Kamis, 25 Oktober 2018

"Derita di ujung Logika"


"Derita di ujung Logika"


Saya sadari semestinya memang kita harus rasional. Apalagi berkaitan dengan rasa dalam hati yang mulai menguasai kita. Memang, kadang kala pilihan itu sulit. Apalagi jika kita dihadapkan dengan pilihan antara melawan atau menuruti suara yang sama-sama bersumber dari hati.

Saya juga menyadari kadangkala perbedaan itu tak selamanya indah. Meski kebanyakan orang mengatakan itu adalah anugerah.
Kita memang tidaklah sama dan memang dilahirkan dari sebuah perbedaan. Tapi, benarkah itu adalah masalah dalam menjalin asmara?
Saya memang bagian terkecil dalam lingkunganmu, karena keyakinan kita berbeda. Tapi, benarkah itu juga sebuah masalah?

Ahhh.,,tidak apalah saya sungguh memahami itu dan mungkin juga kita memiliki konsep yang berbeda dalam hal ini. Biarkan sang Pemilik Jagad ini yang menentukan dengan cara-Nya sendiri yang sulit kita mengerti.

Saya tidaklah sanggup mencari solusi dari masalah itu. Mungkin itu jadi bagian dalam perefleksian saya nanti dan mungkin juga kamu.

Goresan dilema hati yang engkau tunjukan menyadari saya bagaimana seharusnya logika itu harus sejalan dengan rasa. Juga Bagaimana kita perlu mempertimbangkan keluarga dan keyakinan dalam merajut kasih. Dan Saya hanya bisa tertunduk karena itu, dikala rasa sayang ini semakin menggila kepadamu.

Terimakasi, engkau telah tunjukan perasaanmu bahwa apa yang saya rasa bukanlah sekedar halusinasi saja. Jujur, sesungguhnya saya juga senang ternyata kita sama-sama merasa nyaman ketika bersama.

Saya juga tidak bisa pungkiri jika memang saat ini saya sedang berpijak pada derita diujung logika karena cinta dan sayang ini hadir dalam sebuah perbedaan.

...........👀    👀👀    ..........
#by Hence at Messderita
#20-03-2016


0 komentar:

Posting Komentar