Episode 01. Terpilih dari tim penguji yang terpilih
Anak
NTT. Itulah sebutan yang sering melekat dalam diri kami. Kami memang anak-anak
dari daerah kepulauan. Nusa Tenggara Timur (NTT) nama propinsinya. Propinsi
dengan berjuta kekayaan bahasa, suku, adat dan budaya. Deskripsi keanekaragaman
namun tetap satu yang tercermin dalam semangat Bhineka Tunggal Ika.
Kami
Bersatu dalam perbedaan. Sesungguhnya itulah semangat kami. Kami Terlahir dari
daerah yang berbeda namum memiliki lokasi mimpi yang sama yakni mimpi yang setinggi
langgit. Kami berasal dari Pulau Timor (Kota Kupang, Kupang, Timor Tengah
Selatan dan Belu. Kami juga berasal dari Pulau Flores (Manggarai Barat,
Manggarai, Ngada, Nagekeo dan Ende), dan juga dari Pulau Rote. Ini tentang
latar belakang asal kami. Bukannya membangkitkan semangat primordialsme. Ini
hanyalah desiran angin timur membangunkan tanah Flobamora dari keterbelakangan pendidikan
yang melanda.
Kami
tidak memungkiri, bahwa daerah kami memang dikenal masih terbelakang dari aspek
pendidikan. Kami berani mengatakan bahwa yang terbelakang bukanlah potensi
akademik manusianya, melainkan sarana pendukung pengembangan potensi tersebut. Keterbatasan
sekolah dan guru serta teknologi informasi dalam bidang pendidikan yang belum
tersebar merata masih menjadi kendala. Memang begitulah realita yang sudah
menjadi dinamika berlarut-larut di daerah kami. Harapan tentunya adalah semangat
pembaharuan dari kaum muda serta dukungan dan perhatian dari pemerintah dalam aspek
pendidikan.
Melanjutkan
pendidikan dengan memperoleh beasiswa dari pemerintah adalah mimpi yang
didambakan oleh siapapun. Apalagi bila mimpi itu dapat menjadi kenyataan. Ketika
seseorang mendapatkan apa yang didambakannya, terkadang Ia tak percaya akan hal
itu. Bayang-bayang pepatah kuno, “bagai mimpi di siang bolong” selalu menjadi
pertanyaan dibenaknya. Mungkin juga di antara kami ada yang berasumsi demikian ketika
kami dinyatakan lulus pendidikan profesi guru, sehingga pepatah itu layak
dilabelkan pada kami. Ataukah juga ada yang berasumsi bahwa kami termasuk orang
yang beruntung pada saat itu? Ataukah kami sudah ditakdirkan dari “Sono”nya (baca: Tuhan) untuk masuk dalam lingkaran
pendidikan profesi guru tersebut? Tentunya dibutuhkan suatu perefleksian yang mendalam
untuk memaknai hal itu.
Terlepas
dari itu, mari kita menilik pernyataan Charles Forbes berikut ini:”
Kesempatan jarang sekali mengetuk pintu anda, karena itu ketuklah pintu
kesempatan jika anda benar-benar ingin masuk”. Pernyataan Forbes
tersebut memberikan suatu perefleksian yang mendalam bagi kita. Pastinya, kami
sudah mengetuk pintu itu dan kini pintu kesempatan itu sudah dibukakan bagi
kami. Kami sudah masuk dan tinggal dalam
rumah kesempatan itu.
Kami
adalah alumni peserta Program Pendidikan Profesi Guru SMK Kolabotarif (PPGT SMK
SM-3T) tahun ajaran 2012-2013. Program ini merupakan program Indonesia Mengajar
di bawah naungan kementerian pendidikan tinggi (Dikti). Dikti menyerahkan
tanggungjawab program ini kepada Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK)
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sebagai program integratif dan
kolabrotatif antara pendidikan dan pertanian, maka UNY menggandeng kampus
Politeknik Pertanian (POLITANI) Negeri Kupang.
Kami
memang berlatar belakang pendidikan vokasi bidang pertanian. Politani adalah
almamater kami. Tidak satupun di antara kami memiliki dasar pengetahuan tentang
kompetensi pendidikan keguruan. Kerja keras, komitmen dan rasa percaya diri sebagai
modal dasar kami menembus pintu kesempatan itu.
written by
Hendrikus Ch. M. Enge, SST.,Gr
Januari, 2013







0 komentar:
Posting Komentar