HIV/AIDS DALAM KONTEKS IMAN KRISTIANI
OLEH : HENDRIKUS CH. MB. ENGE
PRODI : MSDH
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Setiap
1 Desember masyarakat dunia bersama-sama memaknai persoalan HIV dan
AIDS dengan menetapkannya sebagai Hari AIDS Se-Dunia. Epidemi HIV dan
AIDS serta penyalahgunaan Napza telah menimbulkan dampak buruk terhadap
kehidupan umat manusia termasuk kehidupan warga gereja. Persoalan HIV
dan AIDS selain berpengaruh terhadap kesehatan, juga berpengaruh
terhadap perkembangan sosio-ekonomi, sosio-budaya, politik, dan
pertahanan keamanan bangsa. Epidemi HIV dan AIDS serta penyalahgunaan
Napza di Indonesia menunjukkan ancaman yang serius. Ancaman ini terkait
erat dengan faktor resiko terutama pada perilaku seksual dan penggunaan
narkoba jenis jarum suntik yang semakin meningkat tahun-tahun terakhir
ini. Epidemi HIV dan AIDS di Indonesia sangat variatif sesuai dengan
karakteristik negara kita sendiri yang terdiri dari beragam sosio-budaya
termasuk perilaku sehingga tidak mungkin menggambarkan hanya dengan
satu gambaran saja serta memaksakan keadaan di seluruh negara ke dalam
satu kategori epidemi saja. Saat ini diperkirakan terdapat
160.000-216.000 orang yang hidup dengan HIV dan AIDS di Indonesia.
Penularan utama adalah melalui hubungan seksual beresiko dan
penyalahgunaan narkoba melalui jarum suntik.
Pada
kesempatan Hari AIDS Se-Dunia tahun ini ada baiknya gereja melakukan
sosialisasi mengenai bahaya HIV dan AIDS serta ikut dalam upaya
pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS. Dengan demikian maksud dan
tujuan diselenggarakannya perayaan Hari AIDS Se-Dunia adalah
mengingatkan gereja dalam panggilan-Nya untuk merangkul semua orang
menderita dan ditantang untuk memberikan cinta kasih. Gereja adalah
tubuh Kristus yang mati bagi semua dan masuk ke dalam penderitaan semua
orang. Dengan demikian Gereja tidak semestinya menyisihkan orang yang
membutuhkan pertolongan, termasuk mereka yang menderita karena HIV dan
AIDS.
Kepemimpinan
gereja ditantang untuk membuka diri kepada mereka yang menderita,
mengenal penderitaan mereka dan bersama-sama menanggungnya dengan cara
mendampingi mereka menghadapi penolakan dan keputusasaan. Hanya dengan
demikian gereja dapat mengekspresikan arti tubuh Kristus yang
sebenarnya. Cinta kasih dan keteladanan-Nya menjawab segala persoalan
HIV dan AIDS di tengah-tengah penderitaan dunia.
TUJUAN
Kita selalu diingatkan agar mampu berbuat sesuatu dalam menyelamatkan generasi bangsa dari HIV dan AIDS.
Agar pemahaman mengenai masalah HIV/AIDS pada generasi muda terutama dalam konteks iman kristiani lebih ditingkatkan.
PENGEERTIAN
APAKAH HIV ITU?
HIV, yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah Virus penyebab AIDS.
HIV terdapat di dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti di dalam darah, air mani atau cairan vagina
Sebelum HIV berubah menjadi AIDS, penderitanya akan tampak sehat dalam waktu kira-kira 5 sampai 10 tahun.
Walaupun
tampak sehat, mereka dapat menularkan HIV pada orang lain melalui
hubungan seks yang tidak aman, tranfusi darah atau pemakaian jarum
suntik secara bergantian.
APAKAH AIDS ITU ?
AIDS yang merupakan kependekan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sindroma menurunkan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.
Orang
yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit,
karena sistem kekebalan di dalam tubuhnya telah menurun.
Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS.
Agar dapat terhindar dari HIV/AIDS, anda harus tahu bagaimana cara penularan dan pencegahannya.
POKOK PERSOALAN
BAGAIMANA PERMASALAHANNYA?
Peran
kaum agamawan tentunya lebih menonjol di bidang preventif, akhlak,
moral, dan etik dari generasi muda kita. Makin besar dan tingginya
intensitas keluarga atau rumah tangga yang mengalami disfungsi, akan
memperlebar gap antargenerasi yang setiap hari melihat broken homes di
tengah rumah tangga.
Disfungsional rumah tangga di Indonesia belum sebesar rumah tangga Barat, tetapi televisi dan media massa cetak lebih banyak memperluas tersebarnya suatu berita negatif dalam waktu yang relatif singkat.
Kalangan agamawan Islam dan Kristen sama-sama menyatakan bahwa penderita HIV dan AIDS terkena perbuatan dosanya.
Namun setelah mendengar dan melihat secara langsung kehidupan dari para
ODHA sangat sungguh memprihatinkan. Mereka harus berjuang dalam
keluarganya, dikucilkan, diberhentikan dari pekerjaannya serta dianggap
“sampah” dalai masyarakat.
Dikucilkan,
diberhentikan, dan dianggap sampah masyarakat adalah stigma yang
dialami ODHA pada masyarakat (Islam maupun Kristen). Kalau Tuhan yang
Maha Pengasih dan Penyayang menjadikan penyakit sebagai penggugur dosa
manusia maka akan terjadi dengan apa yang disebut sebagai krisis
kemanusiaan.
Dalam
era globalisasi dan global village ini, manusia menghadapi keadaan
dilematis, yaitu kebangkitan kembali nilai agama (revival of religions)
dan sekaligus manusia saling membunuh atas nama agama. Sebenarnya, agama
tidak salah, tetapi yang bersalah adalah manusia yang begitu berani
membawa "nama Tuhan" untuk membunuh orang (teroris).
Kita harus berpikir lebih dalam, yaitu modernisasi yang diharapkan
membawa manusia hidup lebih bahagia ternyata hanya membawa kita hidup
lebih enak atau lebih comfort (nyaman), namun tak banyak bahagia. UNAIDS
telah melihat potensi agama untuk melawan HIV dan AIDS dan peranan
tokoh dalam masyarakat dan budaya masing-masing. Kira-kira dua dekade
dunia telah bergelut menghadapi narkoba, HIV, dan AIDS, namun belum
sukses melawan HIV dan AIDS.
Bukankah
agama ujung- ujungnya harus mengabdi kepada manusia dan kemanusiaan?
Siapa yang membuat agama menjadi begitu kejam? Bukankah kekejaman itu
terjadi akibat ulah manusia sendiri? Hanya Dia yang tahu. Mari kita
ambil hikmah atas semakin banyaknya wabah penyakit yang menyerang umat
manusia. Dan, diperlukan kerja sama antara tokoh agama dalam menghadapi
penyakit-penyakit itu, terutama HIV dan AIDS.
HIV/AIDS DALAM KONTERKS IMAN KRISTIANI
Setiap
tanggal 1 desember, kita memperingati hari AIDS sedunia. Apa sebenarnya
yang sedang kita peringati? Apakah kita sedang memperingati sebuah
wabah mematikan yang hingga sekarang terus eksis di tengah-tengah
kehidupan kita? Ataukah peringatan itu merupakan wujud kepedulian kita
terhadap saudara-saudara kita yang menderita penyakit ini? Atau,
jangan-jangan kita sedang memperingati sebuah penyakit yang kita anggap
sebagai sebuah kutukan atau hukuman Tuhan? Tentu saja, cara pandang kita
terhadap penyakit ini sangat menentukan jawaban yang akan kita berikan.
Selaku
orang Kristen, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, mau tidak mau,
mewakili pertanggung-jawaban iman kita. Aspek iman inilah yang kemudian
membuat pertanyaan-pertanyaan tadi semakin menusuk, “ Apa wujud tanggung
jawab iman kita terhadap saudara-saudara kita yang hidup dengan
HIV/AIDS?
Alkitab sama sekali tidak membicarakan persoalan HIV/AIDS. Namun, itu
bukan berarti bahwa Alkitab sama sekali tidak membantu kita dalam
mengambil sikap terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Pada zaman
Yesus, penyakit “kusta” dapat di sejajarkan dengan HIV/AIDS di zaman
sekarang ini. Dikisahkan seorang yang menderita kusta datang kepada
Yesus untuk disembuhkan. Apa yang dilakukan Yesus? Pembacaan kita
mengatakan, “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu …”
Apa yang dilakukan Yesus kepada orang kusta tadi adalah suatu tindakan
yang sangat luar biasa. Mengapa? Di mata sebagian besar orang Israel,
penyakit kusta adalah sebuah kejijikan dan kenajisan. Penderita kusta
pastilah akan diasingkan dari kehidupan bermasyarakat. Dalam keadaan
seperti ini, mereka benar-benar terpuruk. Secara fisik mereka tentu saja
sangat menderita dengan penyakit yang mereka alami, penderitaan ini
ditambah dengan stigma masyarakat bahwa mereka adalah orang berdosa.
Dalam hal spriritual, mereka juga terpuruk.
Pandangan religius yang menegaskan bahwa Allah adalah adil, membuat
setiap orang yang menderita, termasuk penderita kusta, harus menerima
kenyataan bahwa masyarakat menuduh mereka sebagai pendosa yang tengah
dihukum oleh Tuhan. Implikasinya, mereka dijauhkan dari lingkaran sosial
dan ibadah-ibadah komunal. Dengan demikian, uluran tangan dan jamahan
Yesus adalah “obat” mujarab yang mendatangkan “kesembuhan” bagi si
kusta. Uluran tangan itu mengindikasikan sikap penerimaan total terhadap
orang-orang yang tertolak di dalam masyarakat.
Apa
yang dialami si kusta tadi juga terjadi terhadap sebagian besar orang
yang hidup dengan HIV/AIDS. Secara fisik, mereka harus berjuang melawan
virus yang terus menggerogoti kekebalan tubuh mereka. Kenyataan ini
ditambah dengan stigma dari masyarakat bahwa penyakit itu adalah hukuman
atas aktivitas seksual yang mereka lakukan, sehingga mereka digolongkan
sebagai pendosa yang memang pantas mendapat hukuman.
Di mana posisi kita? Apakah kita mau mengikuti pandangan umum dan
menjauhi mereka? Ataukah, kita mau berdiri di posisi Yesus, yang
mengulurkan tangan dan menjamah mereka? Dengan kata lain, maukah kita
melupakan segala stigma yang ada dan merima mereka sebagai seorang
manusia utuh yang membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita?
PENUTUP
Bagi
manusia yang selalu berpikir, tak ada suatu musibah yang tak dapat
ditarik hikmahnya, tak terkecuali musibah kemanusiaan seperti penyakit
HIV dan AIDS.
Permasalahan
HIV dan AIDS bukan saja menjadi masalah nasional akan tetapi sudah
menjadi masalah global karena lebih dari 40 juta jiwa manusia di dunia
hidup dengan HIV. Dengan demikian HIV dan AIDS adalah juga masalah
gereja yang harus dicegah dan ditangani bersama. Diharapkan di kemudian
hari semua gereja di Indonesia memiliki pelayanan HIV dan AIDS.
Tokoh
agama jangan mengisolasi dan mengambil garis hitam terhadap pengidap
HIV/AIDS. Agama, melalui para tokoh agama, bertanggung jawab
mempersiapkan umatnya menghadapi HIV/AIDS. Untuk itu, mereka perlu
membuka dan menambah wawasan tentang HIV/AIDS.
Agama
harus memberi alternatif (solusi) dalam mengatasi HIV/AIDS. Karena itu,
agama harus mengetahui dengan benar sejarah munculnya HIV/AIDS menjadi
penyakit yang berbahaya.