“Perjalanan Sarjana Mengajar
MENUJU DAERAH 3T”
|
Sebuah catatan pengalaman
dari lokasi pengabdian di Sumba Timur (25/7/2015)
|
Part 01.
Ketahanmalangan
dalam sebuah perjalanan menuju selatan Sumba
![]() |
Gbr.Menuju Sumba Timur bersama NAM Air
|
Matahari mulai tenggelam semakin jauh. Tak kelihatan
lagi secercah cahaya yang muncul darinya. Lampu mobil Xenia milik pak petrus
mulai menerangi jalan menuju kediamannya. Kurang lebih setengah jam lamanya kami
tiba dikediamannya di Walakiri.
Dan saya pun bermalam di Walakiri rumah bpk petrus. Beliau adalah kepla sekolah SMKN 6 KARERA. Sosok yang sangat bersahabt ini jadikan aku tidak merasa segan denganya. Bercerita dengannya meski baru sesaat saja, aku seakan telah mngenalnya sudah lama. Semga kondisi ini adalah awal yang baik bagiku selama setahun berada di tanah sumba timur.
Awalnya saya direncanakan nginap cuma sehari saja
dirumahnya. Ada beberapa hal yang tidak terduga, sehingga akhirnya saya harus
menambah semalam lagi dirumahnya. Besoknya saya putuskan untuk bermalam di
rumah keluarga sahabat saya di Poha, Waingapu.
Ama Panu yang mengantar saya ke sana. Depan pertamina kilometer 2 Poha
kami berhenti. Ama panu hanya bisa mengantar saya sampai disitu. Beliau juga tidak
terlalu tahu persis alamat rumah keluarga temanku itu meski dia sudah lama tinggal
di Waingapu. Kami berpisah disitu setelah lebih dari setengah jam menunggu
teman yang menjemputku.
Hari sudah malam. Kira-kira pukul 20.00 Wita saya sudah berada di rumah keluarga temanku. Berkumpul bersama mereka dengan keharmonisan yang indah.
Malam ini akan menjadi malam yang sngat singkat
bagiku untuk beristrahat sebab besok subuh kami harus sudah siap berngkat pada
pukul empat. Bis Kayu sudah aku pesan sejak sore tadi bersama Ama Panu saat
mengantar saya ke Poha. "Tepat jam 4 kami akan dijmput dan jam lima akan
berngkat menuju Karera". Itu adalah amanat Ama Eva, sang sopir bis kayu yang
akan Kami tumpangi. Bis kayu adalah sebutan lokal untuk Truk yang dimodifikasi
agar bisa ditumpangi. Bahan dasarnya dari kayu mulai dari krangka atap maupun
tempat duduknya. Jumlah bangku sebanyak enam baris. Bangku dengan panjang kurang
lebih 2 meter itu mmpu menumpang 5-6 orang dewasa.
Malam itu tidurku tidak terlu mmuaskan. Sesekali
aku terjaga memperhtikan jam digital di hp ku. Saat itu baru jam 01.00. Aku pun
mulai menyetel jam alarm di HP ku. Meskipun demikian aku tetap terjaga dari
tidur sebelum alarm berbuyi. Mungkin ini terjadi karena kegelisahanku yang
berlebh jika nti aku dan temanku ketinggalan bis kayu. Sebagai orag baru tentu saja
merasa demikian Apa lagi faktanya hari itu hanya dua bis saja yang beroperasi
menuju Karera.
Alarm di hpku berbunyi. Waktu menunjukkan sudah
pukul 03.30 wita. Tetapi aku telah sadar sebelum alarm itu berbunyi. Gemercik
air dikamar mandi terdenganar dari kamar tepat aku tidur. Rupaya sudah ada yang
bangun mendahului aku. Kelopak mataku terasa ringan kembali untuk berkedip. Itu
tanda sisa kantukku telah tiada. Aku bangkit berdiri mnuju ruang tengah. Masi
sepi tidak ada siapapun. Yang terdengar hanyalah gemercik air dari kamar mandi.
Masih ada yang mandi disana. Tak lma mulai berdatangan temanku yang lainnya.
Berkumpul bersama di ruangan itu smbil mnggu giliran untuk mandi.
HP ku berdering. Tanda ada pesan yang masuk.
"Pak siap-siap sudah sebentar lagi saya menuju ke sana". Itu bunyi
pesan dari Ama Eva sang sopir bis kayu. "Ok Ama, kami, sedang bersiap-siap
sekarang", jawabku membalas pesannya. Segera setelah itu ku sampaikan
pesan ini pada temanku.Pintu kamar mandi terbuka. Tak ada lagi yang sedang
mandi. Aku langsung menuju kesan bersama perlengkapan mandiku. Aku mndapat giliran mandi terakhir. Kedua temanku yang
menuju Tabundung juga sudah mandi dan siap berangkat. Mereka dijmput pada
giliran terakhir.
![]() |
|
Gbr.Melanjutkan perjalanan setelah istirahat di kananggar
|
Bis sudah terparkir depan rumah. Semua barang bawaan kami di letakan pada brisan bangku pertama. Baru ada satu orang penumpang di dalamnya. Rupanya Kami termasuk dalam jemputan pertama. Bangku ketiga dari barisan depan tempat aku duduk. Bis Kayu "Ana Mahang" pun melaju, mencari dan mnjemput penumpang ke setiap jalan di sudut kota. Jalanan masih sepi. Masih pukul 04.30 wita. Belum terlihat hiruk pikuk warga di sepanjang jalan. Kendaraan pun belum begitu banyak yang lewat. Bis Kayu kombinasi merah muda dan kuning itu berhenti sejenak, menunggu penumpang depan pasar inpres Waingapu. Keramaian mulai nampak di sekitar pasar. Makin banyak bis kayu yang parkir disitu. Barisan manusia pun semakin ramai. Pedang kaki lima mulai menjajakan denganangannya kepada penumpang. Nasi bungkus, berbagai jenis kue dan lain sebagainya ditawarkan kepada para penumpang. Tak terkecuali aku yang duduk dibagian pinggir bis. Nasi bungkus yang ditawarkan menggugah seleraku. Tanpa segan, satu lembar sepuluh ribuan kuberikan untk mendpatkan dua bgkus nasi. Aku sadar perjalann ini sgat jauh. Dan juga belum sempat sarapan ketika masih di rumah keluarga temanku tadi. Aku harus sarapan. Meski itu harus kulakukn dalam bis itu. Dan juga mumpung bis masih parkir mnunggu penumpang.
Selang bebrapa saat kemudian beberapa bis kayu yang
berada disitu satu persatu mulai berangkat menuju tujuan masing-masing. Kira-kira
pukul 05.00 wita, bis kayu ana mahang yang saya tumpangi pun perlahan jalan menuju
tujuannya.
Rute yang dilalui adalah melewati
Malolo-Kananggar-Nggongi dan berakhir di Katundu. Ada juga rute lainnya untuk
dpat sampai ke Nggongi. Rutenya adalah Kwanggu-Tanarara-Kananggar dan Nggongi.
Waktu tempuh kedua jalur ini untuk sampai ke Nggongi hampir sama yaitu kurang
lebih 7-8 jam. Namun berdasarkan kondisi jalan yang dilalui, jalur
Malolo-Kananggar-Nggongi lebih rusak parah dibandingkan jalur
Kwanggu-Tanarara-Kananggar-Nggongi.
Bis terus melaju. Menyusuri jalan jendral sudirman
meninggalkan kota Waingapu. Jalan ini adalah jalur menuju bandara Umbu Mehang
Kunda Waingapu sekaligus jalur keluar kota. Jalan berhotmix ini merupkan akses
menuju wilyah timur kota Waingapu. Dan juga ke wilayah bagian selatan, termasuk
Nggongi.
Sesekali laju bis terhenti. Ada penumpang lain
lagi yang mnumpang. Beberapa lainnya ad yang hnya memberi barang titipan. Sudah
cukup banyak penumpang didalamnya. Kira-kira ada 10 orang lebih. Hanya ada 4
wajah sajaa yang saya kenal didalam bis itu. Widya teman saya dan Ama Panu serta
putrinya Rambu Tris.
Bis terus melaju dengan kecepatan kira-kira 50-60
km/jam. Pemandangan diluar belum begitu jelas terlihat. Masih samar-samar sebab
sang fajar belum juga muncul.
Sesekali saya harus menundukan kepala agar bisa
melihat keluar. Sebab cahaya lampu dalam bis meyilaukan pandangan saya untuk
bis mlihat kluar. Sebetulnya saat itu Saya juga penasaran dengan teman saya yang
terus saja memotret pemandangan di luar bis. Rupanya pemandangan di luar mulai
jelas terlihat. Kemilau fajar di ufuk timur sudah terlihat. Langit begitu indah
bersma pancaran mentari yang mulai terbangun dari tidur yang panjang. Menyatukan
keindhannya diatas sabana nan luas yang Kami lewati. Decak kagumku sungguh
menyatu dalam perjalannan itu. Menyatu bersama padang rumput nan luas bersama
ratusan ternak yang ada didalamnya. Kurang lebih sejauh 7 km saya menikmti pemandangan
itu. Jalanan masih saja rata tanpa pendakian yang berarti. Sedikit belokan lalu
lurus lagi. Saya masih merasa nyaman lewati jalan itu hingga tiba di Malolo.
"Perjalanan ini belum seberapa. Belum juga mencapai 1/4 perjalanan menuju Nggongi". Begitu penjelasan Ama Panu saat bis kami berhenti sejenak di Malolo. Ia menambahkan nanti akan mlewati jalan sempit dan jurang yang terjal. Dia mencontohkan jalannya seperti kebanyakan jalan di Flores. Responku santai saja jika memang jalannya seperti di daerah asalku itu, sebab saya sudah pernah menglaminya.
"Perjalanan ini belum seberapa. Belum juga mencapai 1/4 perjalanan menuju Nggongi". Begitu penjelasan Ama Panu saat bis kami berhenti sejenak di Malolo. Ia menambahkan nanti akan mlewati jalan sempit dan jurang yang terjal. Dia mencontohkan jalannya seperti kebanyakan jalan di Flores. Responku santai saja jika memang jalannya seperti di daerah asalku itu, sebab saya sudah pernah menglaminya.
Tiga jam perjalanan
sudah berlalu. Jalan yang dilewati semakin sempit. Berukuran hanya selebar satu
ukuran bis kayu. Berlubang dan penuh kerikir lepas. Kiri dan kanan jalan penuh
semak belukar. Terkadang saya harus bergeser ketengah menghindari ranting-ranting
kayu yang menjulur panjang. Posisi dudukku sudah tidak nyaman lagi. Kadang
miring ke kiri juga kanan. Saya harus tetap ekstra hati-hati, meski berda dalam
bis kayu itu.
Sejenak saya teringat akan penggalan lirik sebuah
lagu. Liriknya berbunyi begini, "Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan
penuh liku dan bebatuan...". Penggalan sebagian lirik lgu milik Ebit G.
Ade ini adalah mengisahkan tetang sebuah perjalan hidup insan Tuhan di bumi yang
tak pernah luput dari tantangan. Teringat akan lirik tersebut saya mencoba
merelasikannya dengan perjalanan saya menuju tempat tugas saya yang baru yakni
di Nggongi kec. Karera.
Perjalan panjang
itu tidaklah jauh berbeda dengan di daerah asalku. Kecepatan kurang lebih 30-40
km/jam. Jalanan terjal dan berkelok terus saja dilalui selepas kota Malolo.
Melewati lereng-lereng dan lembah bahkan tepat di atas punggung gunung bis
terus melaju degn prima. Tidak lagi ada jalanan rata dan lurus seperti jalur Waingapu-Malolo.
Jalanan rusak dan berliku tajam, mendaki dan turunan panjang tak kunjung
berakhir. Hampir disepanjang jalan ini jarang ditemukan barisan pepohonan yang
lebat. Yang banyak di jumpai hanyalah padang sabana dengan pemandangan gunung dan
bukit telanjang tanpa rimbunan pepohonan.
Kurang lebih 5 jam kedepan kami akan melewati
jalan seperti itu. Pinggang dan bokongku mulai terasa perih akibat goncangan dalam
bis kayu itu. Spons busa pada bangku dan sandarian dalam bis kayu belum sepenuhnya
memberi rasa nyaman pada saya saat duduk. Goncangan hebat membuat pinggangku
sesekali membentur papan sandaran. Sesekali juga sayaa setengah berdiri memperbaiki
posisi duduk sebab perih di bokongku semakin menggila. Mungkin inilah awal
ketahanmalangan saya mengkikuti Program sarjana mendidik Guru Produktif.
Hehehe...
Dari kejauhan di
atas punggung gunung mulai terlihat brisan rumah warga berjejer dibawah lembh.
Nama tempatnya adalahah Kananggar. Sinyal di hpku sudah muncul lagi setelah beberapa
jam menghilang. Syukurlah disana ada tower telkomsel yang berdiri tegak. Jadi saya
bisa naikan status FB tetang lokasi saya saat itu. Ada juga pasar dan warung makan
tradisional disitu. Banyak bis kayu yang beristrahat di simpang Kananggar itu.
Bis kayu yang saya tumpangi juga beristirahat sejenak disitu. Satu per satu
turun dan mnuju beberapa warung di tepi jalan. Saya pun menuju ke salah satu
warung berdinding gedek bersama teman jalan saya. Tidak begitu banyak pilihan
menu mkanan dan mnuman yang tersedia. Walaupun demikian bagi saya hidangan kopi
panas ala Kananggar cukup menambah
tengaku yang sempat hilang disepanjang jalan tadi. Kananggar merupakan satu-satunya
tempat peristirahatan semua bis kayu yang lewat. Baik melallui rute
Kwanggu-Tanarara maupun melalui Malolo.
Mentari semakin tinggi. Teriknya yang menyengat makin
terasa menembus pori-pori kulitku. Jam di hp ku menunjukkn pukul 10.30 wita.
Kurang lebih seperempat jalan lagi Kami tiba di Nggongi. Waktu yang di tempuh
Kurang lebih 2 jam lagi. Perjalanan dari Kananggar menuju Nggongi ibarat naik
gunung lalu turun gunung. Bis kayu yang saya tunpangi langsung tancap gas selepas
istirahat diwarung tadi. Jalanan yang dilaui langsung melwati tanjakkan yang panjang
dan berliku. Tidak ditemukan rumah-rumah warga disepanjang jalan itu. Mungkin dikarenkan
sepanjang tanjakan itu keadaannya gersang ataukah memang masuk dalam kawasan
hutan. Bis terus melaju dan mulai masuk jauh kedalam hutan yang rimbun. Jalan yang
dilewati kali ini dengan turunan yang panjang dan sedikit berkelok-kelok.
Keadaan udara tearsa cukup sejuk sebab di sepanjang pinggir jalan itu bayak pohon dengan ukuran yang sagat besar. Turunan panjang dengan hutan lebat ini disebut kawasan hutan Wai Mitting. Bala dibandingkan dengan jalur Malolo-Kananggar, Mungkin saja di jalur yang Kami lewati ini yang masih tersimpan potensi hutan dengan kekayaan biodiversivitasnya. Di ujung hutan itu sajian pemandangan indah Karera memnjakan mataku. Pada bagian lereng yang terbuka diujung hutan itu, bagai jendela yang terbuka lebar dengan sajian hamparan datar nan idah kecamatan Karera. Barisan rumah-rumah warga mulai nampak lagi selepas hutan “Wai Miting”. Beberapa penumpang ada yang mulai turun ditempatnya masing-masing. Ada juga yang datang mengambil barang titipannya.
Keadaan udara tearsa cukup sejuk sebab di sepanjang pinggir jalan itu bayak pohon dengan ukuran yang sagat besar. Turunan panjang dengan hutan lebat ini disebut kawasan hutan Wai Mitting. Bala dibandingkan dengan jalur Malolo-Kananggar, Mungkin saja di jalur yang Kami lewati ini yang masih tersimpan potensi hutan dengan kekayaan biodiversivitasnya. Di ujung hutan itu sajian pemandangan indah Karera memnjakan mataku. Pada bagian lereng yang terbuka diujung hutan itu, bagai jendela yang terbuka lebar dengan sajian hamparan datar nan idah kecamatan Karera. Barisan rumah-rumah warga mulai nampak lagi selepas hutan “Wai Miting”. Beberapa penumpang ada yang mulai turun ditempatnya masing-masing. Ada juga yang datang mengambil barang titipannya.
Sudah jam 12.00 siang. Panas terik menyengat semakin
terasa sampai didalam bis kyu. Debu jalanan beraspal lepas terspu roda sampai
hampir menutup seluruh padangan dibelakang bis. Terpaan angin kencang yang
berlawanan arah meneruskan debu sampai ke dalam bis kayu. Kami pun tidak luput dari
selimut debu tanah Karera di sepanjang jalanan rata trans Nggongi-Waingapu.
Rumah itu milik Bapa Umbu yang kini dihuni oleh anaknya
yang sudah berkeluarga. Rumah berdinding tembok dan berlantai keramik itu
sering disebut pangkalan oleh beberapa orang disekitarnya. Sebutan pangkalan
sangat familiar dikalangan teman-teman guru dan pegawai bahkan siswa siswi di sekolah
SMKN 6 Karera. Disebut pangkalan sebab rumah itu dianggap sebagai kantor kedua
dari SMK N 6 Karera. Beberapa perlengkapan sekolah disimpan di rumah itu. Mulai
dari alat tulis sampai alat-alat elektronik milik sekolah seperti komputer. Awalnya
saya merasa sedikit heran sehingga muncul pertanyaan mengapa barang-barang itu harus
disimpan di pangkalan. Rupanya jawabannya adalah dikarenakan di sekolah
tempatku mengabdi belum ada aliran listrik PLN. Ini adalah informasi awal yang
saya peroleh dari sang pemilik rumah setelah beberapa jam tiba di nggongi
kecamatan Karera.
Hari terus berlalu. Demikian juga saya sudah
semakin lama berada di Nggonngi. Rutinitasku kembali berjalan bersama laju sang
waktu dan mulai melebur bersama rutinitas dalam lingkungan baru di sekolah
maupun dalam rutinitas masyarakat di Nggongi.
Part 02.
Sekilas tentang
Nggongi
Selain Desa Salura, Enam desa alainnya saling
berdekatan dan pusat desanya berada disepanjang jalan Trans Waingapu. Disini
topografinya landai sampai datar. Bila kita melewati
jalanan disini hampir tidak ada jalanan yang mendaki tajam. Meski jalannya
tergolong rata, namun kondisi aspal jalan sudah banyak yang rusak dari kategori
ringan sampai berat. Walaupun demikian, masih dpat dilalui oleh kendaraan jenis
metick. Meski hanya beberapa saja jenis kendaraan sperti itu disini.
Wilayah nggongi masih sngat luas. Terutama lahan
kosong tanpa bangunan. Hamparan padang rumput nan luas manjakan pandangan kita akan
indahnya alam disini. Barisan rerumputan ilalang tegak berdiri di atas tanah
kring beratapkan panas terik yang menbakar. Jumlahnya sangat banyak dan
menutupi hampir sluruh padang itu. Meski kering dan mati disanalah tempat
bermain dan merumput bagi hewan peliharaan warga disini. Hamparan hijau jarang
terlihat. Hanya beberapa jenis tanaman pagar yang terlihat hijau diantra
rerumputan kering takberwarna. Jika musim hujan pastinya akan terlihat hijau dan
lebih indah dengan padang sabananya yang luas.
Sebagian
besar masayaarakatnya bermatapencahrian sebagai petani. Potensi lokal yang
dominan adalah peternakan dan perkebunan jambu mete. Sedangkan untuk jenis
tanaman pangan dan hortikultura sperti padi dan sayur-sayuran tidak begitu
menonjol. Jenis sawah tadiahan dan padi ladang yang pling banyak dikerjakan
warga disini. Sebab disekitar desa Nggongi belum ada bendungan serta saluran
irigasi permanen.
Warga
disini sangat ramah. Adat istiadatnya masih sangat kental. Gotong royong dalam kehidupan
sosial warga disini begitu nyata saya jumpai.
Masyarakat di
sini sangat ramah terhadap setiap orang baru yang datang. Saya merasakan
kermahan mereka dalam keseharian saya bersama mereka. Daerah ini sangat kental dengan
adat istiadatnya. Masyarakatnya sangat menjunjung tinggi norma-norma adat dalam
kehidupan mereka. Keramahan mereka membuat saya terharu dan membuat saya semakin
yakin untuk mnjalankan tugas saya sampai akhir disini.
Pada Suatu saat, saya sempatkan diri bertamu di
rumh tetangga tempat saya tinggal. Seperti pada umumnya brsalm2man dengan
mereka adalah hal yang lumrah sebgai pmbuka dalam sbuah pertmuan. Satu hal yang
unik yang saya jmpai adalah ketka saya disodarikan "hapa". Hapa adalah
bahasa lokal untuk siri, pinang dan kapur yang denganbung menjadi satu dalam
stu wadah tertentu. Hapa dimakan sampai rongga mulut berubh merah. Hapa tidak untuk
ditelan. Hapa hanya dikunya dimulut. Liur dari kunyahan hapa dibuang. Sehingga
hampir dibanyak tempat dijumpai limbah hapa yang merah merona di atas tanah.
Hapa dpt dianlogikan sebagai ungkapan selamat datang saat orang bersua. Tanpa
ragu aku pun mencicipi hapa yang diberikan pada saya. Tidak semua yang
diberikan saya masukan ke mulut. Hanya pinang kering yang dipotong halus saja yang
saya kunya. Ini hanyalah bagian dari strategiku agar tidak
menyingung tuan rumah yang saya kunjungi.
Sebagai Pendidik dalam program sarjana mendidik pemenuhan guru produktif di daerah 3T, saya sangat bersayakur mendapat lokasi di daerah yang msih sngat kental dengan kehidpn sosial yang feodal. Disini, Masih ada sebutan HAMBA bgi para playan2 raja. Jika ada forum-forum adat besar sebutan UMBU dan RAMBU tidak bisa disematkan kepada selain keturunan raja.
Sebagai Pendidik dalam program sarjana mendidik pemenuhan guru produktif di daerah 3T, saya sangat bersayakur mendapat lokasi di daerah yang msih sngat kental dengan kehidpn sosial yang feodal. Disini, Masih ada sebutan HAMBA bgi para playan2 raja. Jika ada forum-forum adat besar sebutan UMBU dan RAMBU tidak bisa disematkan kepada selain keturunan raja.
Bagi
masyarakat di Desa Nggongi, kecamatan Karera ataupun sumba timur pada umumnya,
urusan adat berada pada peringkat pertama atau kasta tertinggi untuk dilaksanakan.
Baik urusan adat pernikahan maupun kematian. Jika ada urusn-urusan yang
demikian, masayarakat tidak tanggung-tanggung menyiapkan dan membawa hewan
sebgai maharnya.
Dari
cerita-cerita yang saya dengr selama berda disini, msayarakatnya cederung
berkoban demi urusn adat ketimbang berkorban untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai
pada perguruan tinggi. Ironis memang kedengarannya. Tetapi, itulah realitanya yang
saya lihat dan tmukan selama berada disini. Dan memang sudah terjdi turun
temurun seperti degan apa yang disebut adat istiadat atau kebudaya setempat.
Jika
salah satu indikator orang yang kaya adalah dilhat dari banyaktidakanya hewan yang
dimiliki, maka bukan tidak mungkin masayaarkat disini masuk dalam kategori itu.
Bgaimna tidak demikian, hampir setiap warga khususnya di desa Nggongi memiliki
hewan-hewan besar maupun sedang sperti kerbau, sapi, kuda dan babi dalam jumlah
yang bervariatif.
Warga disini memiliki kebiasaan membiarkan ternak
mereka seperti babi, kambing, sapi dan kuda mencari makanan sendiri. Hampir
semuanya dibiarkan berkeliaran dipadang tanpa satupun yang di ikat. Keadaan ini
hanya terjdi saat musim kemarau saja. Terkadang Keadaan ini menyebabkan
pengemudi kendaraan yang melewati jalan harus waspada sebab ternak-ternak itu
kadang tidur dijalan dan sering menyeberangi jalan dengan tiba-tiba. Peristiwa
ini paling sering trjadi ketika musim hujan datang.
Awalnya saya merasa heran mlihat hewan plihraan berkeliaran
kesana dan kemari. Prahnya lgi ternak sedang seperti babi berkeliaran disekitar
rumah. Saya mrasa sedikit terganggu dengan keadaan seperti itu. Pada akirnya saya
mulai terbiasa sebab setiap hari keadaan itu selalu terjadi disekitarku.
Di Ngonggi terdapat
pasar tradisional yang dibuka setiap hari Sabtu. Pasar ini terletak di pusat
kota kecamatan Karera. Jarakanya kurang lebih 1 km dari tempat tnggal saya.
Menyusuri jalan setapak melewati kebun jambu mete merupakan jalur singkat
menuju pasar dari tempat tinggal saya. Tidak ada pemukiman warga di sekitar
pasar. Hanya terdapat satu bangunan terbuka dengan beberapa lapak jualan.
Seperti pasar pada umumnya, di pasar Nggongi juga
dijual berbagai macam bahan kebutuhan masyarakat. Mulai dari sembako sampai
pada bahan kebutuhan lainya. Uniknya beberapa harga bahan dagangannya dijual
serba lima ribuan. Hampir tidak dijumpai harga dibawah itu. Seperti saat saya
membeli sayur sawi harganya lima ribu per ikat. Begitu jugaa ikan teri kering
dalam kemasan kantong plastik kecil harganya pun sama.
......#............ #













0 komentar:
Posting Komentar