Senin, 29 Desember 2014

“Goresan Kisah Yang Terlahir Dari Panggilan Profesi”



Episode 01. Terpilih dari tim penguji yang terpilih

Anak NTT. Itulah sebutan yang sering melekat dalam diri kami. Kami memang anak-anak dari daerah kepulauan. Nusa Tenggara Timur (NTT) nama propinsinya. Propinsi dengan berjuta kekayaan bahasa, suku, adat dan budaya. Deskripsi keanekaragaman namun tetap satu yang tercermin dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. 

Kami Bersatu dalam perbedaan. Sesungguhnya itulah semangat kami. Kami Terlahir dari daerah yang berbeda namum memiliki lokasi mimpi yang sama yakni mimpi yang setinggi langgit. Kami berasal dari Pulau Timor (Kota Kupang, Kupang, Timor Tengah Selatan dan Belu. Kami juga berasal dari Pulau Flores (Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Nagekeo dan Ende), dan juga dari Pulau Rote. Ini tentang latar belakang asal kami. Bukannya membangkitkan semangat primordialsme. Ini hanyalah desiran angin timur membangunkan tanah Flobamora dari keterbelakangan pendidikan yang melanda.   

Kami tidak memungkiri, bahwa daerah kami memang dikenal masih terbelakang dari aspek pendidikan. Kami berani mengatakan bahwa yang terbelakang bukanlah potensi akademik manusianya, melainkan sarana pendukung pengembangan potensi tersebut. Keterbatasan sekolah dan guru serta teknologi informasi dalam bidang pendidikan yang belum tersebar merata masih menjadi kendala. Memang begitulah realita yang sudah menjadi dinamika berlarut-larut di daerah kami. Harapan tentunya adalah semangat pembaharuan dari kaum muda serta dukungan dan  perhatian dari pemerintah dalam aspek pendidikan. 

Melanjutkan pendidikan dengan memperoleh beasiswa dari pemerintah adalah mimpi yang didambakan oleh siapapun. Apalagi bila mimpi itu dapat menjadi kenyataan. Ketika seseorang mendapatkan apa yang didambakannya, terkadang Ia tak percaya akan hal itu. Bayang-bayang pepatah kuno, “bagai mimpi di siang bolong” selalu menjadi pertanyaan dibenaknya. Mungkin juga di antara kami ada yang berasumsi demikian ketika kami dinyatakan lulus pendidikan profesi guru, sehingga pepatah itu layak dilabelkan pada kami. Ataukah juga ada yang berasumsi bahwa kami termasuk orang yang beruntung pada saat itu? Ataukah kami sudah ditakdirkan dari “Sono”nya (baca: Tuhan) untuk masuk dalam lingkaran pendidikan profesi guru tersebut? Tentunya dibutuhkan suatu perefleksian yang mendalam untuk memaknai hal itu.

Terlepas dari itu, mari kita menilik pernyataan Charles Forbes berikut ini:” Kesempatan jarang sekali mengetuk pintu anda, karena itu ketuklah pintu kesempatan jika anda benar-benar ingin masuk”. Pernyataan Forbes tersebut memberikan suatu perefleksian yang mendalam bagi kita. Pastinya, kami sudah mengetuk pintu itu dan kini pintu kesempatan itu sudah dibukakan bagi kami.  Kami sudah masuk dan tinggal dalam rumah kesempatan itu.
Kami adalah alumni peserta Program Pendidikan Profesi Guru SMK Kolabotarif (PPGT SMK SM-3T) tahun ajaran 2012-2013. Program ini merupakan program Indonesia Mengajar di bawah naungan kementerian pendidikan tinggi (Dikti). Dikti menyerahkan tanggungjawab program ini kepada Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sebagai program integratif dan kolabrotatif antara pendidikan dan pertanian, maka UNY menggandeng kampus Politeknik Pertanian (POLITANI) Negeri Kupang.
Kami memang berlatar belakang pendidikan vokasi bidang pertanian. Politani adalah almamater kami. Tidak satupun di antara kami memiliki dasar pengetahuan tentang kompetensi pendidikan keguruan. Kerja keras, komitmen dan rasa percaya diri sebagai modal dasar kami menembus pintu kesempatan itu. 

Kami terseleksi dari total 84 peserta tes. Kami berjumlah 30 orang. Sebanyak 18 putera dan 12 puteri. Seperti pada tes-tes umum lainnya, tahapan tes yang cukup panjang dan rumit menjadi tantangan bagi kami saat itu. Ada yang mengatakan tes itu syarat Nepotisme. Tetapi hal itu tidaklah benar. Kami didaulat lulus murni. Itulah yang dikatan hampir semua orang di kampus.  Kami pun bangga sebab kami di pilih oleh tim penguji yang terpilih dari UNY.

written by
Hendrikus Ch. M. Enge, SST.,Gr
Januari, 2013

0 komentar:

Posting Komentar