RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(
RPP )
|
Satuan
pendidikan
|
:
|
SMK
Negeri 1 Muara Wahau
|
|
Bidang
Studi Keahlian
|
:
|
Agribisnis
dan agroteknologi
|
|
Program
Studi Keahlian
|
:
|
Agribisnis Produksi Perkebunan
|
|
Kompetensi
keahlian
|
:
|
Agribisnis
Tanaman Perkebunan
|
|
Mata
pelajaran
|
:
|
Kompetensi
Kejuruan Agribisnis Tanaman Perkebunan
|
|
Kelas/Semester
|
:
|
XI/1
|
|
Alokasi
waktu
|
:
|
3
x 45 Menit Pelajaran
|
|
Kode
kompetensi
|
:
|
|
|
KKM
|
:
|
70
|
|
Standar
kompetensi
|
:
|
Mengendalikan
hama pada tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM)
|
|
Kompetensi
dasar
|
:
|
4.
Mengidentifikasi metode pengendalian hama
|
|
Indikator
Pencapaian Kompetensi:
A.
Kognitif
1.
Berbagai
metoda/cara pengendalian hama dideskripsikan berdasarkan perlakuannya
2.
Faktor yang
perlu dipertimbangkan sebelum memilih metode pengendalian hama dijelaskan
B.
Afektif
Rasa ingin
tahu dimiliki peserta didik dalam mempelajari kompetensi ini.
C.
Psikomotor
Metoda/cara pengendalian hama diidentifikasi berdasarkan potensi
yang ada
|
||
I. Tujuan akhir pembelajaran/TPO
Setelah mengikuti pembelajaran ini siswa
diharapkan mampu melakukan tindakan pengendalian hama pada tanaman perkebunan
II. Tujuan
Antara/Enabling Objective (EO)
A.
Kognitif
Setelah mengikuti pembelajaran ini siswa
diharapkan mampu:
1.
mendeskripsikan berbagai metoda/cara
pengendalian hama berdasarkan perlakuannya dengan benar
2.
menjelaskan faktor yang perlu
dipertimbangkan sebelum memilih metode pengendalian hama dengan benar
B.
Afektif
Siswa diharapkan
memiliki rasa ingin tahu dalam mempelajari kompetensi ini
C.
Psikomotor
Setelah mengikuti pembelajaran ini siswa
diharapkan mampu mengidentifikasi metode/cara pengendalian hama berdasarkan
potensi yang ada dengan bijaksana
III.
Materi Pembelajaran
Metoda
pengendalian hama
Metode Pengendalian Hama Menurut Konsep PHT
Metode
pengendalian hama menurut konsep PHT adalah memadukan semua metode pengendalian
hama sedemikian rupa, termasuk didalamnya pengendalian secara fisik,
pengendalian mekanik, pengendalian secara bercocok tanam (kultur teknis),
pengendalian secara biologi atau hayati dan pengendalian kimiawi sebagai
alternatif terakhir, untuk menurunkan dan mempertahankan populasi organisme
pengganggu di bawah batas Ambang Ekonomi, menstabilkan produksi dan menjaga
keseimbangan ekosistem.
Secara
umum, berbagai metode pengendalian hama
dapat diuraikan sebagai berikut:
1)
Pengendalian
secara bercocok tanam (kultur teknis)
Pengendalian
hama secara bercocok tanam yaitu pengendalian hama dengan cara mengelola lingkungan atau ekossistem
sedemikian rupa sehingga ekosistem tersebut menjadi kurang cocok bagi kehidupan
dan perkembangbiakan hama,
hal ini dapat mengurangi laju peningkatan populasi dan kerusakan tanaman.
Teknik
pengendalian secara bercocok tanam dapat dilakukan dengan cara, antara lain:
a) Melakukan sanitasi
(pembersihan) dengan cara pembenaman atau pembakaran. Sanitasi dilakukan untuk
merubah lingkungan/ekosistem sedemikian rupa menjadi tidak sesuai bagi
perkembangan hidup hama sehingga dapat mengurangi laju peningkatan populasi dan
ketahanan hidup hama.
Sanitasi dilakukan terhadap:
□ Sisa-sisa tanaman
yang masih hidup seperti tunggul-tunggul padi
□ Tanaman atau
bagian tanaman yang terserang hama
□ Sisa-sisa tanaman
yang sudah mati
□ Jenis tanaman lain
yang dapat menjadi inang pengganti
□ Sisa-sisa bagian
tanaman yang jatuh atau tertinggal di permukaan tanah, seperti buah dan daun
b) Pengerjaan tanah
atau pengolahan lahan
Pengolahan lahan dapat dilakukan
sedemikian rupa sehingga:
□ Dapat menghambat
pertumbuhan populasi hama atau membunuh langsung hama yang hidup dalam tanah
□ Dapat mematikan
gulma dan sisa-sisa tanaman yang mungkin menjadi tempat berteduh atau tempat
hidup hama sementara
□ Dapat membunuh
telur, larva, pupa hama yang diletakkan dalam tanah
c) Pengelolaan air
Pengelolaan air antara lain melalui sistem irigasi dan
drainase dapat digunakan untuk mengendalikan hama yang ada dalam tanah atau di permukaan
tanah. Contoh, penggenangan sawah dalam beberapa hari setelah panen dapat
dilakukan untuk mematikan larva hama penggerek
batang padi (Scirpophaga innotata)
yang sedang berdiapause atau istirahat di dalam batang sisa-sisa tanaman padi,
juga dapat digunakan untuk mengendalikan hama
uret atau lundi (Phyllophaga helleri).
Informasi tentang pengelolaan air yang benar terdapat
pada modul Mengelola Sumber Daya Air.
d) Pergiliran tanaman
(rotasi tanaman)
Rotasi tanaman adalah menanam suatu lahan pada musim
yang berbeda dengan jenis tanaman yang bukan inang hama yang menyerang tanaman yang ditanam pada
musim sebelumnya. Contoh, jika pada musim sebelumnya ditanam padi, pada lahan
yang sama dianjurkan musim berikutnya ditanami palawija, musim berikutnya lagi
ditanami padi. Tujuan rotasi tanaman adalah untuk memutuskan kesinambungan
tersedianya makanan bagi hama
pada suatu tempat.
e) Pemberaan lahan
Tujuan pemberaan lahan untuk mengosongkan lahan
sehingga hama tidak menjumpai makanan yang
sesuai, sehingga populasi hama
menurun dan kurang membahayakan bagi pertanaman yang akan ditanam berikutnya.
f) Penanaman serentak
Penanaman serentak dianjurkan dilakukan pada suatu
hamparan yang sama, dimaksudkan agar tersedianya makanan yang sesuai bagi hama menjadi lebih pendek dan suatu saat saat akan terjadi
periode tidak ada pertanaman sehingga perkembangan populasi hama dapat dihambat.
g) Pengaturan jarak
tanam
Jarak tanam dapat menguntungkan perkembangbiakan
hama-hama tertentu, tetapi juga dapat merugikan bagi perkembangbiakan jenis hama yang lain. Tumpang
tindih antara dedaunan satu tanaman dengan tanaman yang berdekatan dapat
menguntungkan gerakan dan kolonisasi serangga tertentu pada habitat tertentu.
Oleh karena itu, secara tidak langsung jarak tanam dapat mempengaruhi besarnya
intensitas hama. Pengaturan jarak tanam dapat dilakukan
sedemikian rupa untuk mengganggu atau mengurangi ketersediaan makanan bagi hama antar ruang untuk
waktu yang sama.
h) Menghalangi
peletakan telur
Telur hama
seringkali diletakkan pada bagian tanaman tertentu yang nantinya menjadi makana
bagi instar nimfa atau larva. Peletakkan telur dapat kita halangi sedemikian
rupa agar tidak memungkinkan bagi serangga meletakkan telurnya dengan baik dan
hal ini dapat mengurangi laju peningkatan populasi hama berikutnya. Contoh, dengan pemberian
serasah, jerami atau mulsa plastik pada kedelai yang baru ditanami dapat
menghalangi hama
lalat kacang (Ophiomya phaseoli)
dalam peletakkan telur. Contoh lain, pemblongsongan buah seperti mangga,
belimbing, dan lain-lain dapat digunakan untuk menghalangi hama lalat buah dalam peletakkan telur.
2)
Pengendalian
secara Fisik dan Mekanik
Pengendalian secara fisik dan mekanik merupakan
tindakan yang kita lakukan dengan tujuan secara langsung dan tidak langsung
untuk: (1) mematikan hama; (2) mengganggu
aktivitas fisiologi hama; (3) mengubah
lingkungan sedemikian rupa sehingga lingkungan menjadi kurang sesuai bagi
kehidupan hama.
a)
Pengendalian fisik
Pengendalian fisik adalah pengendalian hama dengan cara mengubah faktor lingkungan fisik
sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan kematian pada hama dan mengurangi populasinya.
Beberapa
perlakukan yang termasuk dalam pengendalian fisik, antara lain:
□
Pemanasan dengan suhu tinggi > 450C
□
Pembakaran
□
Pendinginan dengan suhu rendah < 50C
□
Pengeringan
□
Lampu perangkap, misal menggunakan lampu petromaks
untuk mengumpulkan ngengat penggerek
□
Penggunaan gelombang suara untuk menarik pasangannya,
mengumpulkannya dan kemudian mengendalikannya. Contoh, rekaman dari suara
tonggeret atau jangkrik digunakan untuk menarik pasangannya, setelah serangga
mengumpul kita kendalikan
□
Penghalang untuk menghalangi atau membatasi pergerakan
serangga hama atau mencegah serangga hama mendekati tanaman
b)
Pengendalian mekanik
Pengendalian secara mekanik adalah tindakan yang
dilakukan dengan tujuan untuk mematikan atau memindahkan hama secara langsung, baik dengan tangan atau
dengan bantuan alat dan bahan lain.
Beberapa tindakan
yang termasuk dalam pengendalian mekanik, antara lain:
□ Pengambilan dengan
tangan
Contoh dalam pengumpulan fase hidup hama yang mudah
ditemukan, seperti telur, larva, atau pupa, juga terhadap bagian-bagian tanaman
yang terserang.
□
Gropyokan
Gropyokan biasanya dilakukan untuk mengendalikan hama
tikus, yaitu dengan membunuh tikus, baik yang berada di liang maupun yang
sedang berada di luar sarang. Tikus dibunuh secara langsung dengan menggunakan
alat bantu seperti cangkul atau alat pemukul.
□
Memasang perangkap
Serangga hama dapat diperangkap dengan berbagai jenis
alat perangkap yang dibuat sesuai dengan jenis hama dan fase hama yang akan
ditangkap. Alat perangkap dibuat sedemikian rupa untuk menarik, meletakkan atau
membunuh hama.
□
Pengusiran
Teknik pengusiran adalah mengusir hama yang sedang
berada di pertanaman atau yang sedang menuju ke pertanaman. Contoh, pemasangan
bebegig di tengah sawah di pasang untuk mengusir hama burung dari pertanaman
padi.
3)
Pengendalian
Hayati atau Biologi
Pengendalian hayati atau biologi pada
dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan
populasi hama yang merugikan. Musuh alami adalah organisme yang dapat menyerang
serangga hama. Dilihat dari fungsinya, musuh alami dikelompokkan menjadi
parasitoid, predator dan patogen.
a.
Parasitoid atau Parasit
Parasit adalah binatang yang hidup di atas
atau di dalam binatang lain yang lebih besar yang merupakan inangnya. Parasit
memakan atau mengisap cairan tubuh inangnya sehingga dapat melemahkan dan
akhirnya dapat membunuh inangnya. Fase hidup parasit
biasanya sama dengan fase hidup inangnya. Contoh, parasitoid hama
ganjur (Platygaster oryzae)
meletakkan telurnya di dalam telur hama ganjur,
pada saat telur hama menetas, telur parasitoid
itu terbawa dalam larva hama.
Telur parasit menetas menjadi larva, kemudian larva hidup dan berkembang dengan
mengisap cairan inangnya sehingga inang menjadi lemah dan jika larva instar
terakhir parasit keluar dari inang untuk membentuk kokon, akhirnya inang mati,
kemudian imago parasit akan muncul dari kokon.
b.
Predator
Predator adalah organisme yang hidup bebas
dengan memakan atau memangsa binatang lainnya. Predator adalah binatang yang
tergolong pemakan daging (karnivora) dan pemakan segala (omnivora).
Individu yang memangsa disebut predator,
sedangkan yang dimakan disebut mangsa. Mangsa inilah yang merupakan binatang
herbivora sebagai hama
pengganggu tanaman budidaya. Beberapa jenis predator yang dapat digunakan
adalah:
□
Predator hama tikus
Predator hama tikus antara lain ular sawah, burung
hantu, kucing, elang, dan anjing.
□
Predator hama
ulat
Predator hama ulat adalah burung pemakan ulat,
diantaranya burung poksya, burung murai, dan lain-lain.
□ Predator hama
serangga
Predator hama serangga diantaranya:
o dari jenis reptil:
katak sawah, katak pohon, cecak dan kadal
o dari jenis serangga:
laba-laba, belalang sembah, capung, beberapa jenis kumbang dan kepik
c.
Patogen
Patogen adalah mikroorganisme yang dapat
menyebabkan penyakit pada hama. Patogen yang dapat menyerang serangga hama
adalah bakteri, virus dan cendawan. Beberapa contoh patogen yang sudah diteliti
dan terbukti dapat dimanfaatkan dalam pengendalian hama adalah sebagai berikut:
□ Bakteri
Bakteri Bacillus
thuringiensis merupakan salah satu bakteri yang dapat menyebabkan penyakit
pada serangga secara umum, termasuk serangga dari Ordo Lepidoptera,
Hymenoptera, Diptera dan Coleoptera. Bakteri ini telah terbukti efektif untuk
pengendalian ulat kubis (Plutella
xylostella), ulat tanaman kedelai (Heliothis
sp.), ulat tanaman jagung (Spodoptera
litura).
□ Virus
Virus yang telah
diteliti dan dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama adalah virus Baculovirus oryctes yang dapat menyerang
kumbang kelapa Oryctes rhinoceros.
□ Cendawan
Cendawan yang telah teruji dapat menyebabkan penyakit
pada hama adalah cendawan Metarrhizium
anosipliae yang merupakan patogen bagi larva kumbang kelapa Oryctes rhinoceros.
4)
Pengendalian
Kimiawi
Pengendalian kimiawi adalah pengendalian
OPT dengan menggunakan pestisida. Pestisida pada umumnya dianggap oleh
masyarakat sebagai insektisida, padahal insektisida termasuk dalam kelompok
pestisida.
Pestisida biasanya tidak digunakan dalam
bentuk murni, tetapi dibuat formulasi dengan maksud untuk memperbaiki keamanan,
penyimpanan penanganan, aplikasi dan efektivitasnya.
Memilih dan
Menentukan Metode Pengendalian Hama
Ada berbagai faktor yang harus dipertimbangkan dulu
sebelum memilih dan menentukan metode pengendalian hama yang tepat. Adapun proses pemilihan dan
penentuan metode pengendalian hama,
yaitu:
1) Identifiaksi hama
yaitu meneliti dengan seksama spesies hama
dan gejala kerusakannya yang terlihat di lapangan.
2) Gunakan teknik
pengambilan sampel untuk menghitung populasi hama dan tingkat kerusakannya, apakah masih
di bawah Ambang Ekonomi atau sudah melebihi batas Ambang Ekonomi.
3) Sebelum
menggunakan pestisida, pertimbangkan cara pengendalian lain. Lakukan pengendalian
dengan cara non kimia dulu, bisa dengan cara fisik atau mekanik/ dengan cara
bercocok tanam/dengan menggunakan musuh alami selama dapat menurunkan populasi hama di bawah batas Ambang
Ekonomi. Pestisida digunakan sebagai alternatif terakhir terakhir, yaitu hanya
bila cara pengendalian lainnya tidak dapat menurunkan atau mempertahankan
populasi hama
di bawah batas Ambang Ekonomi.
4) Jika harus
menggunakan pestisida, pilihlah pestisida yang efektif terhadap sasaran hama,
tidak mengakibatkan kerusakan pada tanaman, tidak mengakibatkan kematian
terhadap musuh alami, tidak membahayakan manusia, ternak dan ikan, selain itu
formulasinya harus tepat untuk peralatan yang akan digunakan.
IV.
Metode Pembelajaran
Learning
starts with a question
V.
Langkah-langkah
Pembelajaran
|
No
|
Kegiatan Guru
|
Kegiatan
Peserta Didik
|
Pengorganisasian
|
|
|
Peserta
|
Alokasi Waktu
|
|||
|
1.
|
A. Kegiatan Awal/Pembukaan
a)
Mengecek kehadiran dan kesiapan siswa
b)
Menyampaikan SK, KD dan indikator pencapaian
c)
Menginformasikan tujuan pokok materi pembelajaran
d)
Memberikan apersepsi,dsb
|
·
Menjawab
salam
·
Menata
ruang
·
dan sebagainya
|
K
|
.........
|
|
2.
|
B. Kegiatan Inti
Eksplorasi
Menjelaskan
secara singkat tentang materi pokok untuk menghantar siswa pada materi pokok
pelajaran
|
·
Duduk di
tempat masing-masing
·
dan sebaginya
|
|
|
|
Elaborasi
Guru
menyampaikan tahapan metode pembelajaran yang digunakan
a)
Pilih bacaan yang sesuai kemudian bagikan kepada
siswa. Bacaan sebaiknya berpeluang untuk ditafsir berbeda-beda
b)
Jika waktu memungkinkan gabungkan pasangan belajar
dengan pasangan yang lain, kemudian minta mereka untuk membahas point-point
yang tidak diketahui yang telah diberi tanda.
c)
Kumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang telah
dituliskan oleh siswa
d)
Sampaikan pelajaran dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
tersebut
|
· Siswa secara
mandiri/bersama teman membaca bacaan dan memberi tanda bagian yang tidak
dipahami
· dan sebagainya
|
KL
|
.........
|
|
|
Konfirmasi
a)
Guru menanamkan konsep/materi sesuai dengan
kompetensi yang ingin dicapai
b)
Memfasilitasi kegiatan refleksi hasil observasi
siswa terhadap pemahaman fakta, konsep, prinsip dan prosedur hasil
identifikasi, dan sebagainya
|
· Melakukan
refleksi terhadap pengalaman belajarnya
· dan sebagainya
|
K
|
..........
|
|
|
3.
|
C. Kegiatan
Akhir/Penutup
a)
Membantu siswa untuk membuat simpulan pembelajaran
b)
Memberikan evaluasi formatif
c)
dan sebagainya
|
·
Menyimpulkan
hasil pembelajaran
·
dan sebagainya
|
I
|
|
|
Jumlah
|
.........
|
|||
Keterangan :
K : Klasikal, I : Individual, KL : Kelompok
VI. Sumber Belajar
A.
Alat
·
Spidol
·
White
board
·
Infokus
·
dan sebagainya
B. Bahan
·
Modul mengendalikan
hama
·
LKS
·
Jobsheet
·
dan sebagainya
C.
Sumber Belajar
·
Suharto.
2007. Pengenalan dan Pengendalian Hama Tanaman Pangan. ANDI: Yogyakarta
·
dan sebagainya (sumber belajar berupa daftar pustaka dengan tata
penulisan sesuai kaidah yang telah ditentukan).
VII.Penilaian
A.
Kognitif
a.
Teknik
penilaian : Tertulis
b.
Bentuk
instrumen : Uraian
c.
Instrumen
penilaian :
|
No.
|
Butir
Soal
|
Skor
|
|
1.
|
Jelaskan metode pengendalian
hama tanaman secara hayati/biologi
Kunci Jawaban :
Pengendalian hayati atau biologi pada
dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan
populasi hama yang merugikan. Musuh alami adalah organisme yang dapat
menyerang serangga hama. Dilihat dari fungsinya, musuh alami dikelompokkan
menjadi parasitoid, predator dan patogen.
|
3
|
|
|
Jelaskan
faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih metode pengendalian hama!
Kunci
Jawaban :
1) Identifiaksi
hama
yaitu meneliti
dengan seksama spesies hama dan gejala kerusakannya yang terlihat di
lapangan.
2) Gunakan teknik
pengambilan sampel untuk menghitung populasi hama dan tingkat kerusakannya, apakah masih
di bawah Ambang Ekonomi atau sudah melebihi batas Ambang Ekonomi.
3)
Sebelum menggunakan pestisida, pertimbangkan cara
pengendalian lain. Lakukan pengendalian dengan cara non kimia dulu, bisa
dengan cara fisik atau mekanik/ dengan cara bercocok tanam/dengan menggunakan
musuh alami selama dapat menurunkan populasi hama di bawah batas Ambang Ekonomi
4)
Jika harus menggunakan pestisida, pilihlah pestisida
yang efektif terhadap sasaran hama, tidak mengakibatkan kerusakan pada
tanaman, tidak mengakibatkan kematian terhadap musuh alami, tidak
membahayakan
|
3
|
|
Skor
Total
|
6
|
|
d.
Rubrik
penilaian
|
No
|
Aspek yang
dinilai
|
Skor
|
∑ skor
|
|
|
1
|
1
|
1. Substansi
jawaban sesuai kunci jawaban
2. Alur
tulisan mudah dipahami
3. Jawaban
berstruktur
|
3
|
3
|
|
2
|
1. Substansi
jawaban kurang sesuai kunci jawaban
2. Alur
tulisan kurang dipahami
3. Jawaban
kurang berstruktur
|
2
|
||
|
3
|
1. Substansi
jawaban tidak sesuai kunci jawaban
2. Alur
tulisan tidak dipahami
3. Jawaban
tidak berstruktur
|
1
|
||
|
Total skor
|
|
3
|
||
e.
Perhitungan
Skor Akhir
B.
Penilaian Nilai
Karakter Bangsa (afektif)
a.
Petunjuk
penilaian:
b.
Berilah
penilaian pada siswa dikelas dengan melihat aspek rasa ingin tahu siswa
terhadap materi yang dipelajari
c.
Berilah
tanda cek (√) pada kolom yang sesuai dengan kondisi siswa tersebut menurut
pengamatan saudara pada dirinya.
d.
Kriteria
pemberian skor adalah sebagai berikut:
Skor 1= bila kriteria tidak terlihat
dalam diri peserta didik
Skor 2= bila kriteria kadang terlihat
dalam diri peserta didik
Skor 3= bila kriteria terlihat dalam
diri peserta didik
Skor 4= bila kriteria selalu terlihat
dalam diri peserta didik
e. Lakukan
skoring dan penjumlahan nilai untuk masing-masing butir pengamatan. Dan
hitunglah jumlah nilai total keempat dimensi indikator secara keseluruhan.
No
|
Nama siswa
|
Aspek rasa ingin tahu
|
||||||||
|
Bertanya
|
Berpendapat
|
∑
Skor
|
||||||||
|
4
|
3
|
2
|
1
|
4
|
3
|
2
|
1
|
|
||
|
1
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
12
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
13
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
14
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
15
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
16
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
17
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
18
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
19
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
20
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
21
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
22
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
23
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
24
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
25
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
26
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
f.
Perhitungan
skor
Skor
tertinggi = 12
Skor
terendah = 3
Range = 9
Kelas = 4
Interval = 2,25
Kategorisasi
skoring:
|
Skor
|
Kategori
|
|
3 – 5,25
>5,25
– 7,50
>7,50
– 9,75
>9,75
|
: Siswa memiliki rasa ingin
tahu yang rendah
: Siswa memiliki rasa ingin
tahu yang sedang
: Siswa memiliki rasa ingin
tahu yang tinggi
: Siswa memiliki rasa ingin
tahu yang sangat tinggi
|
C.
Penilaian
Psikomotor
Petunjuk
penilaian:
a.
Berilah
penilaian dengan mengobservasi kinerja siswa dalam kelompok kerja
b.
Berilah
tanda cek (√) pada kolom yang sesuai dengan kondisi kelompok tersebut menurut
pengamatan saudara pada dirinya.
c.
Kriteria
pemberian skor adalah sebagai berikut:
Skor
1= bila kriteria penilaian tidak terlihat dalam pekerjaan kelompok
Skor
2= bila kriteria penilaian terlihat dalam pekerjaan kelompok
d.
Lakukan skoring dan penjumlahan
nilai untuk masing-masing butir pengamatan. Dan hitunglah jumlah nilai total
keempat dimensi indikator secara keseluruhan.
e. Lembar
observasi kelompok
|
Kelompok :................
Ketua :................
Anggota :................
|
lokasi
praktik :..............
Hari/tanggal :..............
|
|
Kriteria
penilaian
|
Skor
|
|
|
2
|
1
|
|
|
|
|
|
f.
Perhitungan skor:
Muara
Wahau, September 2013
|
Guru
pamong/pembimbing
.................................................
NIP. 12521299009
|
Mahasiswa
PPL
Hendrikus
Charles Mbelo Enge, SST
NIM.
12521299009
|
Mengetahui,
Kepala sekolah
SMK Negeri 1 Muara Wahau
Ir.
Harmiyanto, MP
NIP.
196304192007 01 1 005







0 komentar:
Posting Komentar