Dasar teori:
Tujuan seleksi
bibit adalah untuk meminimalkan jumlah bibit berkualitas buruk untuk dikirim
ke lapangan untuk ditanam dan untuk menjamin bahwa bibit yang ditanam
dilapangan menjadi tanaman yang produktif.
Seluruh bibit
yang tidak normal dan dapat menurunkan produksi di masa mendatang di afkir
dan dimusnakan. Jumlah total afkir sebaiknya 15-20% pada pembibitan yang
dikelola dengan baik yang menggunakan bahan tanam dari produsen kecambah yang
baik. Namun pada kondisi tertentu dapat lebih besar sampai 45% untuk
mendapatkan mutu bibit yang baik.
Bibit yang jelas
tidak sehat dan abnormal diberi tanda jelas untuk dibuang saat pemindahan
sebagai tindakan rutin aktivitas harian di pembibitan. Seleksi/pengafkiran
yang sesama bibit abnormal harus dilakukan pada saat pemindahan dari
pembibtan awal. Seleksi/pengafkiran pada pembibitan awal tidak melebihi 10%.
Bibit yang diafkir dimusnakan sehingga
bibit tersebut tidak menjadi sarang hama dan sumber inokulum penyakit.
Pada pembibitan
utama seleksi/pengafkiran dan penandaan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu, pada
3 bulan, 6 bulan dan saat sebelum pengafkiran ke lapangan. Bibit lebih dari
10 bulan sulit untuk diseleksi sampai pengangkutan untuk dipindahkan.
pengafkiran tidak melebihi 20% pada sistem 2 tahap dan 30% pada sistem satu
tahap.
Ciri atau tanda
bibit normal maupun tidak normal tanaman kelapa sawit yaitu dengan melakukan
pengamatan pada bagian vegetatif tanaman. bagian vegetatif itu di antaranya
adalah bagian batang, daun (pucuk/tajuk), dan ukuran atau tinggi bibit.
Bentuk-bentuk kelainan pada bibit yang dapat diamati di lapangan diantaranya:
|
Kelainan bibit
|
Deskripsi
|
Sebab
|
Tindakan
|
|
daun
berputar
|
Daun
baru melengkung atau berputar
|
Kecambah
ditanam tidak dengan benar/terbalik
|
Afkir
jika daun tetap terputar
|
|
colante
(daun berkerut/melipat)
|
Daun
bibit mengkerut dan melipat
|
Penyiraman
tidak teratur
|
Afkir
|
|
daun
alang-alang (narrow grass leaf)
|
Lamina
daun sempit seperti rumput atau alang-alang
|
Kelaian
genetis, stres air
|
Afkir
|
|
daun
keriput/berkerut
|
Daun
berbentuk tidak karuan oleh garis-garis melintang
|
Serangan
serangga, penanganan yang salah
|
Bibi
harus di afkir
|
|
daun
menggulung
|
Daun
menggulung tampak seperti tanduk
|
Kelaian
genetis, stres air
|
Afkir
|
|
Kerdil
|
Bibit
tampak normal namun pertumbuhan tetap terhambat dan kerdil
|
Kelaian
genetis
|
Yang
sangat kerdil diafkir
|
|
bibit
tegak (upright palm)
|
Daun
tumbuh pada sudut yang sempit terhadap batang, sering lebih tinggi terhadap
bibit lainnya
|
Kelaian
genetis
|
Afkir
seluruh bibit yang tegak
|
|
bibit
rata atas (flat top)
|
Daun
baru secara progresif tumbuh lebih pendek dan akhirnya tajuknya tampak rata
|
Kelaian
genetis
|
Afkir
|
|
anak
daun tidak pecah (juvenil form)
|
Anak
daun tidak membuka sampai bibit berumur 5-6 bulan
|
Kelaian
genetis
|
Afkir
|
|
internod
pendek
|
Jarak
antar anak daun dan rakhis yang pendek menjadikan bibit tampak mempunyai
daun yang pendek
|
Kelaian
genetis
|
Afkir
|
|
internod
lebar
|
Jarak
antar anak daun sangat lebar, bibit tampak sangat terbuka
|
Kelaian
genetis
|
Afkir
|
|
anak
daun sempit
|
Daun
sempit dan menggulung, sudut daun sempit pada rakhis
|
Kelaian
genetis
|
Afkir
|
|
bibit
raksasa
|
Dasar
pelepah besar dan keputihan, tanaman sangat besar, tajuk tegak pada umur
6-8 bulan
|
Kelaian
genetis
|
Afkir
|
|
Khimera
|
Daun
bergaris dengan berwarna keputihan
|
Kekurangan
klorofil
|
Afkir
|
|
bibit
sakit
|
Umumnya
penyakit tajuk, daun muda berputar/membengkok
|
Kelaian
genetis
|
Afkir
|
|
kerusakan
tajuk (crown disease) dan scorched (pucuk terbakar)
|
Terjadi
pada tajuk bibit
|
kerusakan
akibat herbisida
|
Afkir
|
Bahan dan alat:
a. Bahan
a. Bibit tanaman kelapa sawit di persemaian
b. Cat (merah, biru)
c. Kuas
b. Alat
a. Parang
b. Arit
Keselamatan kerja
(K3LH):
a. Pakailah
pakaian praktek lapangan
b. Gunakan
sepatu boot dan sarung tangan selama praktik
c. Gunakan
peralatan praktik seperti parang dengan hati-hati agar tidak sampai melukai
badan
Prosedur:
a. Bentuklah
kelompok kerja yang beranggotakan 4-5 orang
b. Siapkan alat dan bahan praktik masing-masing kelompok
c. Periksa dan perhatikan bibit setiap baris untuk melihat bibit yang
kurang normal
d. Beri tanda pada bibit yang abnormal dengan cat biru pada satu sisi
polibag
e. Setelah penandaan pertama dan sensus selesai, lakukan pemeriksaan awal
untuk memastikan pemeriksaan awal telah dilakukan dengan benar.
f. Prosedur di atas harus dilakukan ulang 8 minggu kemudian (sekitar 24
minggu setelah ditanam dalam polibag).
g. Lakukan pemeriksaan berikutnya dengan berjalan dari arah yang
berlawanan sehingga tidak melihat tanda cat biru.
h. Bibit yang abnormal diberi tanda cat merah pada arah sebaliknya
i. Setelah penandaan kedua dan sensus dilakukan, lakukan pemeriksaan kedua
untuk memastikan bahwa seleksi kedua telah dilakukan dengan baik
j. Bibit dengan cat biru dan merah sudah pasti diafkir
k. Tiga minggu sebelum pemindahan ke lapangan dilakukan pemeriksaan semua
bibit dengan dua tanda
 |
| Bibit yang telah
diseleksi/afkir dimusnakan |
 |
| Musnakan
seluruh bibit afkir | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
Catatan lain:
a. penandaan
pertama cat biru : 3-4 bulan
b. penandaan
kedua cat merah : 6-7 bulan
c. seleksi/pengafkiran : saat pengangkutan bibit ke
lapangan
|
0 komentar:
Posting Komentar