Menjadi Aku Apa adanya

Jadilah dirimu sendiri karena engkau berharga, tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu dan engkau selalu dikasihi-Nya dengan cinta yang sama!” - Sr. M Fransita, FCh .

Menatap Senja yang Akan Pergi

Jadilah benih yang baik, yang siap mendengarkan, mengerti dan berbuah di dalam Sabda Tuhan. Peliharalah iman selalu, teguh dan peka akan Kristus.

Menikmati CiptaanNya yang selalu jujur

Alam selalu memberikan kejujuran akan keindahannya yang tak mampu kita bantah.

Menyatu Bersama Alam Kepunyaan-Nya

Semangat Kerendahan Hati lebih manis daripada madu, dan mereka yang menyuburkan dirinya dengan madu akan menghasilkan buah yang manis” - St. Antonius dari Padua -

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Di Ujung Senja Aku Melihat Engkau

Dirimu sungguh berharga karena tidak pernah ada orang yang sama seperti dirimu, baik di masa lalu, masa sekarang dan masa depan - Suster M. Fransita, FCh

Selalu Siaga dalam keadaan apapun

Akal budi membuat orang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran

Mencintaimu Tanpa Batas

Kekuatan Sesungguhnya adalah cinta kita yang dipersatukan Oleh-Nya.

Senin, 29 Desember 2014

“Goresan Kisah Yang Terlahir Dari Panggilan Profesi”



Episode 02. Anugrah dan Sebuah Tantangan

Setelah dinyatakan lulus, kuliah di kelas adalah implikasinya. Urusan administrasi kampus seluruhnya ditangani pihak akademik. Urusan keuangan semuanya ditanggung negara. Baik biaya kuliah maupun biaya hidup untuk per bulannya dan wajib menyelesaikan kontrak pendidikan tepat waktu. Kami Ibarat anak emas yang selalu dilayani. Kami dipesan agar siapkan fisik dan pikiran untuk fokus kuliah. 

Bagi kami itu adalah suatu anugrah sekaligus juga tantangan berat. Anugerah adalah pendidikan gratis dengan beasiswanya. Proses perkuliahan yang super padat menjadi tantangannya.  Jadwal kuliah yang padat menjadi menu harian kami. Kuliah teori, praktik, diskusi dan tugas yang menumpuk menjadi rutinitas kami. Sebanyak 51 SKS harus di tuntaskan dalam setahun. Rinciannya 32 SKS pada semester satu dan 19 SKS pada semester ke dua. Tentunya menjadi rekor yang luar biasa dalam dunia pendidikan. Dan menjadi kebanggaan tersendiri bila telah melewatinya dengan baik.  

Dengan latar belakang pendidikan DIII yang berbeda, melalui program PPGT ini, secara kolektif kami disatukan dalam program studi Penyuluhan Pertanian Lahan Kering. Sebuah program studi yang disebut sebagai garis tengah untuk menghandel latar belakang DIII kami.
Selain dengan latar pendidikan yang berbeda, kami juga dari lulusan angkatan yang berbeda. Mulai dari lulusan angkatan tahun 2004 sampai 2011. Meski demikian, tidak menjadi halangan bagi kami. Keasingan yang awalnya menerpa, telah larut dalam keseharian bersama saat duduk di bangku kuliah.

Ruang kuliah kami terpisah dari kelas reguler. Lantai tiga gedung jurusan perternakan menjadi tempat kami belajar. Perlakuan pihak kampus yang berbeda dengan kelas reguler ini, menjadikan kami sebagai mahasiswa khusus dalam kelas khusus. Ruangan dan fasilitas kuliah yang elit dan lengkap, meningkatkan tanggungjawab dan moral kami sebagai mahasiswa yang di utamakan. Pelayanan super dari pihak kampus telah membesarkan kami. Ketekunan belajar demi mencapai target dan berkomitmen lulus 100%, akan menjadi bayaran atas segala pemberian almamater kepada kami.

Selain sarana dan prasarana yang lengkap. Kami dididik oleh para dosen yang berkompeten di bidangnya. Dosen-dosen senior di tunjuk untuk memberikan kuliah pada kami. Tidak hanya dosen dari Politani Kupang saja yang mengajar kami. Dosen-dosen senior dari LPTK UNY juga menjadi pendidik kami. Mereka dikhususkan mengajar mata kuliah pedagogik bidang keguruan, sedangkan untuk bidang keahlian di ampuh dosen-dosen dari Politani Kupang.

Kami dididik dari dua kultur yang berbeda, yaitu kultur Timur dan Jawa. Kami diperkaya dengan dua bidang ilmu yang berbeda, yaitu bidang keguruan dan penyuluhan pertanian. Perbedaan kultur itu telah memoles karakter dan menjunjung tinggi moralitas kami, sedangkan kolaborasi bidang pedagogik keguruan dan penyuluhan pertanian akan menlengkapi ilmu kami.

Semua itu terlahir dari dinamika dalam perkuliahan yang kami ikuti. Berbagai dinamika dalam proses pendidikan selama tahun pertama menjadi kisah menarik tersendiri bagi kami. Semuanya larut bersama jalannya sang waktu namun sedikit pun tidak pernah hilang dari ingatan kami. Memori itu terkuak kembali ketika kami berkumpul bersama. Kisah-kisah yang lucu dan sedih bahkan sampai kisah yang terkesan “jorok” (baca: kumpulan cerita orang dewasa) pun menjadi bumbu lelucon kami.

Kisah yang cukup familiar bagi kami sebagai bahan lelucon adalah sosok “Pak Is”. Beliau sebagai sekretaris di kampus kami. Semua urusan keuangan beasiswa setiap dua bulannya menjadi urusannya. Sedihnya, terkadang pak Is menjadi pelampiasan amarah kami bila tranfer beasiswanya mandek. Memang terkesan sangat lucu, karena beasiswa tersebut menjadi harapan utama untuk kebutuhan kami.

Sosok lainnya adalah pak Moris. Beliau adalah teknisi bidang administrasi yang mengurusi entri data nilai-nilai kami. Pak Moris akan menjadi langganan komunikasi kami untuk memburu informasi tentang bocoran nilai ujian kami. Hal terburuk yang kadang kami lakukan adalah menghasut Pak Moris membocorkan soal-soal ujian. Hal ini kami lakukan semata karena faktor kedekatan kami dengan bekiau. Meskipun kami begitu akrab, Pak Moris tetap tidak mau memenuhi segala permintaan kami. Memang kedengarannya agak lucu bagi para calon pendidik seperti kami. Tetapi, semua itu adalah bagian dari sebuah dinamika dalam perjalanan kami.

Kisah dari sosok Pak Is dan Pak Moris yang fenomenal itu, merupakan penggalan cerita unik dari beribu cerita yang kami sutradarai sendiri. Cerita yang terlahir dari berbagai aktivitas selama perkuliahan baik teori, praktik, mengerjakan tugas kelompok, saat penelitian bahkan rutinitas seharian kami pada tahun pertama ini. Goresan kisah ini menjadi bingkisan indah dalam kisah hidup kami selanjutnya dalam lingkup yang lebih luas.

Goresan kisah lainnya yaitu ketika kami disibukan dengan tugas akhir. Koridor akhir ini harus kami selesaikan dalam rentang waktu tiga bulan. Tentunya ini adalah limit waktu yang sangat singkat dan mustahil dapat menyelesaikan tugas akhir dengan jenis penelitian eksperiman. Untuk itu kami disarankan melakukan penelitian non eksperimen. Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak sanggup melaksanakan penelitian, meski beberapa diantara kami nekat dengan metode penelitian eksperimen. Semuanya harus mampu diselesaikan tepat waktu meski jadwal kuliah sedang berjalan.

Ini adalah tantangan terberat bagi kami. Tekanan psikologis seakan mulai membunuh karakter kami. Pengajuan judul penelitian yang berkepanjangan menjadi beban pikiran kami. Konsultasi proposal penelitian dengan banyak garis merah sebagai tanda harus diganti dan diperbaiki, seakan menambah beban psikologis itu. 

Hujan keringat dan air mata saat penelitian dan penyusunan tugas akhir merupakan manifestasi dari perjuangan kami yang tanpa kenal menyerah. Kontrakan di Jalan Farmasi menjadi saksi bisu perjuangan siang dan malam kami. Kontrakan yang meninggalkan sejarah kesuksesan kami itu, menjadi sungai kebahagiaan bagi air mata dan keringat kami yang bercucuran. Komitmen dan kekompakan kami telah mengalahkan berbagai tekanan yang melunturkan psikologis dan moral kami.      

Kini semuanya telah berlalu. Tahun pertama sudah kami lewati. Semua berakhir saat kami dikukuhkan pada yudisium jurusan. Perjuangan dan kerja keras selama setahun terhapus oleh air mata kebahagian.  Sorak tawa yang menggelegar dan sumringah senyuman yang tiada henti, pecah dalam seremonial wisuda tanggal 20 Oktober 2012. Kening yang dulunya berkerut, kini terlihat mulus oleh lapisan makeup yang  tebal. Rambut yang dulunya tak terurus, kini gagah dengan berbagai bentuk potongan. Semuanya kami lakukan demi mengabadikan momen yang tek terbelikan itu. Dari tribun kehormatan nama kami dipanggil diikuti sematan Sarjana Sains Terapan (SST) di belakangnya. Sematan gelar sarjana terapan yang diraih melalui pendidikan lintas jenjang Program Pendidikan Profesi Guru, membangkitkan semangat kami untuk terus maju bersama mencerdaskan bangsa.

“Goresan Kisah Yang Terlahir Dari Panggilan Profesi”



Episode 01. Terpilih dari tim penguji yang terpilih

Anak NTT. Itulah sebutan yang sering melekat dalam diri kami. Kami memang anak-anak dari daerah kepulauan. Nusa Tenggara Timur (NTT) nama propinsinya. Propinsi dengan berjuta kekayaan bahasa, suku, adat dan budaya. Deskripsi keanekaragaman namun tetap satu yang tercermin dalam semangat Bhineka Tunggal Ika. 

Kami Bersatu dalam perbedaan. Sesungguhnya itulah semangat kami. Kami Terlahir dari daerah yang berbeda namum memiliki lokasi mimpi yang sama yakni mimpi yang setinggi langgit. Kami berasal dari Pulau Timor (Kota Kupang, Kupang, Timor Tengah Selatan dan Belu. Kami juga berasal dari Pulau Flores (Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, Nagekeo dan Ende), dan juga dari Pulau Rote. Ini tentang latar belakang asal kami. Bukannya membangkitkan semangat primordialsme. Ini hanyalah desiran angin timur membangunkan tanah Flobamora dari keterbelakangan pendidikan yang melanda.   

Kami tidak memungkiri, bahwa daerah kami memang dikenal masih terbelakang dari aspek pendidikan. Kami berani mengatakan bahwa yang terbelakang bukanlah potensi akademik manusianya, melainkan sarana pendukung pengembangan potensi tersebut. Keterbatasan sekolah dan guru serta teknologi informasi dalam bidang pendidikan yang belum tersebar merata masih menjadi kendala. Memang begitulah realita yang sudah menjadi dinamika berlarut-larut di daerah kami. Harapan tentunya adalah semangat pembaharuan dari kaum muda serta dukungan dan  perhatian dari pemerintah dalam aspek pendidikan. 

Melanjutkan pendidikan dengan memperoleh beasiswa dari pemerintah adalah mimpi yang didambakan oleh siapapun. Apalagi bila mimpi itu dapat menjadi kenyataan. Ketika seseorang mendapatkan apa yang didambakannya, terkadang Ia tak percaya akan hal itu. Bayang-bayang pepatah kuno, “bagai mimpi di siang bolong” selalu menjadi pertanyaan dibenaknya. Mungkin juga di antara kami ada yang berasumsi demikian ketika kami dinyatakan lulus pendidikan profesi guru, sehingga pepatah itu layak dilabelkan pada kami. Ataukah juga ada yang berasumsi bahwa kami termasuk orang yang beruntung pada saat itu? Ataukah kami sudah ditakdirkan dari “Sono”nya (baca: Tuhan) untuk masuk dalam lingkaran pendidikan profesi guru tersebut? Tentunya dibutuhkan suatu perefleksian yang mendalam untuk memaknai hal itu.

Terlepas dari itu, mari kita menilik pernyataan Charles Forbes berikut ini:” Kesempatan jarang sekali mengetuk pintu anda, karena itu ketuklah pintu kesempatan jika anda benar-benar ingin masuk”. Pernyataan Forbes tersebut memberikan suatu perefleksian yang mendalam bagi kita. Pastinya, kami sudah mengetuk pintu itu dan kini pintu kesempatan itu sudah dibukakan bagi kami.  Kami sudah masuk dan tinggal dalam rumah kesempatan itu.
Kami adalah alumni peserta Program Pendidikan Profesi Guru SMK Kolabotarif (PPGT SMK SM-3T) tahun ajaran 2012-2013. Program ini merupakan program Indonesia Mengajar di bawah naungan kementerian pendidikan tinggi (Dikti). Dikti menyerahkan tanggungjawab program ini kepada Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sebagai program integratif dan kolabrotatif antara pendidikan dan pertanian, maka UNY menggandeng kampus Politeknik Pertanian (POLITANI) Negeri Kupang.
Kami memang berlatar belakang pendidikan vokasi bidang pertanian. Politani adalah almamater kami. Tidak satupun di antara kami memiliki dasar pengetahuan tentang kompetensi pendidikan keguruan. Kerja keras, komitmen dan rasa percaya diri sebagai modal dasar kami menembus pintu kesempatan itu. 

Kami terseleksi dari total 84 peserta tes. Kami berjumlah 30 orang. Sebanyak 18 putera dan 12 puteri. Seperti pada tes-tes umum lainnya, tahapan tes yang cukup panjang dan rumit menjadi tantangan bagi kami saat itu. Ada yang mengatakan tes itu syarat Nepotisme. Tetapi hal itu tidaklah benar. Kami didaulat lulus murni. Itulah yang dikatan hampir semua orang di kampus.  Kami pun bangga sebab kami di pilih oleh tim penguji yang terpilih dari UNY.

written by
Hendrikus Ch. M. Enge, SST.,Gr
Januari, 2013

Minggu, 24 Agustus 2014

Meriah bumi perkemahan dibalik selimut udara dingin Golowelu

Golowelu, 13/08/2013 
Meriah bumi perkemahan pramuka 2013 di lapangan Kecamatan Golowelu diawali dengan apel pembukaan pada rabu, 13/08/2013. Kira-kira pukul 16.30 wita apel pembukaan dimulai. Semua Gudep (gugus depan) pramuka dari setiap satuan pendidikan sekecamatan kuwus hadir dalam memeriahkan HUT pramuka yang ke 53 tersebut. Bertindak sebagai Pinru (Pemimpin regu utama) adalah Kak Wili Djaedi dan pembina upacara adalah Kak Silvester Baeng. Dalam arahan pembina upacara Kak Silvester Baeng mengatakan bahwa "Pramuka merupakan bagian urgen dalam implementasi Kurikulum 2013. Semangat persaudaraan adalah bagian dari kepramukaan. Lebih lanjut ketua Kwaran pramuka Kecamatan Kuwus tersebut menekankan bahwa setiap anggota pramuka  wajib menjunjung persaudaraan melalui bumi perkemahan ini. Meski dari berbagai gugus yang berbeda-beda tetapi disini di bumi perkemahan pramuka, semuanya adalah satu yakni pramuka Indonesia", tutupnya.
Dari 37 Gudep yang terdapat di Kwaran Kuwus sebayak 30 Gudep yang berpartisipasi dalam bumi perkemahan pramuka. Kurang lebih jumlah peserta secara kesuruhan adalah enam ratusan anggota dari tingkat pramuka siaga, penggalang dan penegak, tidak termasuk para pembina, tutur salah satu pembina pramuka yang tidak mau dipublikasikan namanya.  
Selepas apel pembukaan pramuka, masing-masing gudep kembali ke tenda masing-masing. Berdasarkan informasi yang diperoleh penulis, acara atraksi hiburan malam pramuka dari tiap-tiap gugus tidak jadi diselenggarakan. Hal ini dikarenakan suhu udara di lokasi yang sangat dingin.
Suhu udara yang sangat dingin di malam hari disertai angin kencang menyulitkan bagi panitia dalam menjalankan beberapa agenda kegiatan pramuka. Tidak banyak yang dilakukan tiap Gudep Pramuka disaat malam hari selain hanya tingal dan berdiam dan mendengarkan musik didalam dan disekitar tenda masing-masing.
Penulis
Hendrikus Ch. Mbelo Enge, SST.,Gr