Episode 02. Anugrah dan Sebuah Tantangan
Setelah
dinyatakan lulus, kuliah di kelas adalah implikasinya. Urusan administrasi
kampus seluruhnya ditangani pihak akademik. Urusan keuangan semuanya ditanggung
negara. Baik biaya kuliah maupun biaya hidup untuk per bulannya dan wajib
menyelesaikan kontrak pendidikan tepat waktu. Kami Ibarat anak emas yang selalu
dilayani. Kami dipesan agar siapkan fisik dan pikiran untuk fokus kuliah.
Bagi
kami itu adalah suatu anugrah sekaligus juga tantangan berat. Anugerah adalah pendidikan
gratis dengan beasiswanya. Proses perkuliahan yang super padat menjadi tantangannya. Jadwal kuliah yang padat menjadi menu harian
kami. Kuliah teori, praktik, diskusi dan tugas yang menumpuk menjadi rutinitas
kami. Sebanyak 51 SKS harus di tuntaskan dalam setahun. Rinciannya 32 SKS pada
semester satu dan 19 SKS pada semester ke dua. Tentunya menjadi rekor yang luar
biasa dalam dunia pendidikan. Dan menjadi kebanggaan tersendiri bila telah
melewatinya dengan baik.
Dengan
latar belakang pendidikan DIII yang berbeda, melalui program PPGT ini, secara
kolektif kami disatukan dalam program studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Sebuah
program studi yang disebut sebagai garis tengah untuk menghandel latar belakang
DIII kami.
Selain
dengan latar pendidikan yang berbeda, kami juga dari lulusan angkatan yang
berbeda. Mulai dari lulusan angkatan tahun 2004 sampai 2011. Meski demikian,
tidak menjadi halangan bagi kami. Keasingan yang awalnya menerpa, telah larut
dalam keseharian bersama saat duduk di bangku kuliah.
Ruang
kuliah kami terpisah dari kelas reguler. Lantai tiga gedung jurusan perternakan
menjadi tempat kami belajar. Perlakuan pihak kampus yang berbeda dengan kelas
reguler ini, menjadikan kami sebagai mahasiswa khusus dalam kelas khusus. Ruangan
dan fasilitas kuliah yang elit dan lengkap, meningkatkan tanggungjawab dan moral
kami sebagai mahasiswa yang di utamakan. Pelayanan super dari pihak kampus
telah membesarkan kami. Ketekunan belajar demi mencapai target dan berkomitmen lulus
100%, akan menjadi bayaran atas segala pemberian almamater kepada kami.
Selain
sarana dan prasarana yang lengkap. Kami dididik oleh para dosen yang
berkompeten di bidangnya. Dosen-dosen senior di tunjuk untuk memberikan kuliah
pada kami. Tidak hanya dosen dari Politani Kupang saja yang mengajar kami.
Dosen-dosen senior dari LPTK UNY juga menjadi pendidik kami. Mereka dikhususkan
mengajar mata kuliah pedagogik bidang keguruan, sedangkan untuk bidang keahlian
di ampuh dosen-dosen dari Politani Kupang.
Kami
dididik dari dua kultur yang berbeda, yaitu kultur Timur dan Jawa. Kami
diperkaya dengan dua bidang ilmu yang berbeda, yaitu bidang keguruan dan
penyuluhan pertanian. Perbedaan kultur itu telah memoles karakter dan menjunjung
tinggi moralitas kami, sedangkan kolaborasi bidang pedagogik keguruan dan
penyuluhan pertanian akan menlengkapi ilmu kami.
Semua
itu terlahir dari dinamika dalam perkuliahan yang kami ikuti. Berbagai dinamika
dalam proses pendidikan selama tahun pertama menjadi kisah menarik tersendiri
bagi kami. Semuanya larut bersama jalannya sang waktu namun sedikit pun tidak
pernah hilang dari ingatan kami. Memori itu terkuak kembali ketika kami
berkumpul bersama. Kisah-kisah yang lucu dan sedih bahkan sampai kisah yang
terkesan “jorok” (baca: kumpulan cerita
orang dewasa) pun menjadi bumbu lelucon kami.
Kisah
yang cukup familiar bagi kami sebagai bahan lelucon adalah sosok “Pak Is”.
Beliau sebagai sekretaris di kampus kami. Semua urusan keuangan beasiswa setiap
dua bulannya menjadi urusannya. Sedihnya, terkadang pak Is menjadi pelampiasan
amarah kami bila tranfer beasiswanya mandek. Memang terkesan sangat lucu,
karena beasiswa tersebut menjadi harapan utama untuk kebutuhan kami.
Sosok
lainnya adalah pak Moris. Beliau adalah teknisi bidang administrasi yang
mengurusi entri data nilai-nilai kami. Pak Moris akan menjadi langganan
komunikasi kami untuk memburu informasi tentang bocoran nilai ujian kami. Hal
terburuk yang kadang kami lakukan adalah menghasut Pak Moris membocorkan
soal-soal ujian. Hal ini kami lakukan semata karena faktor kedekatan kami
dengan bekiau. Meskipun kami begitu akrab, Pak Moris tetap tidak mau memenuhi
segala permintaan kami. Memang kedengarannya agak lucu bagi para calon pendidik
seperti kami. Tetapi, semua itu adalah bagian dari sebuah dinamika dalam
perjalanan kami.
Kisah
dari sosok Pak Is dan Pak Moris yang fenomenal itu, merupakan penggalan cerita unik
dari beribu cerita yang kami sutradarai sendiri. Cerita yang terlahir dari
berbagai aktivitas selama perkuliahan baik teori, praktik, mengerjakan tugas
kelompok, saat penelitian bahkan rutinitas seharian kami pada tahun pertama ini.
Goresan kisah ini menjadi bingkisan indah dalam kisah hidup kami selanjutnya
dalam lingkup yang lebih luas.
Goresan
kisah lainnya yaitu ketika kami disibukan dengan tugas akhir. Koridor akhir ini
harus kami selesaikan dalam rentang waktu tiga bulan. Tentunya ini adalah limit
waktu yang sangat singkat dan mustahil dapat menyelesaikan tugas akhir dengan
jenis penelitian eksperiman. Untuk itu kami disarankan melakukan penelitian non
eksperimen. Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak sanggup melaksanakan
penelitian, meski beberapa diantara kami nekat dengan metode penelitian
eksperimen. Semuanya harus mampu diselesaikan tepat waktu meski jadwal kuliah
sedang berjalan.
Ini
adalah tantangan terberat bagi kami. Tekanan psikologis seakan mulai membunuh
karakter kami. Pengajuan judul penelitian yang berkepanjangan menjadi beban
pikiran kami. Konsultasi proposal penelitian dengan banyak garis merah sebagai
tanda harus diganti dan diperbaiki, seakan menambah beban psikologis itu.
Hujan
keringat dan air mata saat penelitian dan penyusunan tugas akhir merupakan
manifestasi dari perjuangan kami yang tanpa kenal menyerah. Kontrakan di Jalan
Farmasi menjadi saksi bisu perjuangan siang dan malam kami. Kontrakan yang
meninggalkan sejarah kesuksesan kami itu, menjadi sungai kebahagiaan bagi air
mata dan keringat kami yang bercucuran. Komitmen dan kekompakan kami telah
mengalahkan berbagai tekanan yang melunturkan psikologis dan moral kami.
Kini semuanya telah berlalu. Tahun pertama sudah kami lewati. Semua berakhir
saat kami dikukuhkan pada yudisium jurusan. Perjuangan dan kerja keras selama
setahun terhapus oleh air mata kebahagian. Sorak tawa yang menggelegar dan sumringah
senyuman yang tiada henti, pecah dalam seremonial wisuda tanggal 20 Oktober
2012. Kening yang dulunya berkerut, kini terlihat mulus oleh lapisan makeup
yang tebal. Rambut yang dulunya tak
terurus, kini gagah dengan berbagai bentuk potongan. Semuanya kami lakukan demi
mengabadikan momen yang tek terbelikan itu. Dari tribun kehormatan nama kami
dipanggil diikuti sematan Sarjana Sains Terapan (SST) di belakangnya. Sematan
gelar sarjana terapan yang diraih melalui pendidikan lintas jenjang Program
Pendidikan Profesi Guru, membangkitkan semangat kami untuk terus maju bersama
mencerdaskan bangsa.