. Waktu menunjukkan sudah pukul 03.30 wita. Tetapi aku telah sadar sebelum alarm itu berbunyi. Gemercik air dikamar mandi terdenganar dari kamar tepat aku tidur. Rupaya sudah ada yang bangun mendahului aku. Kelopak mataku terasa ringan kembali untuk berkedip. Itu tanda sisa kantukku telah tiada. Aku bangkit berdiri mnuju ruang tengah. Masi sepi tidak ada siapapun. Yang terdengar hanyalah gemercik air dari kamar mandi. Masih ada yang mandi disana. Tak lma mulai berdatangan temanku yang lainnya. Berkumpul bersama di ruangan itu smbil mnggu giliran untuk mandi.
HP ku berdering. Tanda ada pesan yang masuk. "Pak siap-siap sudah sebentar lagi saya menuju ke sana". Itu bunyi pesan dari Ama Eva sang sopir bis kayu. "Ok Ama, kami, sedang bersiap-siap sekarang", jawabku membalas pesannya. Segera setelah itu ku sampaikan pesan ini pada temanku.Pintu kamar mandi terbuka. Tak ada lagi yang sedang mandi. Aku langsung menuju kesan bersama perlengkapan mandiku. Aku mndapat giliran mandi terakhir. Kedua temanku yang menuju Tabundung juga sudah mandi dan siap berangkat. Mereka dijmput pada giliran terakhir.

Gbr.Melanjutkan perjalanan setelah istirahat di kananggar

Bis sudah terparkir depan rumah. Semua barang bawaan kami di letakan pada brisan bangku pertama. Baru ada satu orang penumpang di dalamnya. Rupanya Kami termasuk dalam jemputan pertama. Bangku ketiga dari barisan depan tempat aku duduk. Bis Kayu "Ana Mahang" pun melaju, mencari dan mnjemput penumpang ke setiap jalan di sudut kota. Jalanan masih sepi. Masih pukul 04.30 wita. Belum terlihat hiruk pikuk warga di sepanjang jalan. Kendaraan pun belum begitu banyak yang lewat. Bis Kayu kombinasi merah muda dan kuning itu berhenti sejenak, menunggu penumpang depan pasar inpres Waingapu. Keramaian mulai nampak di sekitar pasar. Makin banyak bis kayu yang parkir disitu. Barisan manusia pun semakin ramai. Pedang kaki lima mulai menjajakan denganangannya kepada penumpang. Nasi bungkus, berbagai jenis kue dan lain sebagainya ditawarkan kepada para penumpang. Tak terkecuali aku yang duduk dibagian pinggir bis. Nasi bungkus yang ditawarkan menggugah seleraku. Tanpa segan, satu lembar sepuluh ribuan kuberikan untk mendpatkan dua bgkus nasi. Aku sadar perjalann ini sgat jauh. Dan juga belum sempat sarapan ketika masih di rumah keluarga temanku tadi. Aku harus sarapan. Meski itu harus kulakukn dalam bis itu. Dan juga mumpung bis masih parkir mnunggu penumpang.
 
Selang bebrapa saat kemudian beberapa bis kayu yang berada disitu satu persatu mulai berangkat menuju tujuan masing-masing. Kira-kira pukul 05.00 wita, bis kayu ana mahang yang saya tumpangi pun perlahan jalan menuju tujuannya.
Rute yang dilalui adalah melewati Malolo-Kananggar-Nggongi dan berakhir di Katundu. Ada juga rute lainnya untuk dpat sampai ke Nggongi. Rutenya adalah Kwanggu-Tanarara-Kananggar dan Nggongi. Waktu tempuh kedua jalur ini untuk sampai ke Nggongi hampir sama yaitu kurang lebih 7-8 jam. Namun berdasarkan kondisi jalan yang dilalui, jalur Malolo-Kananggar-Nggongi lebih rusak parah dibandingkan jalur Kwanggu-Tanarara-Kananggar-Nggongi. 
Bis terus melaju. Menyusuri jalan jendral sudirman meninggalkan kota Waingapu. Jalan ini adalah jalur menuju bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu sekaligus jalur keluar kota. Jalan berhotmix ini merupkan akses menuju wilyah timur kota Waingapu. Dan juga ke wilayah bagian selatan, termasuk Nggongi.
Sesekali laju bis terhenti. Ada penumpang lain lagi yang mnumpang. Beberapa lainnya ad yang hnya memberi barang titipan. Sudah cukup banyak penumpang didalamnya. Kira-kira ada 10 orang lebih. Hanya ada 4 wajah sajaa yang saya kenal didalam bis itu. Widya teman saya dan Ama Panu serta putrinya Rambu Tris.
Bis terus melaju dengan kecepatan kira-kira 50-60 km/jam. Pemandangan diluar belum begitu jelas terlihat. Masih samar-samar sebab sang fajar belum juga muncul.
Sesekali saya harus menundukan kepala agar bisa melihat keluar. Sebab cahaya lampu dalam bis meyilaukan pandangan saya untuk bis mlihat kluar. Sebetulnya saat itu Saya juga penasaran dengan teman saya yang terus saja memotret pemandangan di luar bis. Rupanya pemandangan di luar mulai jelas terlihat. Kemilau fajar di ufuk timur sudah terlihat. Langit begitu indah bersma pancaran mentari yang mulai terbangun dari tidur yang panjang. Menyatukan keindhannya diatas sabana nan luas yang Kami lewati. Decak kagumku sungguh menyatu dalam perjalannan itu. Menyatu bersama padang rumput nan luas bersama ratusan ternak yang ada didalamnya. Kurang lebih sejauh 7 km saya menikmti pemandangan itu. Jalanan masih saja rata tanpa pendakian yang berarti. Sedikit belokan lalu lurus lagi. Saya masih merasa nyaman lewati jalan itu hingga tiba di Malolo.
 "Perjalanan ini belum seberapa. Belum juga mencapai 1/4 perjalanan menuju Nggongi". Begitu penjelasan Ama Panu saat bis kami berhenti sejenak di Malolo. Ia menambahkan nanti akan mlewati jalan sempit dan jurang yang terjal. Dia mencontohkan jalannya seperti kebanyakan jalan di Flores. Responku santai saja jika memang jalannya seperti di daerah asalku itu, sebab saya sudah pernah menglaminya.
Tiga jam perjalanan sudah berlalu. Jalan yang dilewati semakin sempit. Berukuran hanya selebar satu ukuran bis kayu. Berlubang dan penuh kerikir lepas. Kiri dan kanan jalan penuh semak belukar. Terkadang saya harus bergeser ketengah menghindari ranting-ranting kayu yang menjulur panjang. Posisi dudukku sudah tidak nyaman lagi. Kadang miring ke kiri juga kanan. Saya harus tetap ekstra hati-hati, meski berda dalam bis kayu itu.
Sejenak saya teringat akan penggalan lirik sebuah lagu. Liriknya berbunyi begini, "Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan penuh liku dan bebatuan...". Penggalan sebagian lirik lgu milik Ebit G. Ade ini adalah mengisahkan tetang sebuah perjalan hidup insan Tuhan di bumi yang tak pernah luput dari tantangan. Teringat akan lirik tersebut saya mencoba merelasikannya dengan perjalanan saya menuju tempat tugas saya yang baru yakni di Nggongi kec. Karera. Perjalan panjang itu tidaklah jauh berbeda dengan di daerah asalku. Kecepatan kurang lebih 30-40 km/jam. Jalanan terjal dan berkelok terus saja dilalui selepas kota Malolo. Melewati lereng-lereng dan lembah bahkan tepat di atas punggung gunung bis terus melaju degn prima. Tidak lagi ada jalanan rata dan lurus seperti jalur Waingapu-Malolo. Jalanan rusak dan berliku tajam, mendaki dan turunan panjang tak kunjung berakhir. Hampir disepanjang jalan ini jarang ditemukan barisan pepohonan yang lebat. Yang banyak di jumpai hanyalah padang sabana dengan pemandangan gunung dan bukit telanjang tanpa rimbunan pepohonan.
Kurang lebih 5 jam kedepan kami akan melewati jalan seperti itu. Pinggang dan bokongku mulai terasa perih akibat goncangan dalam bis kayu itu. Spons busa pada bangku dan sandarian dalam bis kayu belum sepenuhnya memberi rasa nyaman pada saya saat duduk. Goncangan hebat membuat pinggangku sesekali membentur papan sandaran. Sesekali juga sayaa setengah berdiri memperbaiki posisi duduk sebab perih di bokongku semakin menggila. Mungkin inilah awal ketahanmalangan saya mengkikuti Program sarjana mendidik Guru Produktif. Hehehe...


Dari kejauhan di atas punggung gunung mulai terlihat brisan rumah warga berjejer dibawah lembh. Nama tempatnya adalahah Kananggar. Sinyal di hpku sudah muncul lagi setelah beberapa jam menghilang. Syukurlah disana ada tower telkomsel yang berdiri tegak. Jadi saya bisa naikan status FB tetang lokasi saya saat itu. Ada juga pasar dan warung makan tradisional disitu. Banyak bis kayu yang beristrahat di simpang Kananggar itu. Bis kayu yang saya tumpangi juga beristirahat sejenak disitu. Satu per satu turun dan mnuju beberapa warung di tepi jalan. Saya pun menuju ke salah satu warung berdinding gedek bersama teman jalan saya. Tidak begitu banyak pilihan menu mkanan dan mnuman yang tersedia. Walaupun demikian bagi saya hidangan kopi panas ala Kananggar  cukup menambah tengaku yang sempat hilang disepanjang jalan tadi. Kananggar merupakan satu-satunya tempat peristirahatan semua bis kayu yang lewat. Baik melallui rute Kwanggu-Tanarara maupun melalui Malolo. 
 
Mentari semakin tinggi. Teriknya yang menyengat makin terasa menembus pori-pori kulitku. Jam di hp ku menunjukkn pukul 10.30 wita. Kurang lebih seperempat jalan lagi Kami tiba di Nggongi. Waktu yang di tempuh Kurang lebih 2 jam lagi. Perjalanan dari Kananggar menuju Nggongi ibarat naik gunung lalu turun gunung. Bis kayu yang saya tunpangi langsung tancap gas selepas istirahat diwarung tadi. Jalanan yang dilaui langsung melwati tanjakkan yang panjang dan berliku. Tidak ditemukan rumah-rumah warga disepanjang jalan itu. Mungkin dikarenkan sepanjang tanjakan itu keadaannya gersang ataukah memang masuk dalam kawasan hutan. Bis terus melaju dan mulai masuk jauh kedalam hutan yang rimbun. Jalan yang dilewati kali ini dengan turunan yang panjang dan sedikit berkelok-kelok. 

Keadaan udara tearsa cukup sejuk sebab di sepanjang pinggir jalan itu bayak pohon dengan ukuran yang sagat besar. Turunan panjang dengan hutan lebat ini disebut kawasan hutan Wai Mitting. Bala dibandingkan dengan jalur Malolo-Kananggar, Mungkin saja di jalur yang Kami lewati ini yang masih tersimpan potensi hutan dengan kekayaan biodiversivitasnya. Di ujung hutan itu sajian pemandangan indah Karera memnjakan mataku. Pada bagian lereng yang terbuka diujung hutan itu, bagai jendela yang terbuka lebar dengan sajian hamparan datar nan idah kecamatan Karera. Barisan rumah-rumah warga mulai nampak lagi selepas hutan “Wai Miting”. Beberapa penumpang ada yang mulai turun ditempatnya masing-masing. Ada juga yang datang mengambil barang titipannya. 
Sudah jam 12.00 siang. Panas terik menyengat semakin terasa sampai didalam bis kyu. Debu jalanan beraspal lepas terspu roda sampai hampir menutup seluruh padangan dibelakang bis. Terpaan angin kencang yang berlawanan arah meneruskan debu sampai ke dalam bis kayu. Kami pun tidak luput dari selimut debu tanah Karera di sepanjang jalanan rata trans Nggongi-Waingapu. 

Sekolah tempat saya mengabdi untuk satu tahun kedepan sudah terlihat dari jalan tempat bis melintas. Tujuan saya pastinya sudah semakin dekat. Bis Ana Mahang pun berheti tidak lama setelah melewati sekolah tadi. Rumah tembok, bercat hijau ada dihadapan saya. Saya pun segera turun beserta barang-barang yang dibawa. Itulah rumah tempat tinggal saya selama setahun di Nggongi.
 
Rumah itu milik Bapa Umbu yang kini dihuni oleh anaknya yang sudah berkeluarga. Rumah berdinding tembok dan berlantai keramik itu sering disebut pangkalan oleh beberapa orang disekitarnya. Sebutan pangkalan sangat familiar dikalangan teman-teman guru dan pegawai bahkan siswa siswi di sekolah SMKN 6 Karera. Disebut pangkalan sebab rumah itu dianggap sebagai kantor kedua dari SMK N 6 Karera. Beberapa perlengkapan sekolah disimpan di rumah itu. Mulai dari alat tulis sampai alat-alat elektronik milik sekolah seperti komputer. Awalnya saya merasa sedikit heran sehingga muncul pertanyaan mengapa barang-barang itu harus disimpan di pangkalan. Rupanya jawabannya adalah dikarenakan di sekolah tempatku mengabdi belum ada aliran listrik PLN. Ini adalah informasi awal yang saya peroleh dari sang pemilik rumah setelah beberapa jam tiba di nggongi kecamatan Karera.
Hari terus berlalu. Demikian juga saya sudah semakin lama berada di Nggonngi. Rutinitasku kembali berjalan bersama laju sang waktu dan mulai melebur bersama rutinitas dalam lingkungan baru di sekolah maupun dalam rutinitas masyarakat di Nggongi.      

Part 02.
Sekilas tentang Nggongi

Pusat kota kecamatan Karera terletak di Desa Nggongi. Kecamatan dengan tujuh desa itu yakani desa Nggongi, Praimadita, Anajaki, Nangga, Tandulajangga, Jangamangu, dan Desa Salura memiliki potensi alam yang cukup mnjanjikan. Desa Salura merupakan desa bungsu di kecamatan Karera. Nama Desa ini merupakan nama pulaunya dimana ia merupakan satu pulau terluar yang terpisah dari pulau sumba.
Selain Desa Salura, Enam desa alainnya saling berdekatan dan pusat desanya berada disepanjang jalan Trans Waingapu. Disini topografinya landai sampai datar. Bila kita melewati jalanan disini hampir tidak ada jalanan yang mendaki tajam. Meski jalannya tergolong rata, namun kondisi aspal jalan sudah banyak yang rusak dari kategori ringan sampai berat. Walaupun demikian, masih dpat dilalui oleh kendaraan jenis metick. Meski hanya beberapa saja jenis kendaraan sperti itu disini.
Wilayah nggongi masih sngat luas. Terutama lahan kosong tanpa bangunan. Hamparan padang rumput nan luas manjakan pandangan kita akan indahnya alam disini. Barisan rerumputan ilalang tegak berdiri di atas tanah kring beratapkan panas terik yang menbakar. Jumlahnya sangat banyak dan menutupi hampir sluruh padang itu. Meski kering dan mati disanalah tempat bermain dan merumput bagi hewan peliharaan warga disini. Hamparan hijau jarang terlihat. Hanya beberapa jenis tanaman pagar yang terlihat hijau diantra rerumputan kering takberwarna. Jika musim hujan pastinya akan terlihat hijau dan lebih indah dengan padang sabananya yang luas.
Sebagian besar masayaarakatnya bermatapencahrian sebagai petani. Potensi lokal yang dominan adalah peternakan dan perkebunan jambu mete. Sedangkan untuk jenis tanaman pangan dan hortikultura sperti padi dan sayur-sayuran tidak begitu menonjol. Jenis sawah tadiahan dan padi ladang yang pling banyak dikerjakan warga disini. Sebab disekitar desa Nggongi belum ada bendungan serta saluran irigasi permanen.
Warga disini sangat ramah. Adat istiadatnya masih sangat kental. Gotong royong dalam kehidupan sosial warga disini begitu nyata saya jumpai. 

Masyarakat di sini sangat ramah terhadap setiap orang baru yang datang. Saya merasakan kermahan mereka dalam keseharian saya bersama mereka. Daerah ini sangat kental dengan adat istiadatnya. Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi norma-norma adat dalam kehidupan mereka. Keramahan mereka membuat saya terharu dan membuat saya semakin yakin untuk mnjalankan tugas saya sampai akhir disini.
Pada Suatu saat, saya sempatkan diri bertamu di rumh tetangga tempat saya tinggal. Seperti pada umumnya brsalm2man dengan mereka adalah hal yang lumrah sebgai pmbuka dalam sbuah pertmuan. Satu hal yang unik yang saya jmpai adalah ketka saya disodarikan "hapa". Hapa adalah bahasa lokal untuk siri, pinang dan kapur yang denganbung menjadi satu dalam stu wadah tertentu. Hapa dimakan sampai rongga mulut berubh merah. Hapa tidak untuk ditelan. Hapa hanya dikunya dimulut. Liur dari kunyahan hapa dibuang. Sehingga hampir dibanyak tempat dijumpai limbah hapa yang merah merona di atas tanah. Hapa dpt dianlogikan sebagai ungkapan selamat datang saat orang bersua. Tanpa ragu aku pun mencicipi hapa yang diberikan pada saya. Tidak semua yang diberikan saya masukan ke mulut. Hanya pinang kering yang dipotong halus saja yang saya kunya. Ini hanyalah bagian dari strategiku agar tidak menyingung tuan rumah yang saya kunjungi.

Sebagai Pendidik dalam program sarjana mendidik pemenuhan guru produktif di daerah 3T, saya sangat bersayakur mendapat lokasi di daerah yang msih sngat kental dengan kehidpn sosial yang feodal. Disini, Masih ada sebutan HAMBA bgi para playan2 raja. Jika ada forum-forum adat besar sebutan UMBU dan RAMBU tidak bisa disematkan kepada selain keturunan raja.
Bagi masyarakat di Desa Nggongi, kecamatan Karera ataupun sumba timur pada umumnya, urusan adat berada pada peringkat pertama atau kasta tertinggi untuk dilaksanakan. Baik urusan adat pernikahan maupun kematian. Jika ada urusn-urusan yang demikian, masayarakat tidak tanggung-tanggung menyiapkan dan membawa hewan sebgai maharnya.
Dari cerita-cerita yang saya dengr selama berda disini, msayarakatnya cederung berkoban demi urusn adat ketimbang berkorban untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai pada perguruan tinggi. Ironis memang kedengarannya. Tetapi, itulah realitanya yang saya lihat dan tmukan selama berada disini. Dan memang sudah terjdi turun temurun seperti degan apa yang disebut adat istiadat atau kebudaya setempat.
Jika salah satu indikator orang yang kaya adalah dilhat dari banyaktidakanya hewan yang dimiliki, maka bukan tidak mungkin masayaarkat disini masuk dalam kategori itu. Bgaimna tidak demikian, hampir setiap warga khususnya di desa Nggongi memiliki hewan-hewan besar maupun sedang sperti kerbau, sapi, kuda dan babi dalam jumlah yang bervariatif.
Warga disini memiliki kebiasaan membiarkan ternak mereka seperti babi, kambing, sapi dan kuda mencari makanan sendiri. Hampir semuanya dibiarkan berkeliaran dipadang tanpa satupun yang di ikat. Keadaan ini hanya terjdi saat musim kemarau saja. Terkadang Keadaan ini menyebabkan pengemudi kendaraan yang melewati jalan harus waspada sebab ternak-ternak itu kadang tidur dijalan dan sering menyeberangi jalan dengan tiba-tiba. Peristiwa ini paling sering trjadi ketika musim hujan datang.
Awalnya saya merasa heran mlihat hewan plihraan berkeliaran kesana dan kemari. Prahnya lgi ternak sedang seperti babi berkeliaran disekitar rumah. Saya mrasa sedikit terganggu dengan keadaan seperti itu. Pada akirnya saya mulai terbiasa sebab setiap hari keadaan itu selalu terjadi disekitarku.


Di Ngonggi terdapat pasar tradisional yang dibuka setiap hari Sabtu. Pasar ini terletak di pusat kota kecamatan Karera. Jarakanya kurang lebih 1 km dari tempat tnggal saya. Menyusuri jalan setapak melewati kebun jambu mete merupakan jalur singkat menuju pasar dari tempat tinggal saya. Tidak ada pemukiman warga di sekitar pasar. Hanya terdapat satu bangunan terbuka dengan beberapa lapak jualan.
Seperti pasar pada umumnya, di pasar Nggongi juga dijual berbagai macam bahan kebutuhan masyarakat. Mulai dari sembako sampai pada bahan kebutuhan lainya. Uniknya beberapa harga bahan dagangannya dijual serba lima ribuan. Hampir tidak dijumpai harga dibawah itu. Seperti saat saya membeli sayur sawi harganya lima ribu per ikat. Begitu jugaa ikan teri kering dalam kemasan kantong plastik kecil harganya pun sama.

......#............ #

0 komentar:

Posting Komentar